Filosofi Mawar

Mawar Putih

Mawar Putih

Di rumah saya ada tanaman mawar. Tanaman mawar ini ditanam di dua tempat. Yang satu di halaman depan, yang lainnya di halaman samping. Pada waktu pertama dibeli, kedua tanaman ini sama-sama berbunga, malah yang di taman samping lebih bagus bunganya.

Tapi anehnya, sekarang tanaman mawar yang taman samping tidak pernah lagi berbunga. Sedangkan tanaman yang di taman depan selalu berbunga. Jika tanaman yang satu bunganya layu, yang satu lagi berbunga. Pokoknya tidak ada henti-hentinya bergunga.

Perlakuan terhadap kedua tanaman tersebut sama. Sama-sama disiram, sama-sama diberi pupuk, sama-sama dirapikan bagian-bagian yang sudah membusuk. Tapi ternyata hasilnya berbeda. Yang satu berbunga terus, yang satu lagi bahkan sampai sekarang belum pernah berbunga lagi semenjak pertama kal dibeli.

Selidik punya selidik,  saya mendapatkan informasi di internet bahwa ternyata mawar sangat membutuhkan sinar matahari. Kalau mau tanaman mawar terus berbunga, maka tanamlah di tempat yang benar. Sinar matahari langsung adalah kriteria mutlak.

Halaman depan rumah saya memang menghadap timur, terlebih rumah saya langsung menghadap lembah. Sehingga pada pagi hari, tidak ada yang menghalangi sinar matahari untuk langsung menyinari pekarangan depan rumah saya, benar-benar sempurna untuk menanam sepucuk mawar. Sementara halaman samping rumah saya dikelilingi tembok dimana sinar matahari tidak akan bisa langsung menyinari.

Mawar di Pekarangan Depan

Mawar di Pekarangan Depan

Saya pikir hal ini sama saja dengan kita. Sepintar-pintarnya kita, sebesar-besarnya potensi yang kita miliki, kalau kita tidak berada di tempat yang benar dan ditangani dengan benar hasilnya tidak akan maksimal. Potensi-potensi yang kita punya tidak akan keluar. Kita tidak akan terlihat spesial.

Mawar di taman samping tersebut tidak mati, hanya tidak berbunga saja. Mawar tersebut tidak ada bedanya dengan tanaman-tanaman lain yang tidak berbunga, tidak spesial. Malah yang tersisa hanya durinya saja.

Oleh karena itu, kita harus pintar-pinta memilih “tempat tanam” kita yang tepat.  Kita harus berada di lingkungan yang tepat. Pilihlah teman bergaul yang tepat, sekolah yang tepat, pekerjaan yang tepat, atau bahkan pasangan hidup yang tepat.

Kalau kata Rosullulah SAW, barang siapa bergaul dengan pandai besi maka akan terkena panasnya, barang siapa bergaul dengan tukang parfum, maka akan terkena wanginya.

Tentunya kita tidak mau kan menjadi mawar tanpa bunga?

Mawar pink dikit

Mawar pink dikit

Mawar Ungu

Mawar Ungu

Mawar Merah

Mawar Merah

Mawar Kuning

Mawar Kuning

Mawa Ungu Muda

Mawa Ungu Muda

Mawar Merah Putih

Mawar Merah Putih

Mawar Merah lagi

Mawar Merah lagi

9 Comments

Filed under long life

9 Responses to Filosofi Mawar

  1. riau2020

    de, tlg bunga yg lainnya dong krm fotonya….

  2. dessyfarhany

    wow… mawarnya banyak! gauul!
    ada mawar kuning jugaaa…. keren deh.

  3. auliafeizal

    pastinya cup, makanya jangan asal milih cewe cup, wakaka

  4. wahidyankf

    akh hamdani emang maut…

  5. keyz

    assalamuallaikum wr wb..
    datang,, mencari filosofi tentang mawar,, eh ketemu ma postng yang menarik ,,, kebetulan k juga suka banget ma bunga mawar,,,
    thanks yua udah ngasih inspirasi yang hebat,,, hehhehehee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s