Ujung Kulon : Eksotisme di Ujung Jawa (Part 1)

Pagi itu tidak seperti hari libur biasanya. Jam setengah 7 pagi saya sudah mandi dan berpakaian. Saya mengenakan kaos coklat dipadukan dengan celana jeans biru tua. Tak lama kemudian bel kosan saya berbunyi, ternyata taksi yang tadi saya pesan sudah datang. Jaket unit selam nautika bertuliskan ”diver” saya pakai, tas Carier alpine lowe berwarna kuning hitam yang telah saya isi dengan semua keperluan saya selama 4 hari kedepan-pun saya angkat. Terakhir, tas pinggang yang dahulu saya beli dipinggiran jalan saya lingkarkan dengan manis di paha kanan saya. Dengan blue bird saya melesat ke Travel Baraya di jalan Lombok. Awalnya saya ingin naik angkot, akan tetapi karena malemnya saya mendapat musibah (motor saya tiba-tiba rusak di Jalan Ambon jam 12 malam..!! untung ada teman-teman saya yang menolong.. terima kasih teman-temankuw…), dan baru sampai di kosan jam 1 pagi, kemudian packing, sehingga baru bisa tidur sekitar jam 2 pagi, dan harus bangun paginya jam setengah 5, saya takut kecapean. Alhasil saya memutuskan untuk memesan taksi. Terlebih lagi hari itu saya akan menghadapi perjalanan yang panjang.

Di Travel Baraya, saya belum melihat satupun batang hidung teman saya. Saya langsung melunasi tiket yang telah saya booking dua hari yang lalu. Karena belum sarapan, saya memutuskan untuk makan ketoprak di warung seberang jalan. Tak lama kemudian muncul Hari (PN 02), kemudian disusul oleh Soni (PN 03), Ratum (BI 06), dan terakhir Asri (BI 06). Tak lama kemudian travel dengan tujuan Sarinah Tamrin pun berangkat.

Sekitar pukul 10.20 pagi kami sampai di depan Mc Donald Sarinah. Cuaca Jakarta terasa panas sekali. Keringat saya dengan cepat langsung bercucuran. Kamipun memutuskan untuk makan siang (baca : ngaso) dulu di Mc D sambil menunggu teman kami yang lain. Entah kenapa perut saya lapar sekali, seperti belum sarapan. Sayapun langsung memesan burger sapi lada hitam (entah apa namanya), french fries (entah kenapa namanya french fries) dan segelas Coca Cola ukuran large. Dua jam kemudian semua teman saya telah datang : Bowo (SI 06), Gege (FT 04), Alin (BI 05), Sosow (TM 05), Indra (GM 05), Adnan (GM 05), Ogi (FTSL 07), dan Aci (BI 04).

Setelah berfoto bersama, kami ber-13 pun beranjak dari Mc D. Dari Sarinah kami naik Busway dan berhenti di Harmoni. Di Harmoni kami berganti koridor ke arah Kali deres. Ketika masih di dalam busway, tiba-tiba handphone saya bergetar, ada SMS. Ternyata dari teman saya Hudan Herbanu. ” Soharto Meninggal”. Begitulah isi smsnya, singkat tapi cukup membuat saya kaget. Innalillahi wa Innailaihi rojiuun. Seorang jendral besar yang dahulu sangat berkuasa, gagah, dan tidak tersentuh ternyata bisa juga sakit dan meninggal. Saya jadi menasehati diri saya sendiri : jika kelak jadi seorang pemimpin, kita harus membumi, agar sisi-sisi kemanusian kita masih tampak dan terjaga. Sehingga ketika kita sudah tidak lagi punya kekuasaan, orang masih tetap melihat dan memperlakukan kita sebagai manusia.

Sekitar pukul 13.30 kami telah sampai di Terminal Kali Deres. Perjalanan memang relatif cepat, karena hari itu adalah hari Minggu ditambah beberapa ruas jalan utama sedang bebas kendaraan bermotor. Sesampainya di Terminal Kalideres kami langsung mencari bus dengan tujuan Labuan. Cuaca terminal siang itu benar-benar menyiksa kami. Panas dan kering. Belum lagi asap hitam yang disemportkan oleh bus yang pastinya tidak lulus tes emisi CO2 . Beberapa pemuda langsung mengerubungi kami. Beberapa diantara mereka bertanya kami akan kemana, beberapa yang lainnya memaksa untuk menolong membawa tas. Benar-benar tidak nyaman.

Setelah beberapa lama mencari, akhirnya kami mendapati bus dengan jurusan Kali Deres – Serang – Labuan. Sekilas saya merasa ragu, apa benar bus ini bisa membawa kami ke Labuan. Pasalanya bus yang kami temukan sudah cukup tua. Perkiraan saya bus ini diproduksi tahun 1990-an. Belum lagi kondisinya yang sangat tidak terawat. Kursi penumpangnya saja sudah compang-camping. Jangan-jangan supirnya tidak punya SIM. Yah namanya juga bus ekonomi. Sebenarnya ada bus yang ber AC. Dengan alasan efisiensi biaya, akhirnya kami putuskan untuk naik bus ekonomi.

Kami memilih deretan kursi paling belakang. Tas-tas carier kami letakkan semuanya di belakang. Di kursi paling belakang duduk Indra, Ratum, Hari, Ogi dan Soni. Di depannya ada Alin, Bowo dan Adnan yang duduk sebangku. Sejajar dengan Alin, Bowo dan Adnan, ada Gege dan Sosow yang duduk bersama. Sementara saya duduk paling depan bersama Aci dan Asri. Tak lama, bus pun jalan. Awalnya bus ini tak diisi oleh banyak penumpang. Oleh karena itu, bus ini harus nge-tem beberapa kali untuk mengisi penumpang. Cuaca di dalam bus luar biasa panas. Saya langsung mandi keringat. Seperti berada di ruang sauna rasanya.

Dalam perjalanan, kami pun didatangi oleh kenek bus. Tiket ke Labuan harus kami bayar dengan harga 20 ribu. Padahal saya lihat di kaca depan bus harganya 17 ribu. Ukh.. Sungguh mengesalkan. Aci yang duduk di sebalah saya sempat rada sewot. Aci adalah orang yang paling pantang ditipu, terutama untuk masalah bayar membayar. Beberapa kali Aci menanyakan harga kepada kenek bus. Tetapi jawaban kenek bus tidak kunjung memuaskan. Mereka meng-kambing hitamkan barang bawaan kami. Aci masih tetap tidak terima, tapi akhirnya saya menenangkannya. Daripada nanti ribut-ribut dan kami akhirnya tidak selamat hanya karena uang 3 ribu rupiah.

Selama perjalanan puluhan pengamen dan pedagang keluar masuk. Beberapa diantara mereka ada yang berjualan dengan sopan, tetapi kebanyakan berjualan dengan cukup menggangu. Mereka tidak segan-segan menyodorkan barang jualan mereka seenaknya bahkan memaksa. Tidak hanya itu, kami didatangi oleh seorang yang mabuk (setelah berdikusi akhirnya kami menyimpulkan bahwa si begundal ini pura-pura mabuk) dan dengan memaksa dia meminta duit. Dengan terpaksa kami pun menyerahkan selembar seribu rupiah. Yang menjadi prioritas kami saat itu memang keselamatan. Mungkin banyak orang senenaknya karena memandang kami anak ingusan yang baru pertama kali ke tereminal dan naik bus ekonomi. Yah saya hanya bisa ikhlas dan mendoakan agar mereka semua diampuni dosa-dosanya. Intinya kondisi terminal dan perjalanan kami sangat tidak nyaman. Saya jadi merasa program pemerintah ”Visit Indonesia 2008” adalah omong kosong dan hanya formalitas belaka. Pasalnya kami sedang menuju daerah pariwisata yang seharusnya akses kesana gampang dan nyaman.

Perjalanan ke labuan kami tempuh dalam waktu sekitar 5 jam. Di bus, saya, Aci dan Asri berbincang-bincang. Banyak hal kami obrolkan, topik yang paling hangat adalah tentang perselingkuhan, hahah.. Di bus kami sempat membeli salak 4 buah dengan harga 1000 rupiah. Salak yang kami beli cukup enak, tapi tidak semanis salak pondoh. Kata Aci salak dan jeruk yang di jual sangat murah. Katanya mana ada di bandung orang jual salak 30 buah dengan harga 5 ribu rupiah.

Setelah 5 jam-an akhirnya kami pun sampai di Labuan. Labuan adalah kota kecil di pesisir barat Provinsi Banten. Tak banyak yang saya ketahui tentang kota ini. Di terminal Labuan kami telah dijemput oleh sebuah elf yang dikirim oleh Pak Matang. Pak Matang adalah biro pariwisata kami. Dia tinggal di Sumur, kota yang akan kami tuju. Pekerjaan beliau sehari-harinya memang sebagai travel agent ke Ujung Kulon. Tapi jangan anda bayangkan travel agent dengan kantor dan meja kerja. Pria setengah baya ini hanya kerja dengan beberapa anak buah yang sebenernya adalah nakhoda dan anak buah kapal. Beliau tidak punya kantor apalagi mobil kerja, beliau hanya punya 4 buah kapal nelayan dengan panjang sekitar 15 meter.

Perjalanan ke sumur terasa sangat singkat. Langit ketika itu agak mendung. Angin yang kering masuk kedalam elf cukup membuat badan saya tidak enak. Perjalananpun cukup menyeramkan. Sepanjang perjalan di sepanjang kiri dan kanan jalan hanya terlihat hutan, sawah, padang pohon kelapa dan sesekali rumah penduduk. Apalagi langit sudah mulai gelap, cukup mencekam. Sayapun memutuskan untuk memutar creative zen saya. Lagu Angel and Airwaves menyibukkan telinga saya, dan tak lama sayapun terlelap.

Jam 8 malam akhirnya kami tiba di Sumur. Suasana di Sumur saat itu sepi sekali, padahal waktu baru menunjukkan pukul 8 malam. Di sana telah menunggu Pak Matang. Setelah bersalam-salaman akhirnya kamipun diantra ke rumah beliau. Rumah beliau tidak begitu besar, mungki hanya sekitar 20 kali 20 meter. Di depan rumah beliau kami disambut dengan welcome drink teh manis panas. Sambil duduk-duduk kami dan minum teh manis panas, kami pun berbincang-bincang. Malam itu kami juga memangdang langit bersama (so sweat…). Langit pada malam itu sangat bersih, tidak ada awan. Kami dapat dengan jelas melihat bintang-bintang yang bertaburan. Sungguh nikmat.. Setelah sekitar 12 jam menempuh perjalanan yang melelahkan akhirnya kamipun mendapatkan moment seperti ini. Malam itu kami tidur di rumah Pak Matang. Untuk yang cowo, kami tidur ala pindang di ruang tamu, sedang kan tiga orang cewe di pinjamkan sebuah kamar.

Keesokan paginya setelah solat subuh kamipun kembali melanjutkan perjalanan. Perjalanan kami berikutnya bukan dengan bus atau elf, akan tetapi naik kapal nelayan. Sumur adalah kota kecil (mungkin lebih cocok desa) di pesisir barat provinsi banten, sebelah selatan Kota Labuan. Jika lewat jalan darat mungkin bisa memakan waktu seharian lagi untuk mencapai Ujung Kulon, akan tetapi jika lewat laut, kita dapat tiba di Ujung Kulon hanya dalam waktu sekitar 3 jam.

Pagi itu suasana di Sumur belum terlalu ramai. Beberapa nelayan terlihat baru pulang dari melaut. Sementara anak-anak SD pun terlihat pergi bersekolah seperti biasa. Kami berangkat dari pelabuhan nelayan. Di pelabuhan nelayan bau amis ikan menusuk hidung saya. Di pinggir pantai terlihat banyak bagan nelayan yang tidak diapakai. Bagan adalah semacam bangunan mengapung dari bambu. Dipakai nelayan untuk menangkap ikan. Kata pak matang, bagan tersebut biasanya di tengah laut. Tapi karena nelayan banyak yang lagi istirahat karena gelombang lagi kuat maka untuk sementara diparkirkan di sana. Tak terbayang kan oleh saya tinggal dalam sebuah bagan berhari-hari di tengah laut.

sany0063.jpg

Kami berangkat dengan menggunakan kapal nelayan dengan panjang sekitar 15 meter dan lebar sekitar 4 meter. Tujuan kami adalah Pulau Peucang. Pulau yang berada tepat di ujung Semenanjung Ujung Kulon. Setelah kami menempuh sekitar 2/3 perjalanan handphone saya tidak menangkap sinyal apa-apa lagi. Pulau jawa yang ada di sebelah timur kami pun hanya diisi hutan-hutan. Kapal-kapal nelayan mulai sepi. Kami mulai memasuki remote area.

Sekitar pukul 10 kami tiba di Pulau Peucang. Nakhoda memarkirkan kapalnya di dersebuah dermaga, satu-satunya dermaga yang ada di Pulau Peucang. Di pulau ini hanya ada beberapa bangunan panggung, sebuah tower (entah tower apa) beberapa panel surya dan sebuah ruangan generator set. Pulau ini adalah wilayah taman nasional. Kami pun langsung menuju ke sekretariat taman nasional. Disana kami didata. Maklum ini bukan wilayah umum, setiap orang yang ingin masuk ke sini harus melapor dulu. Di buku tamu saya melihat nama-nama orang asing dari finland, france, dan Italy. Ternyata di buku tamu ada nama yang saya kenal. Mereka adalah rombongan anak arsitektur yang baru saja pulang dua hari sebelum kami tiba. Mereka sempat membuat kami takut untuk pergi ke Ujung Kulon. Pasalanya ada kabar beredar bahwa mereka hilang di Ujung Kulon. apalagi ketika itu kami juga mendapat berita bahwa air laut sedang tidak bersahat. Ternyata mereka hanya telat pulang dua hari, dan karena tidak ada sinyal mereka tidak memberi kabar ke Bandung. Setiap akan pergi ke laut pasti ada saja kabar menakutkan yang saya dengar.

sany0069.jpg

Pantai pulau ini sangat indah. Pasirnya sangat putih dan lembut. Jika kita menapakkan kaki di pasir pantai maka tekapak kaki kita akan tenggelam ke dalam pasir sekitar 5 cm. Pantainya pun sangat landai. Air lautnya juga sangat jernih. Jarak pandang (visibility) sekitar 15 meter. Di sekitar dermaga terlihat ratusan ikan-ikan kecil berkoloni. Sesekali terlihat ikan terbang melompat-lompat. Di sekeliling kamipun yang ada hanya hutan-hutan hijau yang membentang. Beberapa monyet Macaca sp. terlihat bermain-main dengan bebas. Subhanallah.. Sungguh Indah…

sany0104.jpg

Bersambung….

NB : Foto-fotonya masih versi pertama, nanti suya upload ladi yang lebih bagus

2 thoughts on “Ujung Kulon : Eksotisme di Ujung Jawa (Part 1)

  1. deuhhh….seneng bgt kayanya…
    mauu dunkkkk…
    sory ya friieeeeeeeeeeendssss gw ga ikut…
    oia,,lyat2 blog gw y cap..trus ksi komen k foto2nya…
    oke2?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s