well, this is one of my stupid story.
Begini ceritanya. Seperti biasa, kalau wisuda ITB biasanya ramai. Di ITB wisuda bukan cuma sekedar prosesi formal aja, tapi juga udah menjadi semacam seremonial yang dirayakan seluruh massa kampus, terutama oleh mahasiswa. Habis sidang terbuka (prosesi formal wisuda) di sabuga, biasanya para wisudawan diarak-arak dari sabuga menuju kampus sebagai tanda selamat dan rasa bangga kepada mereka. Alhasil setiap wisuda Jalan Taman Sari dan Jalan Ganesa biasanya macet total.
Suatu kali arak-arakan jurusan saya sedang berada di Jalan Ganesa. Waktu itu keadaan emang bener-bener rame. Jalan Ganesa macet total gak gerak. Jalan Ganesa macet tentunya karena rombongan arak-arakan anak ITB. Di gerbang depan anak Teknik Industri lagi show off, trus di belakangnya udah ngantri Geologi, Teknik Fisika, jurusan saya, Teknik Sipil, terakhir geofisika.
Ketika kami sedang ngantri, tiba-tiba datang seorang bapak-bapak setengah baya. Saya tidak tahu persis bagaimana tepatnya si bapak-bapak ini dateng ke kerumunan arak-arakan kami. Yang saya tahu tiba-tiba bapak ini sudah berdebat dengan kordinator lapangan saat itu. Kordinator lapanganya ketika itu kebetulan angkatan 2007, sebut saja si X.
Si bapak bapak ini marah-marah kepada kami karena kami telah mengganggu kelancaran lalu lintas. Si Bapak ini memaksa barisan kami untuk menyingkir ke pinggir jalan agar mobil-mobil bisa lewat. Tidak menerima, si X kemudian berdebat dengan si bapak ini. Si X berpendapat tidak ada bedanya jika kami menyingkir, toh di depan penuh-penuh juga. Berdebatan cukup alot. Nada-nada tinggi keluar dari mulut kedua orang ini.
Melihat ini saya diam saja. Saya sangat bisa memahami perasaan para pengguna jalan yang pasti kesalnya setengah mati kepada kami karena menggangu perjalanan mereka. Toh saya pikir di depan pun pasti mobil tidak akan bisa lewat selagi masih ada arak-arakan wisuda. Malah ketika itu saya berusaha menanangkan si X. Akan tetapi ternyata perdebatan bukannya mereda malah bertambah sengit. Saya yang on the spot masih tetap diam. Saya pikir bapak ini benar. Kami memang memanggaggu.
Mungkin karena emosi, si bapak ini akhirnya menampar si X. Tidak terlalu keras sebenarnya, tapi tetap saja menarik perhatian saya. Tiba-tiba saja saya merasa tidak menerima adek kelas saya di tampar seperti itu, apalagi oleh orang yang tidak jelas siapa. Spontan saya langsung menghampiri. Saya menjadi ikut berdebat. Sebenarnya tidak cuma saya disana, tapi banyak orang, terutama angkatan 2007 dan seorang angkatan 2005.
Saya menjadi membela si X. Saya mengatakan kepada beliau kalau di depan sudah ada polisi sebagai pihak yang berwajib untuk mengatur. Kami juga menuntut bapak ini untuk meminta maaf kepada si X karena telah menamparnya. Setelah terlibat langsung dalam perdebatan entah kenapa emosi saya mendadak naik. Berkali-kali saya membentak bapak ini. Saya masih sangat ingat ketika saya mengatakan “Bapak minta maaf sama dia pak, kita bicara baik-baik, gak ada kontak fisik..!!” dengan nada yang sanagat tinggi. Mungkin udara panas dan pengap membuat saya menjadi benar-benar emosi ketika itu.
Awalnya si bapak ini tidak mau meminta maaf. Tapi tidak ada alasan bapak ini untuk tidak meminta maaf. Bapak ini memang sudah salah. Saut-satunya alasan hanyalah perasaan gengsi untuk minta maaf kepada yang muda, apalagi si anak muda ini adalah orang yang sedang berdebat dengannya. Tamparan itu seperti bumerang. Bapak itu mulai terpojok. Mukanya mulai menampakkan gurat-gurat kesedihan dan kekalahan. Akhirnya bapak itu minta maaf juga. Setelah permintaan maaf ini tiba-tiba bapak ini menghilang.
Masih emosi, saya mencoba menenangkan diri di pinggir jalan. Ketika itu seorang junior, sebut saja si Y, tiba-tiba datang dan bertanya kepada saya mengenai apa yang baru saja terjadi. Secara singkat saya menjelaskan. Satu hal yang membuat saya shock adalah ketika si Y mengatakan bahwa bapak itu adalah dosen elektro. Oh my God. Seperti ditimpa beton saya rasanya. Saya tadi baru saja membentak-bentak beliau. argh….. merasa berdosa sekali saya rasanya.
Bukannya saya akan membenarkan apapun yang beliau lakukan ketika saya tahu bahwa dia adalah dosennya saya. Akan tetapi point-nya adalah bagaimana cara saya berbicara dengan beliau. Beliau adalah orang tua. Orang tua bukan dalam arti orang yang lebih tua, akan tetapi orang yang harus kita hormati karena telah berjasa kepada kita, ya walaupun sebenarnya saya tidak ada hubungannya dengan beliau karena memang beda lab. Saya sama sekali tidak takut untuk mempertanggungjawabakan apa yang telah saya lakukan. Hanya saja itu akan saya lakukan dengan cara yang berbeda andai saya tahu dia dosen saya. Benar-benar merasa berdosa saya ketika itu.
Pesan moralnya adalah jangan pernah malu untuk mengakui kesalahan. Contoh sikap satria dosen saya tersebut. Beliau tidak malu untuk meminta maaf bahkan dengan mahasiswanya sendiri. Tidak banyak orang seperti ini sekarang kawan. Dunia saat ini lebih banyak diisi orang-orang pengecut yang bersembunyi dari kesalah yang ia buat sendiri.



17 Comments
April 19, 2009 at 1:26 am
langsung ditulis gitu ceritanya…hahaha…
seriously…
kenapa yah jalan menjadi suatu tempat yang menakutkan?semua orang emosi…semua orang pengen cepat…mau lulusan sd sampe s3, ato yang gak sekolah sekalipun buanyak banget yang emosinya berubah jadi brutal kalo di jalan…uncivilized…no hard feeling for both side…cuma curhat colongan aja…haha…
beberapa hal yang gua highlight dari tulisan lo…
1. dah maksimal lom yah pengamanan jalannya…ko bapa2 itu bisa masuk mobilnya?
2. sepertinya kita semua perlu belajar berbicara secara tegas tapi sopan ke orang tua…siapapun itu…
3. salut buat bapa itu yang dah berani minta maaf…dan solidaritas anak2 el…
semoga ini bisa jadi pembelajaran buat kita semua…amin…
April 19, 2009 at 9:30 pm
kok lo lebih ngebahas ke minta maafnya sih? hihihi..
April 19, 2009 at 9:42 pm
ancuurr, kaco2..
masalahnya adalah kalian pada pake jaket hme dan berdebat dengan dosen elektro.. kacoooooooooooooo x_x
kalo berdebat dengan yang lain boleh lah sampe gelut2 di aspal..
April 19, 2009 at 10:12 pm
@yoka
gua juga klo dijalan jadi suka maki2 yok, tau nih, gawat, istigfar aja gua mah klo udah gitu
Jalan Ganesa emang gak ditutup yok, mungkin lain kali perlu kordinasi dengan polisis yang lebih baik
@Iqbal
emang kenapa bal?
@hercup
hhaha, mangkanya cup, merasa bersalah banget ni gua
pesan mora yang lain :
1. Klo mau marahin orang tanya dulu dia dosen elektro apa bukan
2. Klo udah tua gak usah ikut2an arak2an wisudaan lagi harusnya, haha =p
April 19, 2009 at 10:47 pm
”
pesan mora yang lain :
1. Klo mau marahin orang tanya dulu dia dosen elektro apa bukan
”
dodol lo cap…hahaha…
April 19, 2009 at 11:28 pm
loh cap, wisuda itn 19 ya, bukan 18?..
April 20, 2009 at 10:16 pm
“Pesan moralnya adalah jangan pernah malu untuk mengakui kesalahan. ”
apaan sih??
elo bentak2 dosen, itu poinnyaa..
dosen jurusan lo lagi..
GAK LO KENAL LAGI
ini kali yang musti lo garis bawahin.. bukan malah BANGGA ada orang tua tunduk sama lo..
April 21, 2009 at 12:32 am
@deep
makasih koreksinya nin
@prama
ah elo pram, serius amat,
gak ada ditulisan gua yang menyatakan gua bangga kali pram, justru merasa bersalah
lagian namanya juga dilapangan orang gak akan sadar klo ngomongnya teriak2, sekali2 ikutan arak2an makanya
April 21, 2009 at 4:08 pm
Memang banyak orang yang bicara “tidak dapat mengerti” (termasuk saya) atas perilaku mahasiswa ITB dalam menyambut atau memeriahkan acara wisuda. Disamping mengganggu kelancaran lalu lintas, kok banyak yang berperilaku, berbahasa dan bersikap seolah paling hebat gitu lho.
April 22, 2009 at 6:26 am
wah ngeri ini.. ngeri cap!
gw wisudaan kemaren jg bikin insiden,
lagi naik motor eh tiba2 ada arak2an mesin main nyelonong n’ nyetop kendaraan2 aja di depan sabuga,
gw ga sempet ngerem 100%, akhirnya kena tabrak dah satu orang, wlopun ga keras2 amat
gw berlagak serem aja melototin tu orang, untung ga pake ribut
April 23, 2009 at 2:34 pm
wew kk wew,,
tiap wisudaan emang ad aj insiden2 yg g diinginkan,,
gw rasa g stupid kok,,
mempertahankan apa yg lw anggap bner,,
cm mungkin emang caranya ya,,
tnyata dosen pula,,hehehe,,,
May 10, 2009 at 9:47 am
gapapa…yang penting kan ada pembelajarannya cap..baru baca gw..
May 18, 2009 at 7:39 pm
Sayang sekali acara wisuda ITB jadinya malah menyusahkan pengguna jalan.
-dosen elektro-
May 20, 2009 at 12:11 am
Iya pak, saya juga sangat menyesalkan hal tersebut pak….
haduh, blog saya di baca dosen elektro…
May 20, 2009 at 12:20 am
@aoel
Selalu ada pembeljaran ya…emang lu mahasiswa sejati ul.. =p
@dhietz
iya, caranya agak2 gak sopan, wkwkkw
@aisar
dosen mu tuh sar, hahaa
emang wisuda ini selalu rusuh ya
@kang dede
iya, wisudaan kedepannya harus berubah, jangan sampe merepotkan masyarakat
August 14, 2009 at 6:03 am
“kenapa yah jalan menjadi suatu tempat yang menakutkan”
sedih dengernya, padahal jalan adalah ruang publik dimana semestinya menjadi tempat baik untuk belajar menghargai keberadaan orang lain karena aneka kepentingan saling bersinggungan. Ketika di negara lain sebuah jalan menjadi objek yang menarik untuk di datangi, sebaliknya di sini berjalan kaki justru di hindari.
mungkin karena kebanyakan berada dalam kendaraan pribadi, bahkan ketika sedang tidak berada di dalam kendaraan pribadi itu, tingkahnya masih kebawa.
hehe..bener kata aul, semua pasti ada pembelajarannya. cobalah lain kali menikmati kembali jalan sebagai ruang publik dengan semestinya. lumayanlah bandung kan udaranya dingin.
waktu ga bisa diputar kembali.hati-hati.ayo belajar jaga emosi:D
-bukan dosen elektro-
August 29, 2009 at 12:56 am
haha, bener sekali mbak…