Momen tersulit dalam hidup saya..

Setiap orang pasti pernah punya pengalaman menyeramkan, saat dimana kita berada dalam ketakutan yang amat sangat. Yang membuat saya tidak percaya adalah bagaimana saya bisa lolos dari saat-saat sulit seperti itu. Kemaren malam saya mencoba untuk bernostalgia dengan masa lalu saya, dan ternyata saya mendapatkan ada lima momen paling sulit dalam hidup saya. Kejadian berikut di urutkan berdasarkan waktu kejadian dari yang paling dahulu.

1. Kehilangan lembar jawaban saat ujian

Kejadian ini terjadi saat saya kelas 6 SD. Hari itu adalah hari pertama EBTANAS (evaluasi belajar tahap akhir nasional). Pada pagi hari, kami murid SDN 001 Rintis Pekanbaru dibariskan terlebih dahulu di depan sekolah. Ketika itu saya berada dalam baris paling depan. Hari itu memang saya sangat percaya diri menghadapi ujian. Saya telah belajar dengan baik, sehingga saya merasa yakin akan bisa. Sewaktu SD, saya masih termasuk kasta siswa yang pintar di kelas. Siswa yang sering mendapatkan perhatian lebih dari guru. Tapi seiring berjalannya waktu, kasta saya menurun secara linier. Dan puncak penurunan kasta saya adalah saat ini, saat dimana saya berkuliah bersama orang-orang yang memiliki intelegensia diatas rata-rata. <!–more–>

Tepat pukul 7 kami masuk ke dalam ruang kelas. Saya duduk di baris ke lima dari depan. Karena saat itu sedang ujian, maka satu kelas hanya berisi dua puluh orang. Sialnya, saat itu saya sekelas dengan teman saya bernama Riki (bukan nama sebenarnya). Riki adalah salah satu begundal di sekolah saya. Bandel, nilai jelek, suka bikin masalah, yah mungkin seperti bombom dalam sinetron bidadari. Seperti biasa, saat ujian si bombom grasak grusuk meminta jawaban. Karena saat itu saya adalah salah satu siswa yang cukup pintar, maka bombom pun meminta jawaban ke saya. Tak tanggung-tanggung dia memaksa untuk mengambil lembar jawaban saya. Akhirnya sayapun dengan terpaksa memberikan lembar jawaban saya. Seperti mendapat wangsit, saat itu pengwas ujian tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke lorong dimana saya duduk. Dengan bodohnya saat itu si bombom hanya melihat saya, bukan langsung mengembalikan jawaban saya sebelum si pengawas memeriksa meja saya. Secara intuitif, saat itu saya langsung bangkit dari tempat duduk saya, pura-pura membuang sampah ke depan kelas, kemudian kembali saat si pengawas sedang membelakangi saya, mengambil jawaban dari si bombom sialan (duduknya di depan saya), dan langsung duduk kembali di tempat saya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Huff….. mungkin kejadian ini terlihat biasa, tapi ketika itu saya masih kelas 6 SD, cukup membuat saya berkeringat dingin. Kalau saja saat itu saya ketahuan bekerja sama, bisa-bisa saya tidak kenal Bapak Iyas Munawar sekarang.

2. Disekap perampok

Pagi itu saya masih males-malesan di tempat tidur, padahal hari sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Sehabis sahur saya memang biasa tidur lagi dan bangun sekitar pukul 9. Apalagi ketika itu saya sedang liburan sekolah. Pagi itu di rumah hanya ada empat orang. Biasanya rumah saya ditinggali delapan orang. Ayah, mama, empat orang anak, dan dua orang pembantu. Ayah saya pagi itu baru saja pergi keluar kota, sementara mama saya juga baru saja pergi ke rumah sakit untuk general checkup. Adik saya sedang pergi les, sementara salah seorang pembantu (sebenernya masih keluarga saya) saya juga sedang kuliah ekstensi. Rumah saya memang sepi pagi itu.

Saya tidur-tiduran satu kamar dengan abang dan adik perempuan saya. Saat itu abang saya sedang asik bermain game di laptop, sementara adik saya sedang tidur-tiduran mengikuti abangnya yang pemalas. Tiba-tiba terdengar suara pintu depan rumah saya didobrak. Sayapun kaget. Dengan refleks saya bangun dan di pintu kamar saya sudah ada seorang laki-laki berpakaian hitam sedang memegang clurit. Matanya melotot ke arah kami bertiga. Di sela-sela pintu saya melihat teman-teman mereka sedang memeriksa seluruh bagian rumah saya. Jumlah mereka mungkin sekitar 7 – 10 orang. Yang anehnya pembantu saya, yang saat itu sedang ngepel lantai, ketika melihat ada perampok masuk ke rumah saya, dia malah menyiram perampok tersebut dengan air pel. Mungkin nanti kalau saya ingin mencari pembantu, akan saya adakan dahulu diklat yang mengajarkan jika rumah dirampok, maka masih banyak hal yang bisa dilakukan selain menyiram perampok dengan air pel.

Kami bertiga lansung digiring ke kamar mandi dengan clurit melingkar di leher saya. Saya takjub dengan nyali abang saya, ketika itu dia masih saja bisa melawan maling dengan tidak mau digirin. Kami dikumpulkan di kamar mandi. Ketika itu perasaan saya sudah benar-benar pasrah, apapun yang terjadi pada kami berempat, saya akan menerimanya sebagai takdir dari tuhan. Alangkah beruntungnya kami, saat itu saya hanya disekap. Kaki dan tangan saya diikat, mulut dan mata saya di tutup. Persis seperti adegan sebuah sinetron. Selama saya disekap, saya hanya bisa mendengar samara-samar suara para perampok mengobrak-abrik rumah saya. Setelah sepuluh menit, saya mendengar suara mesin mobil dan setelah itu tidak terdengar apa-apa lagi. Selayaknya James Bond, kami pun mencoba melepaskan diri. Setelah kami berhasil melepaskan diri, kami segera mencari bantuan, dan tak lama kemudian polisi datang.

3. Terombang ambing di lautan lepas

Kejadian ini terjadi ketika saya sedang berada dalam berjalanan trip ke Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Saat itu saya bersama teman-teman saya dari Unit Selam Nautika ITB. Kami berangkat pagi hari dengan kapal nelayan dari Muara Angke. Cuaca ketika kami berangkat memang sudah tidak bersahabat, hujan gerimis dan angin bertiup kencang. Namun ketika itu kami memaksa untuk tetap berangkat. Ternyata alam memang tidak pernah berbohong, di tengah laut gelombang sangat kencang. Kapal kami benar-benar menjadi bulan-bulanan laut. Saya sangat takut jika kapal ini tebalik, bukan karena saya tidak bisa berenang, akan tetapi karena jika kapal ini terbalik, maka kemungkinan kacamata saya akan lepas dan saya tidak bisa membayangkan terdampar di tengah laut dengan jangkauan pengelihatan tidak lebih dari satu meter. Ketakutan terbesar saya adalah ketika ada ombak setinggi sekitar lima meter menerjang kapal kami. Ketika itu kami berada 5 meter di bawah permukaan air. Bahkan menurut teman saya yang berada di atap kapal, kapal sempat beberapa kali berhenti karena di depan kami ada pusaran air yang bisa menghisap kapal. Tapi alhamdulillah kami bisa sampai di tujuan meskipun sempat berteduh beberapa jam di sebuah pulau.

4. Rally hantu di Cimenyan

Anda tahu daerah Cimenyan? Dari namanya saja sudah menyeramkan, seperti bahan sesajen. Daerah ini terletak di utara Bandung. Anda harus menghabiskan Jalan Sersan Bajuri sampai ke ujung. Daerah ini benar-benar berada diaras bukit, dimana tidak ada apa-apa disana selain saung-saung tempat orang berjualan mie, kopi, jangung bakar, sekoteng dan makanan-makanan lain yang bisa menghangatkan badan. Daerah ini ramai kalau malam minggu, banyak orang yang sengaja datang kesana hanya untuk menikmati pemandangan bandung dari atas bukit.

Hari itu kebetulan ada teman saya dari Jogja yang sedang maen-maen ke Bandung. Saya dan beberapa teman SMA sayapun memutuskan untuk mengajak beliau berjalan-jalan di Bandung. Akhirnya kami memutuskan untuk memakai mobil teman saya : Mobil kijang land rover, produksi sekitar tahun 90an. Mobil berisi sepuluh orang. Azas manfaat merupakan kata yang tepat untuk menggambarkan hal ini. Mobil pun menuju Cimenyan. Setelah makan dan ngobrol akhirnya kamipun pulang, akan tetapi ketika itu jalan pulang penuh dengan motor-motor yang baru datang. Saat itu juga seorang tukang parkir menyarankan kami untuk belok ke kiri sambil berkata “jalan alternaip dek, jalan alternatip”. Belakangan saya tahu kalau ini ternyata jalan alternatip menuju neraka.

Awalnya tak ada yang aneh dengan jalan ini. Tapi lama kelamaan tak ada lagi rumah-rumah, jalanpun menjadi jelek, tidak beraspal dan banyak kerikilnya. Bahkan sering kali kami disekitar kami gelap gulita, hanya ada lampu mobil yang menerangi. Yang membuat kami semakin tidak tenang adalah ternyata jalannya bercabang-cabang, dan sialnya tidak ada satupun dari kami yang tahu jalan. Ingin bertanya, tapi kepada siapa? tak ada apapun disini selain semak belukar. Akhirnya dengan bekal intuisi kami yang sama sekali belum teruji, kamipun mencoba menebak-nebak jalan. Jalan bercabang beberapa kali, dan pilihan kami masih tetap pada intuisi. Kami hanya berharap saat itu intuisi tidak mengkhianati kami.

Akhirnya kami sampai pada suatu tikungan 180 derajat, dimana jalan tersebut miring ke arah jurang yang ada di pinggir jalan. Mobil coba dibelokkan oleh teman saya. Tidak cukup hanya sekali belok, akhirnya teman saya kembali memundurkan mobil. Tapi apa yang terjadi? Ternyata ban mobil kami selip, alhasil mobil tidak bisa dimundurkan. Saat itu permukaan jalan pun miring ke a rah jurang dimana jika mobil tidak direm, maka mobil akan meluncur kearah jurang dan besok tubuh kami semua akan ditemukan oleh warga sekitar. Sungguh kritis keadaan malam itu : mobil dengan muatan penuh, selip di jalan yang menurun ke arah jurang di tengah-tengah hutan, dimana tidak ada siapapun disana, ditambah lagi supir kami bukan M. Schumacer. Sebagai mahasiswa ITB kami cukup tahu mobil dengan muatan penuh memiliki massa yang besar, massa yang besar pasti memiliki energi kinetik yang besar pula. Oleh karena itu kami semua segera turun dari mobil. Si supir langsung dengan sigap memutar stir walaupun dengan susah payah, maklum karena ini mobil lama maka mobil ini adalah tipe steering by power, hanya cocok di kendarai oleh nakhoda kapal. Akhirnya kami memutuskan untuk mendorong bersama mobil tersebut melawan arah gaya gravitasi dan akhirnya kamipun selamat. Ternyata penderitaan kami tidak berhenti sampai di situ. Setelah urusan mobil beres, beberapa teman saya mendengar suara seorang perempuan menangis dari pohon bamboo, disaat yang bersamaan ada anjing yang melonglong bagai serigala. Dengan tidak banyak omong dan dengan hanya liat-liatan, kami semua langsung masuk ke dalam mobil. Ini serius kawan, bukan cerita sampah sinetron hantu dengan budget terbatas seperti yang sedang marak di televisi itu. Bulu kuduk saya ketika itu langsung berdiri. Akhirnya selama perjalanan pulang kami semua berdiam diri, tidak ada yang berani membahas selama kami belum keluar dari hutan, suasananya benar-benar mencekam saat itu. Satu hal yang saya sukuri adalah suara tangisan tersebut terdengar tepat setelah urusan mobil kami beres, saya tidak bisa membayangkan jika suara tersebut kami dengar saat kami masih panik dengan mobil kami yang akan masuk jurang.

5. Motor “belalang tempur” saya mengamuk

Ketika itu waktu menunjukkan pukul 24.00 lebih sedikit. Saat itu adalah malam minggu. Saya baru pulang dari kosan teman saya. Ketika itu saya melewati daerah jalan lombok (dekat SMA3). Saat itu entah kenapa tiba-tiba gas mesin motor tidak bisa diturunkan, hal ini berarti RPM (rotation per minutes) juga tidak bisa di turunkan. Akibatnya laju motor saya tidak bisa dikurangi. Pilihannya hanya dua : gigi tidak saya naikkan, laju motor tidak akan bertambah secara signifikan tetapi mesin motor saya akan jebol, atau terus menaikkan gigi untuk mencegah jebolnya mesin tapi dengan akibat kecepatan motor terus bertambah. Karena panik, sama sekali tidak terpikirkan dalam otak saya bahwa ada pilihan ketiga, yaitu mematikan mesin dan motor saya akan berhenti. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil pilihan kedua. Saya terus menaikkan gigi, dimana kecepatan motor saya terus naik, sambil menjaga agar saya tidak tertabrak. Untung saat itu sudah malam, jalanan sudah sepi. Tapi itu justru berbahaya. Banyak kecelakaan terjadi justru di saat jalanan sudah sepi.

Saat itu saya benar-benar seperti anak jalanan yang ugal-ugalan. Akhirny saya berhasil bertahan selama sekitar 5 menit dengan motor yang kecepatannya terus bertambah. Ternyata saya memiliki bakat terpendam untuk menjadi Valentino Rossi. Akhirnya si Valentino Rossi ini terjatuh di persimpangan Jalan Ambon dengan jalan yang ada pool keramat jati (saya lupa jalan apa). Ketika itu saya sedang belok dan karena jalanan licin ditambah saya sedang menaiki mesin 150 cc yang sedang mengamuk, maka ban motor saya selip dan akhirnya saya terjatuh dan terseret di jalan. Beruntung saya tidak apa-apa. Tapi anehnya sekelompok orang yang berada 100 meter di depan saya sama sekali tidak menlong saya ketika itu. Mungkin mereka berpikir bahwa saya adalah anak yang ugal-ugalan di jalan. Jangan-jangan ketika melihat saya jatuh mereka malah berujar “sukurin lu..!! makanya jangan negbut-ngebut..” ukh…. sial…!! Kemudian saya menelpon teman saya untuk meminta bantuan. Tak lama Kia Picanto hijau datang, alangkah beruntungnya saya karena punya teman yang sangat baik.

7 thoughts on “Momen tersulit dalam hidup saya..

  1. gw juga pernah ngalamin tuh cap kejadian no 5!
    kalo gw mah paksa netralin, terus matiin mesin.
    untung otak gw masih jalan! hehe..
    nah elu tinggal tarik kopling terus rem kan?:p
    langsung servis katanya ada yang kotor dimananya gitu..

  2. @dhzcorner
    justru itu nang, waktu itu gua panik, jadinya gak kepikiran kesana

    @aul
    hehehe, tapi belum dikasih sama panitianya ul, katanya dana blum turun dari sponsor, gpp lah, kita mah paham lah klo urusan begini

  3. lo bs inget kehilangan lembar ujian wkt sd..
    hebat bgt..
    lo mci dndam ga ma tmn lo itu???
    eh..klo blh tau siapa siy tmn lo wkt sd yg paling berkesan bwt lo??
    gw emg gini orgny..
    sk nostalgia,abs gw dah ssh ktm tmn2 sd gw..
    hmm,,lam knal bro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s