Budget Traveling at Thailand : Phuket, Antara Sunset dan Darah (Part. 5)

Hari ini perjalanan kami ke selatan dimulai. Pagi itu seperti biasa kami bangun pagi, mandi dan kemudian sarapan. Hal yang tidak biasa adalah saat itu hidung saya mulai meler. Ketahanan tubuh saya mulai drop. Dari kemaren kami jalan kaki terus, ke pasar, ke kuil-kuil ataupun di sekitar penginapan. Matahari Bangkok juga lagi terik-teriknya. Terlebih saya makannnya suka asal. Saya jadi ingat pesan mama yang untuk selalu tidak lupa makan sayur.

Jadwal keberangkatan bis kami adalah jam 8 malam, sementara kami sudah harus check out dari hostel sebelum jam 12 malam. Setelah makan, kami langsung check out dan kemudian langsung menuju stasiun. Kami menitipkan barang-barang kami di kantor travel agent tempat kami membeli tiket. Semua barang berharga kami bawa, dan kami kemudian kami pergi jalan-jalan untuk menghabiskan waktu.

Siang itu kami habiskan dengan kembali merencanakan perjalanan kami. Kami akan memasuki tempat baru : Phuket. Itu artinya kami kembali harus belajar dan mencari tahu tentang banyak hal. Berdasarkan informasi dari kitab suci kami, kami memilih tempat penginapan di Patong Beach. Diantara banyak tempat penginapan di Phuket, kami hanya pernah dengar nama Patong Beach.

Kami bahkan menyempatkan diri unruk ke warnet untuk melakukan panggilan telepon via YM dengan Ranti. Ranti adalah teman saya yang sedang berkuliah di Malaysia yang tadinya kami berenca untuk berkungjung ke tempatnya. Kebetulan Ranti pernah internship di Phuket selama beberapa bulan. Kami menanyakan banyak hal ke Ranti, transportasi, penginapan, harga, jadwal kapal, info makanan halal dan sebagainya. Kami juga mem-booking terlebih dahulu hostel yang akan kami tuju. Kami belajar dari pengalaman kehabisan kamar hostel ketika pertama kali datang ke Bangkok.

Jam 07.30 malam kami sudah sampai kembali ke stasiun. Kami singgah dahulu di mini market untuk membeli roti. Malam itu kami mengganti makan malam kami dengan membeli roti yang agak banyak. Saya sendiri membeli dua buah sandwich isi tuna, sebuah pie isi jagung, dan sebuah pancake. Bis nanti memang akan berhenti di tempat peristirahatan untuk makan malam, namun saya takut tempat makan nantinya tidak menjual makanan halal.

Kami naik ke sebuah bis double decker. Tingkat bawah adalah tempat bagasi, toilet dan kelas VIP. Kelas VIP tidak layaknya ruangan kabin bis biasa.  Ruanga ini lebih bersifat privat. Kursinya sofa melingkar sepanjang ruangan. Ada sebuah tv di dalamnya. Kira-kira seperti ruangan karoke. Ruangan ini mungkin biasanya dipakai oleh satu rombongan. Sementara tingkat atas adalah kelas biasa : kursi 2 – 2, airconditioner, dan sebuah tv di depan.

Bus Double Decker

Bus Double Decker

Penumpang bis saat itu penuh. Dari daftrar penumpang, saya lihat penumpang bis berasal dari bermacam-macam warga negara : Kroasia, Swedia, Polandia, Italy, Inggris dan paling banyak adalah orang Jerman. Hanya kami yang orang Asia. Hamzah dan Hudan duduk bersama. Di depan saya ada dua orang perempuan jerman. Sejajar dengan saya ada sepasang Polandia. Mereka mesra sekali selama di bis, cium sana cium sini. Sangat mengganggu, bikin iri saja. Sepertinya mereka sedang pergi bulan madu. Saya duduk bersebelahan dengan seorang bule kroasia. Badannya bau sekali, seperti bau keju basi. Saya pengen muntah rasanya. Rambutnya kusut,  saya kira ia belum mandi. Apa boleh buat, saya harus menahan bau selama 12 jam perjalanan lebih. Karena daftar penumpang diedarkan seperti absensi di ruang kuliah, saya jadi tahu dari mana orang-orang di sekitar saya.

Setelah semua penumpang duduk dan terdata, akhirnya bis berangkat juga. Tadinya saya sangat senang bisa duduk bersebalahan dengan orang bule. Barangkali saya bisa melakukan percakapan dengannya. Tapi orang bule di sebelah saya ini bau sekali, lebih lagi dia masih muda, relatif lebih cuek. Rencananya saya akan menghabiskan waktu di bis dengan tidur. Kami sengaja membeli tiket bis malam agar dapat menghemat pengeluaran penginapan satu hari. Setelah bis jalan, tak lama saya terlelap seiring dengan mengalunnya lagu dari mp3 player saya.

Sekitar pukul lima pagi kami tiba di Surathani. Surathani adalah sebuh kota di bagian selatan Thailand. Saya kira Surathani adalah kota terbesar di daerah selatan Thailand. Surathani merupakan kota transit. Orang datang ke sini untuk kembali pergi kembali ke tempat lain. Mungkin Suratthani lebih tepat jika disebut sebagai sebuah town.

Pukul lima disini seperti pukul empat di Jakarta. Sinar matahari sama sekali belum tampak. Udarapun masih benar-benar dingin. Bumi Suratthani saat itu masih diselumit oleh kabut.  Belum terlihat tanda-tanda kehidupan sedikitpun. Kami turun di semacam terminal. Sebenarnya ini bukan terminal, hanya tempat transit di pinggiran kota. Disini penumpang akan dibagi-bagi lagi berdasarkan tujuan.

Bagi yang akan pergi ke Phuket, kami harus melanjutkan perjalanan dengan mobil bak untuk pergi ke tempat travel dimana kami akan naik minivan menuju Phuket. Tidak semua penumpang akan pergi ke Phuket. Sebagian besar akan menuju Ko Samui. Ko samui adalah sebuah pulau di Teluk Thailand, di utara Surattani, sementara kami akan terus ke Selatan. Hanya sekitar 10 orang yang akan ke Phuket. Memang kebanyakan orang naik pesawat untuk ke Phuket jika dari Bangkok. Perjlanan darat memang sangat jauh dan melelahkan. Bangkok – Phuket jaraknya kira-kira lebih jauh sedikit dari jarak Jakarta – Bali.

Perjalanan dengan minivan dari Suratthani ke Phuket memakan waktu sekitar 4 jam. Jalan menuju Phuket sungguh sepi, mulus dan datar. Hanya sesekali kami berpapasan dengan mobil lain. Di  kiri kanan jalan terlihat jajaran perkebunan. Perkebunan yang terbanyak adalah kelapa sawit. Semakin ke selatan semakin dekat dengan Malaysia, itu artinya mungkin tanahnya juga semakin cocok untuk menanam kelapa sawit. Sesekali juga terdapat toko yang berjualan kerajinan rotan. Tak lama terlihat pos pemeriksaan untuk memasuki Phuket.

Phuket adalah sebuah pulau yang terpisah dari daratan Semenanjung Siam. Phuket dan Semenanjung Siam terhubung oleh sebuah jembatan. Selat yang memisahkan Phuket dan Semenanjung Siam hanya selebar sungai. Pulau Phuket besarnya kira-kira sebesar pulau Bali. Pusat pemerintahannya terletak di Phuket Town. Di Phuket juga terdapat sebuah international airport di daerah utara pulau ini.

Di sepanjang pesisir barat dan selatan pulau ini berjejer pantai-pantai indah. Umumnya disinilah tempat-tempat turis. Di daerah-daerah ini banyak terdapat hotel-hotel dan restoran. Daerah ini lah yang dapat mengakomodir turis-turis. Daerah yang bisa ditinggali lainnya adalah Phuket Town, akan tetapi Phuket Town letaknya agak jauh dari tempat-tempat objek pariwisata. Namun Phuket Town letaknya dekat dengan pelabuhan.  Selebihnya Pulau Phuket hanyalah daerah-daerah rural yang tidak menarik.

Jika anda akan ke Phuket anda harus tau anda menuju ke mana. Biasanya travel akan bertanya akan kemana tujuan anda. Jika anda tidak tahu, kemungkinan besar anda akan di-drop di Phuket Town. Pulau Phuket bukanlah sebuah kota. Transportasi di sini relatif lebih sulit, hanya ada tuk tuk dan taksi. Jika anda tidak tahu harga, anda akan sangat beresiko untuk ditipu. Apalagi jika anda tiba di Phuket pada malam hari, anda akan sangat sulit untuk mencari transportasi. Oleh karena itu, jika anda ke Phuket anda harus tau ke mana tujuan anda, jadi pihak travel bisa langsung mengantarkan anda kesana.

Berdasarkan informasi yang kami dapat dari kitab suci perjalanan kami, salah satu daerah yang menjadi tujuan turis adalah Patong Beach. Kami memilih tempat ini juga karena memang hanya nama Patong Beach yang pernah kami dengar. Kami tiba di Patong Beach sekitar pukul 11 siang. Kami di-drop persis di depan penginapan kami.

Di Patong Beach

Di Patong Beach

Patong Beach adalah sebuah pantai di pesisir barat Phuket. Pantai ini berbentuk cekungan sepanjang sekitar 1 km. Pantai pasir ini putih bersih. Air lautnya juga biru jernih kehijau-hijauan. Sungguh merupakan pantai yang sempurna. Di sepanjang pantai ini dipenuhi oleh payung-payung dan kursi santai.

Siang hari pantai ini dipenuhi oleh orang-orang bule yang sedang men-tanning-kan tubuhnya. Kawan, keadaa disini sama seperti di Kuta. Kebanyakan dari bule-bule tersebut dengan santainya berjemur bertelanjang dada. Bahkan merekapun jalan-jalan dengan bertelanjang dada. You know, Bikinis are very accepted, and so are topless. Hal ini membuat Hamzah dan Hudan yang memakai kacamata hitam kegirangan.

Patong Beach

Patong Beach

Patong Beach 2

Patong Beach 2

Setelah deploy barang, siang itu kami langsung mencarai makan siang. Perut ini benar-benar lapar rasanya setelah lebih dari 12 jam tidak makan nasi. Sepotong ayam goreng dan nasi ketanpun habis kami lahap. Setelah makan siang, kami memutuskan untuk menikmati pantai dengan berenang di pantai sambil  menunggu sunset.

Setelah beberapa bermain air, kemudian saya memilih untuk duduk-duduk di tepi pantai sambil menikmati suasana. Sementara kedua teman saya masih terus asik bermain dengan air. Amboi, sore itu rasanya benar-benar luar biasa. Saya duduk setengah berbaring di kursi santai yang kami sewa. Angin sepoi-sepoi bertiup menyapu tubuh saya. Suara ombak mendesir mengalunkan musik alam yang indah. Sesekali terdengar bunyi jetski dari arah laut. Tampak juga speed boat yang menarik parasailing memenuhi langit Patong Beach. Pikiran saya benar-benar rileks ketika itu.

Di depan saya berseliuran turis yang sedang jalan-jalan sore. Saya mendengar berbagai bahasa dari obrolan mereka. Sesekali tampak juga orang bule yang sedang bermain frisbee bersama anjignya. Ada juga beach boys Patong yang menemani orang bule bermain sepak bola pantai. Saya bersyukur setiap kali melihat mereka, setidaknya masih ada yang lebih gosong.

Di Pantai

Di Pantai

Bermain Pasir

Bermain Pasir

Tak terasa hari pun sudah semakin petang. Matahari mulai menapakkan kilaunya di ufuk barat. Sore itu matahari begitu jelas terlihat. Sinarnya tajam seperti menyilet langit. Warna orannye terang menyelimuti garis horizon. Luar biasa indah. Saat-saat seperti ini adalah saat yang paling tepat untuk foto siluet. Patong Beach adalah salah satu pantai yang menghadap ke barat. Tempat ini merupakan salah satu tempat yang tepat untuk menikmati sunset.

Seiring dengan semakin tenggelamnya matahari, suasana pantai berangsur-angsur sepi. Bule-bule yang berjemur tampak mulai beres-beres bersiap pulang. Jetski-jetski mulai dilabuhkan dan diangkut dengan mobil. Payung-payung dan kursi santai pun sedikit-demi sedikit dibereskan. Tak lama matahari mulai menghilang di atas garis horizon laut.  Saya selalu suka dan menanti-nati sunset.

Sunset di Patong

Sunset di Patong

Setelah gelap kami kembali ke hostel untuk mandi dan bebersih. Sekitar pukul 8 malam kami telah selesai mandi dan bebersih, kemudian kami pun kembali keluar hostel untuk makan mencari makan malam. Kami kembali kepada penjual ayam goreng dan nasi ketan tersebut. Sebenarnya masih banyak pilihan makanan lain disini. Namun apa daya, ayam goreng ini yang paling murah. Untuk seterusnya, kami selalu makan di warung ayam ini. Karena kami selalu makan di sini, sampai-sampai pedagang ayam tersebut hafal dengan kami. Hal yang cukup menggelikan adalah pada hari terakhir kami di Phuket,  ia sampai mengatakan “see you tomorrow” setelah kami membeli ayam di sana. Padahal saat itu hari terakhir.

Saya selalu mengidentikkan Patong Beach dengan Pantai Kuta. Entah kenapa saya merasa suasana di kedua pantai ini mirip. Pada siang hari pusat keramaian adalah di pantai, namun pada malam hari semua berpindah ke sepanjang jalan yang sejajar Patong Beach. Mirip sekali dengan Pantai Kuta dan Jalan Legian. Bule-bule juga sama-sama berjemur dengan bertelanjang dada.  Belum lagi suasan party ketika malam hari.

Pada malam hari,  jalan yang sejajar pantai ini menjadi pasar ikan dadakan. Berbagai jenis makanan laut segar dijual disini. Ikan, kepiting, kerang, udang, cumi semua dijajarkan di pinggir jalan dengan batu es. Anda bisa memilih langsung. Sepertinya sangat nikmat makan disini. Namun sayang sekali, ketika kami masih setia dengan ayam goreng.

Untuk makanan halal, ternyata di Phuket relatif lebih gampang untuk mendapatkannya. Di sini lumayan banyak terdapat penduduk asli yang beragama islam. Bahkan tidak jauh dari pantai terdapat mesjid yang berukuran agak besar. Makanan halal bisa anda dapatkan di jajaran kaki lima di jalan yang langsung berhadapan dengan pantai. Atau di sepanjang pasar seafood, seperti yang saya jelaskan di atas, terdapat warung seafood yang jelas-jelas halal. Warungnya bernama warung seafood “Kusuma”, penjualnya ibu-ibu berkurudung, dan di spanduknya tertera dengan jelas tulisan halal dalam aksara arab.

Patong Beach Malam Hari

Patong Beach Malam Hari

Setelah makan, kami tidak langsung pulang ke hostel. Kami jalan-jalan dahulu sekedar untuk menikmati suasana. Menurut kitab kami, nightlife di Patong termasuk salah satu yang rame di Thailand. Kami agak sedikit penasaran. Akhirnya kami memutuskan untuk melihat-lihat sebentar. Kami jalan ke arah selatan. Semakin ke selatan suasana semakin ramai. Banyak bar-bar dan diskotik-diskotik di sepanjang jalan ini. WTS-WTS-pun mulai terlihat menjajakan dirinya di sepanjang jalan. Kami pun jalan dengan cuek. Sekali lagi, suasana di sini mirip dengan Pantai Kuta.

Akhirnya kami sampai pada suatu jalan kecil yang arahnya paralel dengan garis pantai. Di atas jalan kecil ini terdapat gapura dengan lampu neon dan bertuliskan “Welcome to Patong”. Kawan, jika anda berjalan-jalan ke sini dan tidak membawa cukup iman, jangan sekali-kali masuk sini, cepat pergi.

Jalan tersebut terlihat ramai sekali. Sepertinya memang pusat keramaian pada malah hari terletak di jalan ini. Kamipun masuk ke jalan ini. Suara musik jedag-jedug terdengar dimana-mana memekakan telinga. Di kiri kanan jalan ini penuh dengan bar-bar dan diskotik. Lebih parahnya di sepanjang jalan ini penuh dengan wanita malam menajajakan dirinya. Anda pernah ke Pasar Baru? Suasananya mirip seperti itu, namun yang dijual disini bukan sepati melainkan para wanita malam.

Di pinggir jalan pun banyak terdapat para wanita dengan pakaian yang minim sedang menari-nari. Tariannya bukan tarian biasa kawan, tapi tarian dengan sebuah tiang ditenganya. Badan mereka meliuk-liuk di sekitar tiang keramat tersebut. Anda tau sendiri lah tarian macam apa itu, tidak perlu saya bahas lebih jauh lagi gerakannya. Parahnya semua ini terdapat hampur disepanjang jalan dan semuanya dipertontonkan gratis.

Malam itu kebetulan diadakan parade waria. Para waria ini luar biasa, dandanannya sungguh elok bagai bidadari. Memakai gaun cantik, beberapa diantara mereka bahkan ada yang memakai sayap-sayapan. Beberapa diantara mereka – well –  meamang terlihat cantik. Tapi postur tubuh mereka jelas sekali menunjukkan bahwa mereka bukan lah perempuan tulen. Inilah banci Thailand yang terkenal itu.

Kami lewat dengan perasaan waswas dan deg degan. Ketika itu, kami tidak lagi bisa menikamati suasan seperti para lelaki hidung belang lainnya. Perasaan yang ada hanyalah rasa takut dan tidak nyaman. Boro-boro untuk mengambil gambar, kami bahkan tidak berani berlama-lama untuk melirik kiri kanan. Salah-salah kami bisa didatangi. Sementara itu para bule-bule malah asik berfoto-foto. Para waria juga menjadi salah satu objek yang menarik. Berapa bule terlihat sudah menggandeng wanita lokal mereka. Beberapa yang lainnya hanya memegang botol bir dan ngobrol dengan teman-teman mereka.

Tanpa sadar langkah kami semakin cepat. Tak lama akhirnya kami keluar dari gang setan tersebut. Huff, lega rasanya. Setidaknya saya sangat bersyukur dengan rasa was-was saya ini. Itu artinya saya orang baik. Hehe.. Setelah  melewati malam yang menegangkan akhirnya kami kembali ke hostel dan beristirahat.

Keesokan harinya rencana kami adalah mengitari Phuket dengan menyewa sepeda motor. Tapi sungguh malang, ketika itu sepeda motor semua sudah disewa. Alhasil pagi itu kami kembali bermain-main di Pantai Patong dan jalan kaki ke Pantai Tri Trang. Pantai Tri Terang adalah pantai tetangga Patong Beach. Setelah puas bermain di pantai, kami makan siang ayam goreng favorit dan kembali ke hostel. Saat itu cuaca sangat panas, matahari sedang terik-teriknya. Kami pun akhirnya memutuskan untuk ngaso sementara dibawah udara air conditioner hostel.

Sore harinya, ternyata sudah ada motor yang avaliable untuk disewa. Namun jika itung-itungan biaya, rugi sebenarnya jika menyewa motor pada siang atau sore hari, karena kita tetap harus membayar sewa full day. Sore itu kedua teman saya jugaternyata belum puas untuk bermain-main di pantai. Jadi ketika saya ajak untuk menyewa motor mereka enggan. Sebenarnya pertimbangan lain adalah masalah biaya. Kami tetap harus membayar full day.  Sementara saya sudah cukup bosan jika hanya bermain-main di pantai. Hampir setiap liburan semester saya ke pantai. Saya ingin mencari sesuatu yang baru.

Sejak awal saya begitu berambisi untuk berkeliling Phuket. Bukan apa-apa, saya hanya ingin tau seperti apa Phuket. Dari kemarin kami hanya menetap di Patong Beach. Sejajar dengan pantai Phuket masih terdapat banyak pantai yang tidak kalah indahnya. Setidaknya ada tiga pantai lagi sampai ujung selatan Phuket. Apalagi setelah saya browsing di internet dan baca di kita suci perjalanan kami, di ujung selatan Phuket terdapat sebuah tempat dinamakan view point. View point letaknya diatas bukit. Dari sana kita dapat melihat Phuket dari ketinggian. View point juga merupakan tempat yang tepat untuk melihat sunset. Saya sangat suka sunset. Semakin besarlah hasrat saya untuk pergi.

Phuket Map

Phuket Map

Saya coba untuk pengaruhi kedua teman saya untuk menyewa motor, tapi mereka tidak bergeming. Sepertinya pasir putih dan bule topless lebih menarik perhatian mereka. Apa boleh buat. Saya kumpulkan niat untuk pergi sendiri. Masalah biaya, saya atur-atur supaya uang saya cukup. Saya agak takut sebenarnya untuk pergi sendiri. Bukan apa-apa, saya tidak tahu jalan sama sekali, apalagi ini negeri orang. Ini juga bukan kota. Saya akan berjalan dengan distrik ke distrik. Bagaimana kalau nanti ada apa-apa di jalan, tersesat atau ada perampok misalnya.

Setelah saya bulatkan tekat  dan memberanikan diri, akhirnya dengan berbekal sebuah map Phuket yang saya dapat gratis dari pihak hostel, telefon genggam untuk menghubungi teman saya jika terjadi apa-apa, dan sebuah pocket camera untuk mengabadikan gambar, saya berangkat. Saya mengendarai sebuah scooter Honda automatic. Kalau di Indoensia, ini seperti Honda Vario.

Saya berjalan terus ke arah selatan. Setelah berjalaan sekitar 10 km, akhirnya saya bertemu pantai berikutnya. Namanya Karon Beach. Karon Beach dan Patong Beach hanya dipisahkan oleh sebuah bukit. Sebenarnya Karon Beach tidak jauh berbeda dengan Patong Beach. Hanya saja Karon Beach memiliki garis pantai yang lebih panjang. Suasan Karon Beach juga relatif lebih tenang daripada Patong Beach. Payung-payung dan kuris santai tidak se-massive di Patong Beach. Tidak begitu banyak juga orang yang bermain olah raga air seperti Jetski dan parasailing.

Kata Beach

Karon Beach

Kata Beach 2

Karon Beach 2

Saya di Karon Beach

Saya di Karon Beach

Karon Beach tidak kalah indah dengan Patong Beach. Malah saya pikir air lautnya sedikti lebih jernih. Pantai ini juga benar-benar tepat menghadap ke barat. Sore hari, matahari benar-benar tepat di depan pantai, tidak terhalang oleh pulau atau apapun. Pantai ini layaknya memang diciptakan untuk menikmati sunset di sore hari. Suasana pantai ini juga sedikit lebih tenang. Saya lebih menyarankan anda untuk menetap di Pantai ini jika ke Phuket. Patong Beach hanya menang nama karena terkenal dengan night life-nya. Sayang sekali karena saya masih harus menlanjutkan perjalaan, maka saya pergi dari pantai ini, padahal sepertinya sunset disini benar-benar fantastis.

Dari Karon Beach saya kembali menuju ke selatan. Pantai berikutnya yang saya tuju adalah Kata Beach. Dari map, saya tahu pantai tersebut tidak terlalu jauh dari sini. Karena masih banyak tempat yang harus saya kunjungi, terlebih waktu sudah semakin sore, maka saya memacu motor saya agak cepat. Saya jalan menyusuri jalan di sepanjang pantai. Ketika itu jalan agak licin, ada air yang merembes entah dari mana. Ketika sedang asik berkendara, tiba-tiba segerombolan turis menyebrang jalan. Secara spontan saya menakan rem. Karena tidak biasa dengan motor tersebut, saya tidak mengetahui klo rem yang saya tekan ternyata rem depan.

Karena saya memencet rem sangat mendadak, apalagi itu rem depan, ditambah saat itu jalan agak licin, sesuai hukum fisika, tentu saja motor saya selip. Saya langsung jatuh dan terseret di aspal. Saya terseret cukup jauh, mungkin sekitar 10 meter. Sementara motor saya lebih jauh lagi, munkin sekitar 15 – 20 meter. Persis seperti adegan Moto GP di tv. Anehnya ketika terpeleset, saya masih sempat untuk melihat motor sewaan saya, bahkan saya sempat berfikir “haduh rusaklah itu motor, mati gua”.

Tidak terasa ternyata badan saya dipenuhi dengan luka. Tangan, kaki, dan punggung penuh dengan luka-luka lecet. Malah di kaki kanan saya lukanya cukup dalam, sampai-sampai putih dan tidak lagi mengeluarkan darah. Untungnya saat itu saya selip di depan hotel berbintang. Dengan baik hati si satpam langsung menggotong saya dan motor saya ke pinggir jalan. Satpam tersebut juga memanggil ambulans lengkap dengan sirinenya. Jadi agak heboh memang.

Luka 1

Luka 1

Luka 2

Luka 2

Luka 3

Luka 3

Luka 4

Luka 4

Luka 5

Luka 5

Setelah ambulans datang, luka saya pun dibersihkan dengan alkohol. Luar biasa sakitnya. Kemudian pihak hotel menawarkan saya untuk dibawa ke rumah sakit terdekat. Namun dengan halus saya menolak. Saya hanya meminta air putih dan numpang istirhat sebentar. Saya sebenarnya lebih khawatir dengan motor sewaan saya. Setelah istirahat sebentar akhirnya saya melanjutkan perjalanan. Orang-orang disana sepertinya cukup heran karena melihar saya dengan luka yang cukup parah seperti itu menolak di bawa ke rumah sakit, malah memilih untuk melanjutkan perjalanan. Di perjalanan saya mampir ke mini mart untuk membeli beberapa perban untuk menutup luka saya. Luar biasa memang perjuangan saya untuk mendapatkan sunset.

Saya kembali melanjutkan perjalanan. Karena waktu saya sudah habis untuk accident, maka saya terpaksa men-skip dua pantai berikutnya. Saya tidak mampir, hanya pass trough. Dua pantai tersebut adalah Kata Beach dan Kata Noi Beach. Dua pantai tersebut adalah dua pantai yang tidak terlalu besar yang letaknya berdekatan. Sebenarnya ada dua view point di Phuket. Yang pertama adalah Kata View Point. Ini view point yang akan saya tuju. Yang kedua adalah Prompthep Cape Rest View Point. View point ini letaknya lebih selatan, tidak terlalu jah sebenarnya dari view point yang pertama. Namun karena waktunya agak mepet, saya hanya sempat ke satu view point.

Sekitar pukul 6 saya tiba di view point.View point ini letaknya di tempat yang sangat tinggi. Dari sana kita dapat melihat jejeran pantai-pantai yang telah saya kunjungi tadi. Sungguh indah, jajaran garis putih bertemu dengan birunya laut. Inilah hebatnya Phuket, di sepanjang pesisir barat dan selatan pulau ini berjejer-jejer pantai yang sangat indah dengan pasir putih dan laut jernih. Luar biasa indah. Puas sekali rasanya saya saat itu. Inilah akhir perburuan saya. Jatuh dari motor terbayar impas sudah. Sunset dibayar dengan darah.

Sore itu view point cukup ramai. Kebanyakan dipenuhi oleh turis-turis yang sedang mengambil foto. Beberapa turis jepang juga sudah siap dengan tripod dan SLR-nya untuk mengabadikan sunset. Karena saya hanya sendiri, jadi terpaksa saat itu saya berkali-kali foto dengan mode narsis gaya anak muda. Beberapa pasangan lokal juga terlihat sedang memadu kasih. Sambil menahan sakit, saya pun duduk sendiri di pinggir tebing sambil menunggu sunset. Lagu to be with you pun tak lama mengalun dari mp3 player saya

I’m the one who wants to be with you
Deep inside I hope you feel it too
Waited on a line of greens and blues
Just to be the next to be with you

-Mr Big-

Dari View Point : Berjejer Pantai-pantai

Dari View Point : Berjejer Pantai-pantai

Demi menyasikan sunset

Demi menyasikan sunset

Setelah hari gelap, saya kembali pulang. Luka di kaki dan tangan saya terasa nyut-nyut. Di jalan pikiran saya diselimuti bagaimana nantinya ketika saya sudah sampai di hostel. Motor yang saya sewa mengalami lecet yang cukup banyak, terutama di sisi kanan dan knalpot. Sebenarnya saya bisa saja berbohong ketika itu. Belum tentu mereka akan mengecek motornya ketika saya kembalikan. Lecetnya tidak begitu terlihat, apalagi hari sudah malam. Cukup dahsyat konfilk yang terjadi dalam diri saya ketika itu. Tapi akhirnya karena saya ingin belajar bertanggung jawab, akhirnya saya mengaku. Alhasil saya 1200 Bath lenyap untuk mengganti kerusakan motor. Perdebatan soal harga cukup alot ketika itu.

Malam itu saya hanya diam di kamar. Besok kami harus melanjutkan perjlanan ke Phi Phi Island. Terlebih lagi sekarang tubuh saya dipenuhi luka-luka. Secara overall, saya sangat senang dan puas dengan perjalanan saya di Phuket. Jika saya diatas mengindentikkan Patong Beach dengan Pantai Kuta, maka saya pikir hal ini bisa di generalisir : Phuket saya identikkan dengan Bali. Saya memiliki kesan yang sama dengan kedua pulau ini. Dua-duanya sama-sama pulau pariwisata. Walaupun Phuket pantainya lebih indah, saya tetap lebih suka Bali karena Bali punya kebudayaan inheren yang unik. Ini yang tidak dipunyai Phuket.

Sebenarnya masih ada pantai bagus yang direkomdesikan oleh teman saya, yaitu Pantai Naihan. Tapi apa boleh buat, waktu kami terbatas. Kami juga belum menjelajahi pantai di daerah selatan Phuket. Di Phuket juga sebenarnya kita bisa melakukan SCUBA diving. Banyak pake-paket diving yang ditawarkan di pinggir jalan. Namun karena uang saya terbatas, maka saya lebih memilih untuk diving di Phi Phi Island.

bersambung…

About these ads

25 thoughts on “Budget Traveling at Thailand : Phuket, Antara Sunset dan Darah (Part. 5)

      • kalau ingin di kota mendingan nginep di phuket town, tapi klo ingin di pantai, di jajaran pantai2 di pesisir barat sangat bagus, kata, karon, patong, dll

  1. @hercup
    elu sih cup,pake komen yang aneh2

    @mama
    tenang aja ma, safety first kok

    @lutfiana
    wah saya malah belum pernah kesana, salam kenal

  2. cukup aneh lo emang…. dimana2 sampe akhirat juga rem kanan tetep rem depan….. ngawur anak ini…

    eh… mana ada pulau bali lo klilingin seharian…..??? yang ada meleleh lo !!!

  3. @kiky
    haha, ya maap bot, gak tau gua, haha

    yang mirip suasanannya bot, klo ukurannya mungkin seperempat Bali bot.

  4. dear aulia..

    mau nanya yah..kalo dari bangkok ke phuket khan naik bus double decker, dibangkok travel agentnya ada didaerah mana yah..terus berapa harga tiketnya..mgkn saya bisa membandingkan dengan peswt..

    thanks
    dewi

  5. tiket yang kami dapat sih harganya 900 bath, saya kira harusnya bisa lebih murah dari itu.

    Travel agent berserakan di Kota Bangkok, di mall2 atau di stasiun skytrain biasanya banyak. Atau mbak bisa langsung pergi ke terminal bisnya…

    salam kenal

  6. bln 1 ni sya juga ke phuket loh..mau nanya..kalo hostelnya rata2 biayanya brapa?enak nginap di pantai mana ya?hehe..lgi budget ini

    • untuk hostel rentang hargnya dari 50 ribu hingga 150 ribu, saran saya menginap di patong saja, karena merupakan pantai paling ramai, tapi sebenerany tidak masalah di pantai mana juga, soalnya jarak dari satu pantai ke pantai lain tidak begitu jauh

  7. Hi aulia,

    Saya sangat tertarik dengan semua tulisan anda….. tetapi saya sangat heran dengan tulisan anda yang selalu menjelek2an teman anda bahwa suka liat buah dada wanita !!! tapi saya rasa anda juga suka dengan hal ini, mungkin anda malu menyatakannya :)

    Jadi saya rasa sebuah kritikan buat anda… jangan terlalu munafik dalam menulis, dan mohon perhatikan teman anda. Seorang teman yang baik selalu mengucapkan hal yang baik tentang teman di belakangnya.

    The Good Friends always speak well behind me.

  8. bos, numpang tanya nih.
    naek motor di phuket perlu sim international gak
    klo pake sim indo gapapa ya
    polisi bagaimana tuh pas kecelakaan, gak tanya sim apa..
    denger2 kadang2 ada razia motor di phuket

    • waktu itu sih saya gak perlu, cuma modal pass port trus bisa minjem. Waktu kecelakaan klo saya tidak salah nggak ada polisi yang dateng, cuma satpam dan petugas medis.

      Kalau masalah razia saya gak begitu tau, waktu saya disana tidak pernah ngalamin.

      Thx

  9. brou bole tanya, dari surat thani ke phuket nya naik apa yachhh, dan kira2 harga bis nya brp brou trus perjalanan berapa jam, apakah diantar langsung ke hostel kita???
    baru mau backpack kesana april ini…

    • waktu itu saya naik semcam mini van, harga sudah termasuk yang saya bayar di bangkok. Lebih baik kalau kita sudah tahu tujuan kita di phuket, biar bisa diantara langsung ke tujuannya.

  10. Mas, salam kenal, mas kalo sewa motor per hari d phuket berapa ya? jarak dari kata beach ke patong beach kira2 berapa Km? atau kalo naik motor berapa menit? tks

  11. seru banget ceritanya, aq sampe ngakak pas di eksiden jatohnya ,,, kita rencana nopember mau backpack ke bangkok tapi sayang cuman 2 hari jadi ga ada waktu buat ke phuket,, oiya kalo di bangkoknya banyak gak warung makan yg halal

  12. saya dah booking tiket ke Phuket…. pergi sendiri bukan travel agent.. boleh bagitahu tempat yang best, restoran halal , tempat shopping yang menarik?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s