Akhir-akhir ini kita pasti sering mendengar kata “krisis energi” atau “krisis listrik” entah itu di media massa ataupun dari obrolan-obrolan orang. Beberapa minggu terakhir memang PLN tidak bisa memasok kebutuhan energi negara ini. Akibatnya PLN harus melakukan pemadaman listrik secara bergilir dari daerah ke daerah. Pemadaman listrik secara bergilir ini pada akhirnya menyebabkan banyak kerugian. Kerugian yang paling jelas terjadi pada industri-industri karena mereka harus mengurangi jam produksi yang berarti menyusutkan hasil produksi.
Pemerintah pun mengkambing-hitamkan cuaca buruk. Pemerintah menyatakan bahwa pasokan batu bara ,yang menjadi bahan bakar utama pembangkit listirk PLN, terganggu karena kapal yang membawa batu bara tersebut tidak bisa berlayar yang disebabkan buruknya cuaca. Saya sendiri tidak bisa menerima alasan ini. Bukankah cuaca bisa diperkirakan? Bukankah kita punya badan metereologi dan geofisika? Alasan ini menurut saya terlalu dibuat-buat.
Akibat dari kurangnya pasokan listrik dari PLN, maka PLN-pun berusaha melakukan kampanye penghematan energi. Kita semua pasti sudah tahu program 17-22 yang sering kita dengar di televisi. Memang pada jam-jam tersebut beban sedang memuncak. Akan tetapi kampanye 17-22 saja ternyata belum cukup. Listrik yang harus dipasok PLN tetap relatif besar. PLN kembali memutar otak untuk mengkampanyekan penghematan energi. Program PLN terbaru dalam rangka penghematan energi adalah program insentif dan disinsentif.
Program ini sebenarnya bertujuan untuk menekan penggunaan listirk. Idenya adalah memberikan diskon (insentif) untuk mereka yang telah menghemat listrik dan memberikan denda (disinsentif) untuk mereka yang boros menggunakan listrik. Pelanggan dikatakan telah menghemat listrik jika pemakaian listrik perbulannya di bawah pemakaian listrik rata-rata nasional perbulan. Pelanggan yang tergolong telah menghemat listrik akan dikenakan tarif yang lebih murah dari biasanya. Sebaliknya, bagi pelanggan yang telah menggunakan listrik di atas rata-rata pemakaian listrik nasional akan dikenakan denda. Pelanggan dapat membayar listrik 60% lebih mahal. Program ini akan diberlakukan mulai bulan depan (april 2008).
Pada dasarnya saya sangat setuju dengan program ini yang pada intinya menghemat penggunaan listrik. Akan tetapi setelah saya menonton berita tadi pagi, saya mulai merasa aneh. Di berita yang saya tonton disebutkan bahwa ternyata sebagian besar pelanggan PLN menggunakan listrik di atas rata-rata nasional perbulannya. Awalnya saya pikir mereka pastilah orang kaya yang hidup di kota-kota besar. Pemakaian listrik yang besar mungkin adalah suatu kewajaran. Akan tetapi ternyata hal ini juga berlaku bagi saudara-saudara kita di pedalaman sana. Di sebuah pedalaman di Kalimantan, ada sebuah keluarga yang di rumahnya hanya ada sebuah televisi, dua kipas angin dan sebuah kulkas yang ternyata pemakaian listrik perbulannya juga selalu diatas nilai rata-rata yang ditetapkan pemerintah. Padahal menurut keluarga tersebut, peralatan listrik di rumah mereka tidak sepanjang hari digunakan.
Setelah saya pikir-pikir wajar saja jika nilai rata-rata penggunaan listrik nasional masih sangat rendah. Nilai Konsumsi listrik rata-rata nasional perbulan pastilah dihitung dengan cara total watt listrik terpakai selama satu bulan dibagi dengan jumlah penduduk Indonesia. Saat ini masih banyak penduduk Indonesia yang masih belum dapat menikmati listrik. Hal inilah yang membuat nilai konsumsi rata-rata tersebut sangat rendah.
Hal ini berarti hampir bisa dipastikan bahwa semua pelanggan PLN akan membayar tarif listirk lebih mahal bulan depan. Apa artinya? Lagi-lagi pemerintah memilih untuk mengorbankan masyarakat banyak. Program insentif dan disinsentif hanya akal-akalan pemerintah agar masyarakat Indonesia membayar listirk lebih mahal. Padahal menurut saya, rakyat banyak tidak pantas untuk menerima ini semua. Masalah krisis energi terjadi karena kesalahan pemerintah dalam mengurus negara ini, khususnya PLN. Ya, salah urus…!! Tapi ternyata rakyat banyak yang harus menanggung akibatnya. Sungguh tidak adil.
Terlebih lagi, di satu sisi ternyata kita banyak membuang-buang listirk. Mall misalnya. Bayangkan saja, berapa ribu watt yang dihabiskan dalam sebuah mall dalam satu hari? Bayangkan berapa banyak lampu-lampu dalam sebuah mall yang harus dinyalakan? Berapa banyak komputer dan perlatan listrik lainnya dalam sebuah mall? Apakah kegiatan yang dilakukan di mall adalah kegiatan-kegiatan yang produktif yang bisa memajukan bangsa? Dan bayangkan berapa banyak mall yang ada di Indonesia. Inilah yang namanya pemborosan sejati. Mengapa pemerintah tidak bisa melihat ini? Kenapa malah rakyat banyak yang dikorbakan? Kasihan rakyat kecil. Sudah pennghasilan kecil, malah dipersulit hidupnya. Sungguh tidak adil. Ah entahlah apa yang dipikirkan pemerintah.



7 Comments
March 10, 2008 at 2:16 am
stuju!!
kalo gw mikirnya buat ngehemat listrik, papan nama toko-toko yang dijalan yang nyala pas malem mendingan ada sensornya, kalo dalam radius 50 meter ada orang lewat papannya nyala. kan banyak papan begitu yang di tempat sepi ga guna kan kalo gada yang liat juga. itu ngadopsi dari cara yang dipake di erope
March 14, 2008 at 8:54 am
Saya sungguh sangat menyesalkan pendapat anda yang banyak didasarkan pada dugaan saja….(mohon ma’af – ketidaktahuan).
Mari buka hati & pikiran kita….
Saya bersedia berdiskusi jika bersedia….
Terima kasih….
March 14, 2008 at 9:13 am
@anya
wah boleh juga tuh idenya, tapi satu papan reklame pasti jadi mahal harganya
@budhi
mohon maaf klo saya kurang berdasar dalam berargumentasi, tulisan saya diatas murni hanya ungkapan perasaan saya, klo ada yang salah silahkan dikoreksi
salam kenal^^
March 15, 2008 at 1:25 am
Akar permasalahannya adalah penghematan energi listrik, alternatif solusi yang dibutuhkan, bukan dengan membuat program akal2an seperti itu…
1. Sudah ada batas pemakaian daya setiap rumah, pelanggan nggak mungkin pakai lebih dari itu, lalu apa gunanya pembatas daya yang terpasang?
2. Jika perhitungan yang digunakan dengan membagi jumlah penduduk sungguh merupakan suatu perhitungan yang menurut saya sangat bodoh. Tetapi jika dibagi dengan jumlah pelanggan baru namanya berhitung.
3. Banyak kantor pemerintah yang tidak disiplin, pemakaian listrik di instansi pemerintah cenderung boros dan tidak terkontrol, suruh mereka pulang tepat waktu yaitu jam 15.00 tepat, dan beri sanksi bagi kantor yang melanggar jam pulang, karena banyak yang merasa bangga kalau pulang malam (sungguh aneh), padahal jelas-jelas tindakan itu memboroskan listrik negara.
Saran: Penerapan insentif dan disinsentif diberlakukan hanya untuk industri,swasta,mall,pabrik,instansi/kantor pemerintah (karena merekalah pemboros energi terbesar di negeri ini) jadi BUKAN UNTUK PERUMAHAN BIASA.
March 15, 2008 at 4:18 pm
ayo dong hme…lewat bapak yang satu ini…bikin hegemoni penghematan listrik minimal di itb…mau pemerintah boong…mau kabar energi abis salah…tapi kalo kata gw si cap…hemat energi itu perlu…entah buat generasi 1000 tahun lai…atau jutaan tahun lg…
March 16, 2008 at 7:47 am
hemat energi emank perlu cap…
kan kebanyakan dari warga indonesia, blon optimal pemakaian energi nya. Masih banyak pemakaian yang tidak berguna…
dan hemat energi ini memang perlu juga karena bahan bakar fosil yang digunakan saat ini…
klo pake sel surya misalkan, kita malah harus ‘boros2′ dalam artian biar pemanfaatan energi dari matahari nya optimal.
March 16, 2008 at 9:41 am
@ adin_nda dan asyarief
sepakat penghematan listrik emang perlu, tapi pemerintah harus jeli untuk menentukan strategi penghematan