Ujung Kulon : Badak Bercula Satu, Lebih Mirip Mitos (Part 2)

Suasana di Pulau Peucang sangat sepi. Tidak terdengar suara apapun selain suara deburan ombak dan bunyi binatang-binatang di hutan. Lokasi Pulau Peucang memang sangat terisolasi, jauh dari keramaian. Tidak ada jalan ataupun perkampungan penduduk. Kota Sumur adalah pemukiman terdekat yang bisa dicapai melalului laut. Sementara jika kita melewati jalan darat, kita baru bisa menemukan pemukiman penduduk dalam waktu dua hari perjalanan. Sarana komunikasipun sangat minim. Tak ada tower base transceiver station, yang ada hanya sebuah tower setinggi 20 meter dengan beberapa antenna televisi. Sarana komunikasi yang tersedia hanya radio frekuensi, tapi itupun hanya dapat digunakan dalam radius skala kilometer. Jika kita kangen dengan Ibu kita di rumah, maka kita bisa menggunakan telepon satellite, tapi kita harus merogoh kocek 20 ribu untuk setiap menitnya.

Tak banyak orang yang tinggal di Pulau ini. Di Pulau ini sendiri hanya ada sekretariat Taman Nasional Pulau Peucang, beberapa barak untuk ditinggali, sebuah ruangan generator set, dan kantin yang kelihatan tidak pernah dipakai lagi. Semua bangunan di sini didesain sebagai rumah panggung. Hal ini untuk melindungi orang yang tinggal di dalamanya dari hewan-hewan liar. Pulau Peucang memang masih sangat perawan. Tak jarang kami menemukan hewan-hewan liar berkeliaran di sekitar tempat kami menginap. Beberapa hewan yang sering mampir ke tempat kami menginap antara lain biawak (panjangnya kira-kira dua meter), babi hutan, makakus (sejenis monyet), dan rusa. Sesekali tampak burung elang terbang dengan sayapnya yang lebar. Kami tinggal bersama dan tidak mengganggu satu sama lainnya.

sany0079.jpg

sany0109.jpg

Kami tinggal dalam sebuah barak berukuran 8 x 5 meter. Sebenarnya ada barak dengan ukuran lebih besar, tapi tentu harganyapun juga besar. Lagi-lagi efisiensi biaya adalah alasan kami memilih barak dengan ukuran yang kecil. Untuk barak sekecil ini saja kita harus membayar 150 ribu perharinya. Dalam barak tersebut hanya ada lima buah kasur berukuran besar. Kasur tersebut kami bagi untuk dipakai ber 13. Cewe satu kasur, sementara sisanya disatukan dan dipakai bersama oleh cowo. Saya sendiri memilih untuk tidur dalam sleeping bag. Kamar mandi yang tersedia pun tidak banyak. Untuk empat buah barak sebesar 8 x 5 meter hanya tersedia 2 buah kamar mandi. Tapi kami cukup beruntung karena saat itu hanya kami yang menginap di sana, jadi kami tidak terlalu kesulitan untuk ke kamar mandi.

Setelah deployed barang di barak kami memutuskan untuk langsung nyebur. Kami hanya melakukan skin dive. Awalnya kami juga ingin sekalian SCUBA dive, tetapi tidak jadi karena ternyata kita harus membawa sendiri semua perlengkapan SCUBA termasuk tabung, terlalu merepotkan. Air laut di pantai pulau ini sangat jernih. Jarak pandang sekitar 15 meter. Tapi sayang, hari itu arusnya sangat kuat. Jika kita diam didalam air, maka kita bisa terseret dengan kecepatan 0,5 meter per detik. Belum lagi ditambah sengatan ubur-ubur yang membuat kulit menjadi merah-merah. Jadi hari itu kami putuskan untuk bermain-main air saja disekitar dermaga.

Tidak terasa matahari sudah diatas ubun-ubun. Perut kami pun terasa lapar. Akhirnya kami putuskan untuk makan siang. Di Pulau ini sama sekali tidak ada orang berjualan apa-apa, apalagi berjualan makanan. Kantin yang ada saja sudah lama dikunci dan tidak pernah dipakai lagi. Untuk bertahan hidup di Pulau Peucang, kami harus membawa semua kebutuhan kami dari Sumur. Kami membawa telur 3 kg, ikan tongkol 40 ekor, beras 20 liter, aqua 3 galon, minyak goreng 2 kg, minyak tanah15 liter, satu botol kecap dan satu botol sambel. Semua hajat hidup kami tersebut kami letakkan di kapal nelayan yang kami sewa dari Pak Matang. Di kapal tersebut ada satu orang nakhoda dan dua orang anak buah kapal. Merekalah yang mengurusi kami selama di Pulau Peucang, termasuk memasak nasi dan menggoreng ikan dan telor. Untuk semua itu kami membayar 2, 5 juta untuk 2 hari tiga malam kepada Pak Matang.

sany0112.jpg

Agenda sore hari adalah jalan-jalan ke sabana untuk melihat Banteng, rusa dan kalau beruntung melihat badak bercula satu. Untuk mencapai sabana tersebut kami harus menyebrang ke Pulau Jawa. Kalau dilihat di peta, kami benar-beran berada di ujung semenanjung Ujung Kulon. Di pulau jawa hanya ada satu dermaga dan satu pos penjaga yang kosong. Untuk pergi kesana, kami ditemani oleh Pak Tumina. Seorang penjaga taman nasional yang telah mengabdi selama 10 tahun.

Di Pulau Jawa, kami berjalan menyusuri hutan. Nyamuk hutan pasti sangat senang saat itu, karena ada 13 orang bodoh yang masuk hutan dengan pakaian pantai dan sama sekali tidak menggunakan autan, soffel, atau obat nyamuk lainnya. Selama perjalanan Pak Tumina bayak memberikan informasi kepada kami baik tentang tumbuhan ataupun tentang hewan. Kata Beliau di hutan ini hewan-hewan yang ada antara lain, rusa, biawak, babi hutan, makakus, banteng, burung merak, macan kumbang dan tentunnya badan berucula satu.

Seperti rombongan-rombongan wisatawan lainnya, saat itu kami tidak bertemu badak bercula satu. Hewan ini sepertinya lebih mirip mitos ketimbang seekor hewan yang dilindungi. Orang-orang banyak membincangkannya, akan tetapi sangat jarang sekali yang melihatnya. Pak Tumina saja yang sudah 10 tahun bekerja di sini belum tentu bisa melihat badak ini dalam waktu sekali dalam setahun. Banyak LSM-LSM yang menginap berbulan-bulan di hutan hanya untuk melihat badak, tapi itu pun belum tentu bisa terlihat. Pernah dalam acara televisi Jejak Petualangan, di perlihatkan bahwa untuk mendapatkan foto badak harus dengan menggunakan motion sensor yang diletakkan berhari-hari di dalam hutan.

Padahal menurut Pak Matang, jumlah badak di sini masih sekita 40 samapai 50 ekor lagi. Angka tersebut ditapat dari sensus badak yang dilakukan setahun yang lalu. Ternyata untuk melakukan sensusnya saja, kita juga belum tentu bisa bertemnu badak. Sensus dilakukan dengan transect terhadap jejak kaki badak. Transect dilakukan di beberapa lokasi sampel dan kemudian hasilnya dibandingkan. Setelah data diolah dengan berbagai perhitungan probabilitas dan statistik maka diperolehlah angka 40 hingga 50 ekor. Penyebab langkanya badak adalah karena mereka hidup soliter. Sangat kecil kemungkinan badak jantan dan betina akan bertemu. Hal ini adalah salah satu faktor sedikitnya populasi badak. Belum lagi masa kehamilan yang relatif lama.

Setelah 20 menit berjalan kaki, akhirnya kami tiba di sabana. Sabana tersebut tidak begitu luas dibandingkan denga yang ada di Nusa Tenggara. Mungkin luasnnya maksimal 10 hektar. Disana hanya ada satu saung dan satu menara pandang yang lagi-lagi kosong. Dari kejauhan kami melihat belasan ekor banteng sedang mencari makan di sabana. Banteng jantan tampak berbeda dari yang lainnya, berwarna hitam, tubuhnya lebih besar, tanduknya pun panjang, gagah sekali. Disana kami mengambil beberapa foto banteng. Akan tetapi sangat disayangkan, mengingat kebanyakan kami dibesarkan di kota, maka kami tidak mengerti sopan santun di alam liar. Kami (baca : saya) mendekat ke arah banteng, dan dengan seenaknya teriak-teriak. Tentu saja akhirnya banteng-bangteng tersebut menyadari kehadiran kami disana. Dan tak berapa lama kemudian mereka semua kabur ke hutan. Setelah metreka kabur, dengan seenaknya kami malah duduk-duduk di padang sabana dan bercerita 17 tahun keatas sambil berteriak-teriak dan tertawa-tawa. Benar-benar tidak punya sopan santun dan rasa empati terhadap banteng.

sany0096.jpg

Setelah puas melihat-lihat di sabana, kami pun pulang. Kami pulang lewat jalur berbeda dengan sewaktu kami datang. Sebelum pulang kami menyempatkan diri untuk menikmati sunset di pantai Pulau Jawa. Matahari tampak begitu kuning di ujung barat sana. Kami pun menyempatkan diri untuk berfoto-foto. Sekitar pukul 18.00 kami pulang kembali ke Pulau Peucang.

sany0103.jpg

Hari sudah mulai gelap ketika kapal kami merapat ke dermaga di Pulau Peucang. Pulau Peucang pun tampak sangat sepi dan gelap. Listrik yang tersedia di Pulau Peucang sangat terbatas. Listrik di pulau ini hanya di pasok oleh generator set dan beberapa panel surya. Siang hari listrik dimatikan. Jika malam hari tiba, generator dinyalakan. Listrik yang dihasilkan oleh generator juga tidak begitu besar, mungkin hanya beberapa ribu watt, cukup kecil untuk menghidupkan sebuah pulau. Di barak kami sendiri hanya ada sebuah lampu kuning redup yang cahaya sangat tidak cukup untuk menerangi ruangan berukuran 8 x 5 meter. Mata kita akan terasa sakit jika membaca di dalamnya. Di barak kami pun sama sekali tidak ada stop kontak (colokan ke jala-jala). Jika ingin meng-charge handphone atau baterai kamera, kita harus pergi ke ruang sekretariat taman nasional. Tidak ada sama sekali lampu di luar ruangan. Untuk berjalan ke kamar mandi yang jaraknya sekita 10 meter dari barak, kami harus membawa lampu minyak tanah atau senter.

Malam itu seperti biasa menu makan kami adalah telur mata sapi dan ikan tongkol goreng. Seperti biasa juga kami makan di atas kapal nelayan Pak Matang. Yah inilah kapal pesiar kami selama di unjung kulon. Sebagian besar waktu kami habiskan disini. Telur dan ikan tongkol digoreng dengan bumbu seadanya, mungkin hanya garam. Orang yang memasak juga bukan chef seperti di hotel-hotel berbintang, tapi hanyalah seorang anak buah kapal yang saat itu dipaksa memasak. Sederhana memang, tapi entah kenapa sungguh nikmat rasanya. Makan bersama di tengah kegelapan dengan hanya diterangi sebuah lampu minyak tanah. Makan sayapun sangat lahap. Memang ternyata kenikmatan tidak bisa diukur dari materi. Banyak orang hidup dalam kesederhanaan tapi justru bisa menikmati hidup jauh lebih baik dibandingkan orang yang hidup bergelimang kemewahan.

sany0117.jpg

Selesai makan secara bergantian kami mandi. Biasnaya cewe-cewe mendapat kesempatan lebih dahulu. Tetapi saat itu saya, Indra dan Ratum tetap tinggal di kapal. Kami bertiga duduk-duduk di sisi kiri kapal. Dengan ditemani sebatang garpit kami pun ngobrol. Suasana malam itu memang tiada duanya. Duduk, diam, tidak mengerjakan apapun selain menatap laut yang sunyi. Pikiran sayapun sangat rileks. Tidak lagi terpikirkan bahwa saya tidak lulus kuliah analisis numerik dan medan elektromagnetik. Inilah yang dinamakan liburan sejati.

Pada malam hari tidak banyak yang bisa kami lakukan. Hal ini dikarenakan tidak ada apa-apa di Pulau Peucang. Apalagi listrik yang tersedia di sini sangat terbatas. Jangan kan untuk menyalakan sebuah televisi, untuk men-charge handphone saja sulit. Jam 8 malam disini terasa seperti jam 12 malam di Bandung, sudah sangat sepi dan sunyi. Malam itu akhirnya kami bermain kartu. Ratum yang menjadi juragan kartu memimpin permainan. Entah permainan apa yang dimainkan. Saya sendiri sangat cupu dalam hal kartu mengartu. Oleh karena itu saya putuskan untuk menyusul Asri yang telah tidur lebih dahulu.

Keesokan harinya kami bangun sekitar pukul setengah 5 pagi. Secara bergantian kamipun solat subuh. Entah mengapa solat subuh saya terasa lebih khusuk ketika itu. Suana pagi itu agak mendung. Hujan rintik-rintik masih berjatuhan dari langit. jika dilihat sekilas laut di depan sisi Pulau Peucang yang kami tinggali lebih mirip danau dibandingkan laut. Kita tidak akan bisa melihat garis cakrawala jika melihat ke laut, yang terlihat justru daratan Pulau Jawa. Pulau Jawa dan Pulau Peucang dipisahkan oleh sebuah selat yang sangat kecil. Lebarnya sekitar dua kali lipat sungai-sungai yang ada di Kalimantan. Mungkin ini sebabnya arus di sana cukup kencang. Sesuai hukum fisika, kecepatan fluida akan berbanding terbalik dengan luas penampang dengan sarat debitnya konstan. Menurut BapakTumina saat itu sedang mengalir arus laut dari utara ke selatan.

sany0113.jpg

Bersambung….

NB : Foto-fotonya masih versi pertama, nanti suya upload ladi yang lebih bagus

16 thoughts on “Ujung Kulon : Badak Bercula Satu, Lebih Mirip Mitos (Part 2)

  1. waaah qren,,tapi harus yang ud bpengalaman travelling yah yg bisa ke sana??

    klo blom pernah bs g? harus sama orang bpengalaman yah?

  2. saya ucapkan terima kasih banyak telah berkunjung ke kawasan Taman Nasional Ujung Kulon…tepatnya ke Pulau Peucang (bukan taman nasional pulau peucang), pulau peucang itu berada dalam kawasan taman nasional ujung kulon…dan disana ada kantor resort taman nasional ujung kulon yang mengurusi wilayah pulau peucang…jika ingin mengetahui lebih lanjut tentang ujung kulon, silahkan lihat di http://www.ujung-kulon.net…atau bisa berkunjung ke kantor kami d jl. perintis kemerdekaan km.2 labuan, telp. 0253-801731…terima kasih..

  3. satu hal lagi…di kawasan taman nasional ujung kulon memang tidak boleh ada penduduk yang tinggal di kawasan, terkecuali petugas dari Balai Taman Nasional Ujung Kulon….

  4. pulau peucang itu harus nyebrang pulau lagi apa emank da ada di daratan ujung kolon….. thanks to great trip… amazingggggggggggggggggggggggg…..

  5. Travel report yang bagus dan berguna untuk mereka yang mau berwisata ke TN. Ujungkulon. Lewat komentar ini saya ingin menyampaikan pesan agar bila berkunjung ke TN Ujungkulon, patuhilah peraturan dan etika yang berlaku. Jangan membuang sampah sembarangan (terutama sampah an organik seperti plastik dsb), jangan mengganggu hewan liar (baik dengan suara ataupun dengan mendekatinya), jangan berbuat vandalisme dll. Alangkah baiknya bila kunjungan anda ke Ujungkulon dapat memberi manfaat bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Karena dengan demikian maka secara tidak langsung anda telah berpartisipasi dalam upaya pelestarian alam Ujungkulon. Berkunjunglah ke TN Ujungkulon bersama Admire atau Kagum Ujungkulon, kami adalah satu-satunya tour operator yang menyelenggarakan ekowisata berbasis masyarakat di Ujungkulon. Salam lestari.

    • terima kasih mas telah menbaca, yang saya harapkan pun demikian, dengan adanya tulisan ini, para pelancong diharapkan dapat terstimulasi enviromental awarnes-nya

      terima kasih telah membaca

  6. saya merasa bangga, ternyata komunitas hewan yang ada di Nusantara (Ujungkulon) masih ada, mudah-mudahan semua ini bisa dinikmati oleh anak cucu kita. Badak Bercula satu yang merupakan ciri khas badak jawa mari kita jaga dan lestarikan bersama-sama. Dulu ketika tahun 2000 ada kematian salah satu ekor badak, dan kita dari fkh-ipb mengidentifikasinya, ternyata karena usia dan sakit. Mari kita jaga sumber alam kita dengan seksama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s