Ujung Kulon : Perjalanan yang penuh hikmah (part 3, selesai)

Pagi itu udara terasa dingin, tapi kering. Kami bangun sekitar pukul 5 subuh. Setelah itu kamipun solat bergantian. Setelah solat, sambil menuggu fajar kami hanya diam di barak. Ada yang memilih untuk ngobrol, main kartu, membaca buku, tidur-tiduran, membakar rokok, ataupun seperti saya yang hanya diam memperhatikan tingkah laku yang lain.Hujan rintik-rintik, warna langit yang suram, ditambah kabur yang tebal benar-benar membuat suasana pagi itu menjadi sangat dramatis. Akibat langit yang mendung dan kabut yang tebal kami tak bisa menyaksikan matahari menyapa di timur bumi.

raw00143.jpg

Agenda kami hari itu memang menjelajahi keindahan laut Ujung Kulon. Kami tidak pergi terlalu jauh dari sekitar Pulau Peucang. Kami hanya melakukan skin dive, oleh karena itu kami harus mencari laut yang tidak terlalu dalam. Selat di depan Pulau Peucang memang lokasi yang sangat sempurna, karena memang lautnya tidak terlalu dalam, namun sayang arusnya cukup deras.

Terumbu karang di sekitar Pulau Peucang cukup bagus, namun kurang banyak variasinya. Terumbu karang didominasi oleh terumbu karang yang bercabang-cabang seperti tanduk rusa. Mengingat saya bukan dari jurusan biologi, jadi cuma itu yang bisa saya deskripsikan :p. Ikan-ikannyapun sangat banyak jenisnya. Saya sempat menemukan ikan a, ikan b, ikan c, dan ikan d. Lagi-lagi saya tidak dapat menyebutkan jenisnya. Mungkin ini PR buat saya untuk mengingat nama-nama biota laut. Hebatnya laut di sini adalah kita tidak perlu menyelam hingga bermeter-meter untuk menemukan banyak ikan-ikan laut yang indah. Bahkan pada kedalaman sekitar 1 meter kita dapat dengan mudah menemukan populasi ikan beserta terumbu karang yang bagus.

Satu hal yang kami sesali ketika itu adalah banyaknya ubur-ubur kecil yang terus menerus menyengat. Kehadiran ubur-ubur kecil ini biasanya ditandai dengan terdenganya bunyi seperti bunyi percikan api jika kita berada di dalam air. Ubur-ubur ini biasanya tidak terlihat karena ukurannya yang sangat kecil dan warnanya yang transparan. Kehadiran ubur-ubur ini sangat menggangu, karena anda akan merasa gatal-gatal di dalam air karena sengatan ubur-ubur ini. Badan anda pun akan menjadi merah-merah. Reaksi tiap orang biasanya berbeda-beda ketika disengat oleh ubur-ubur semacam ini. Saya sendiri hanya menimbulkan bintik-bintik merah di sekujur tubuh yang dapat hilang dalam dua hari. Sementara teman saya ada yang sekujur tubuhnya bengkak-bengkak seperti disengat lebah. Mungkin tergantung seberapa bisa tubuh orang tersebut menghasilkan antibody sebagai rekasi dari racun ubur-ubur tersebut. Kadang sotoy memang diperlukan dalam kasus seperti ini. Saya jadi tau kenapa orang rela membeli wet suit walaupun harganya lebih dari 500 ribu.

Kami selesai diving sekitar pukul 2 sore. Rencananya sore itu kami akan pergi kembali ke laut untuk melihat sunset. Sisi pantai Pulau Peucang yang kami tinggali tidak menghadap ke barat, alhasil kami tidak bisa melihat apapun dari sana. Tapi apalah daya, badan kami tak bersikap koperatif. Setelah mandi dan berberes badan kami semua terkapar di kamar. Maklum, 3 hari kebelakang hari-hari kami sangat melelahkan. Akhirnya kami melaksanakan plan b : berjalan-jalan masuk ke hutan Pulau Peucang. Lagi-lagi kami bertindak bodoh ketika itu. Kami masuk kehutan dengan pakaian pantai. Jelasnya : memakai kaos oblong tipis lengan pendek, celana pendek pantai motif bunga-bunga dan sandal jepit. Nyamuk hutan benar-benar berpesta ketika itu. Kami memang tidak membawa persiapan untuk masuk ke hutan. Awalnya kami memang hanya becencana untuk diving.

Kami berjalan masuk ke arah tengah Pulau Peucang. Kalau dipikir-pikir sebenarnya ketika itu kami cukup nekat. Masuk ke hutan yang masih alami, tanpa pemandu, tanpa peta, tanpa alat navigasi, tanpa seorang pun yang menguasai navigasi darat, ditambah ketika itu hari sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Tidak terbayang oleh saya jika ketika itu kami bertemu binatang buas, ular misalnya. Atau bagaimana jika kami tersesat dan hari mulai gelap. Ketika itu kami akhirnya memutuskan untuk membatasi hingga pukul setengah 6. Jika sudah setengah 6 kami harus kembali berputar balik menuju barak.

Suasana di hutan tersebut sangat lah alami. Pohon-pohon besar masih berdiri dengan kokohnya membentuk atap alami yang menjadi langit-langit hutan. Suasana di hutan sangat lembab, hal ini mungkin disebabkan tidak adanya penetrasi langsung dari sinar matahari akibat atap buatan yang dibentuk pohon-pohon besar. Tidak jarang kami menemukan burung-burung liat bertengger di akar-akar gantung pohon. Sesekali kami juga menemukan rusa dan burung merak sedang bermain-main.

raw00151.jpg

raw00152.jpg

Tidak jarang Aci, Alin, Asri dan Ratum, teman saya yang dari jurusan biologi, memberikan kuliah singkat tentang jenis tanaman apa yang kami temukan. Ketika kami di laut dan menemukan fenomena-fenomena fisis dari air laut, maka giliran teman saya yang dari jurusan geofisika, metereologi dan oseanografi yang berpetuah. Ketika kami sedang melihat-lihat sel photovoltaic yang ada di dekat penginapan, giliran teman saya yang dari jurusan teknik fisika yang unjuk kebolehan. Kami seperti memiliki tour guide disetiap saat. Yah begitulah hidup. Saling mengisi dan berbagi. Sungguh indah. Lain kali ingin rasanya saya mengajak rombongan kami untuk mengunjungi power plant atau prabrik turbin agar saya bisa mendapat giliran menjadi guide.

Besok adalah hari dimana kami harus pulang. Kami hanya 3 hari dua malam di Pulau Pecucang. Sebenarnya saya sendiri merasa masih belum puas. Masih banyak sisi-sisi pulau ini yang belum tereksplore, baik laut maupun darat. Tapi apa boleh buat. Peraturan tak bisa diajak kompromi. Dua hari dari hari itu adalah hari dimana masa pengambilan kartu studi mahasiswa berakhir. Kalau kami telat mencetak kartu studi mahasiswa, kami dianggap tidak mendaftar ulang. Artinya kami harus nganggur selama satu semester. Perjalanan akan memakan waktu satu hari. Kami hanya punya satu hari cadangan.

Seperti hari kemarin, cuaca pagi itu mendung. Hujan masih turun rintik-rintik. Sekitar pukul tujuh kapal kami bertolak dari dermaga Pulau Peucang. Kami menikmati telur dan ikan tongkol kesukaan kami di kapal. Pagi itu terlihat banyak kalelawar berterbangan. Setelah saya amati ternyata pagi ini semua kalelawar entah mengapa terbang dari Barat ke Timur. Saya baru ingat ketika sore hari, kalelawar-kalelawar tersebut terbang pada arah yang sebaliknya. Mungkin ini seperti kita yang melakukan rutinitas setiap hari. Pagi pergi ke kampus, sore pulang ke kosan.

Ketika itu kami tidak langsung menuju sumur. Kami menyempatkan diri untuk melihat mercu suar yang berada di ujung Semenanjung Ujung Kulon. Kami berlayar ke Selatan menuju Samudra Hindia. Pagi itu ombak terasa sangat kuat. Ketika itu sepertinya arus laut mengalir dari Selatan ke Utara, itu artinya kami berlayar menantang ombak. Setelah melihat mercu suar, kami masih terus mencoba berlayar ke Selatan. Tak lama dari depan kami ada sebuah kapal yang berlayar berekebalikan arah dengan kami. Ketika berpapasan, sekilas saya melihat sang nakhoda kapal berteriak memberikan isyarat kedapa nakhoda kami dengan memutar-mutarkan tangannya. Tidak jelas ia berkata apa, suara ombak dan mesin kapal sangat dominan ketika itu. Mungkin maksudnya mereka menyuruh kami untuk segera berputar. Benar saja. Tak lama ombak menjadi begitu ganas. Terdengar suara ombak yang menabrak tebing pantai begitu mengerikan. Ketika itu kami benar-benar langusung menatap Samudra hindia, tanpa halangan sedikit pun.

Tanpa pikir panjang, sang nakhoda lansung menuruti isyarat alam untuk berputar. Saat itu nakhoda harus hati-hati untuk memutar kapal, karena kalau gegabah, kapal bisa terbalik karena terhantam ombak dari samping. Mesin kapalpun langsung dimatikan. Ketika ada sebuah ombak menabrak kapal kami dari depan dan ombak kembali turun diikuti dengan kapal kami yang “merosot” kebelakang, dengan cekatan sang nakhoda kapal langsung memutar stir dan kapal kami telah berbalik seperti mobil yang sedang parkir mundur.Hal ini seperti memanfaatkan energi ombak untuk memutar. Oleh karena itulah mesin kapal harus dimatikan, karena kalau tidak, itu artinya sama saja melawan energi ombak, dan tentu saja hal ini justru dapat membahayakan. Memang sepertinya ini adalah teknik yang dipelahari nelayan untuk memutar kapal di laut yang ombaknya besar.

Dalam perjalanan pulang beberapa kali kami melewati kapal nelayan yang sedang “mangkal” di tengah laut. Dari penampilan mereka, sangat jelas kalau nelayan-nelayan tersebut baru saja bangun tidur. Kata nakhoda kapal, mereka terpakasa menginap di tengah laut karena mereka pulang kemalaman. Jika tidak didukung dengan kapal yang baik, berlayar pada malam hari sama saja menantang maut. Ombak yang besar, angin malam yang menusuk dan batu karang yang tidak terlihat merupakan resiko yang harus dihadapi. Bahkan nelayan biasanya hidup berhari-hari di laut. Nelayan biasanya berlayar berpuluh-puluh kilometer untuk mencari spot yang ikannya banyak. Nelayan asal Pangandaran bisa saja mencari ikan sampai ke Ujung Kulon. Bapak Cecep sendiri (anak buah kapal kami) sudah seminggu tidak mengunjungi anak istrinya. Bahkan bapak Cecep sudah pernah satu kali bercerai karena istrinya tidak betah dengan kehidupan beliau. Tapi mau bagaimana lagi. Bagi Bapak Cecep, hidup bukan pilihan. Demi menyambung hidup, kehidupan seperti itu mau tidak mau harus dijalani.

Setelah sekitar satu jam perjalanan tiba-tiba kami tertimpa musibah. Mesin kapal tiba-tiba mati dan mengeluarkan asap. Bapak nakhoda kapal bilang pendingin mesin rusak. Kemudian beliau mencoba untuk memperbaikinya. Setelah sekitar satu jam, pendingin mesin masih juga belum bisa bekerja. Akhirnya bapak nakhoda memutuskan untuk mengontak Pak Matang dengan handphone untuk mengirimkan pendingin mesin kapal yang baru dari Sumur. Satu hal yang saya sukuri ketika itu adalah kapal kami rusak di daerah yang sudah terdapat sinyal handphone. Jika kapal kami rusak sedikit lebih awal, bisa-bisa kami menjadi pemain film cast away secara dadakan. Yang jelas, hari itu kami harus pulang. Bandung telah menunggu kami untuk pendaftaran ulang jika tidak mau libur satu semester.

Akhirnya kami terombang ambing di tengah laut. Ketika itu ombak cukup besar. Kapal bisa miring hingga 45 derajat karena diterjang ombak. Tidak menutup kemungkinan sewaktu-waktu ada ombak besar datang dan kapal kami terbalik. Saya memperhatikan beberapa orang teman saya ada yang mulai mabok laut. Hal yang membuat saya tenang adalah warna hijau di garis cakrawala. Ya itu adalah Pulau Jawa. Jika sesuatu yang buruk menimpa kami, setidaknya ada daratan terdekat yang kami tuju.

Suasana pun menjadi hening. Suara mesin kapal yang tadinya dominah berubah menjadi suara desiran ombak. Kami yang tadinya kebanyakan tidur, secara spontan langsung terbangun. Karena kami mulai merasa bosan akhirnya kami memutuskan untuk berbincang-bincang. Kami membicarakan apa saja. Saat seperti ini adalah saat dimana konteks pembicaraan jauh lebih penting dari kontentnya. Konteksnya sangat jelas : kami terperangkap dalam situasi dimana kami tidak bisa melakukan apapun selain ngobrol. Kontentnya bisa apa saja, mulai dari penggunaan frasa “ya iyalah, masa ya iya donk” yang sesuai EYD hingga membahas kenapa anak krakatau masih aktif sampai sekarang. Kami ngobrol cukup lama. Inilah yang saya suka dari sebuah trip. Menurut saya, yang berharga dari sebuah trip adalah karena kita meluangkan waktu bersama secara intens sehingga terjadi interaksi yang pada akhirnya menimbulkan suatu rasa kedekatan. Jika anda pergi dalam sebuah trip dengan orang yang belum anda kenal begitu baik, saya jamin ketika trip selesai, anda akan mengenal dia dengan baik, atau setidaknya kenal dengan lebih baik dari sebelumnya. Proses ini yang menurut saya sangat mahal. Dengan trip, proses ini dapat dengan mudah kita dapatkan. Jika anda ingin dekat dengan seseorang, maka ajaklah ia jalan-jalan :p. (mungkin saya akan menulis secara khusus tentang ini)

Setelah sekitar dua jam menunggu, akhirnya Pak Matang menjawab semua ketidak jelasan yang menimpa kami. Beliau datang dengan sebuah kapal nelayan. Pak MAtangadalah seorang juragan nelayan yang nyambi sebagai biro jasa perjalanan. Atau mungkin sebaliknya. Saya juga tidak tahu persis. Pak Matang punya 5 kapal nelayan. Dari jauh Pak Matang terlihat sangat gagah mengendarai sebuah kapal dengan menggunakan kacamata hitam. Kapal yang dikendarai Pak Matang agak sedikit berbeda dari kapal yang kami naiki. Tidak ada terpal yang dijadikan atap. Kapal ini mirip seperti kapal-kapal penjaga pantai yang ada di Amerika sana, tapi bedanya kapal ini terbuat dari kayu. Suatu saat nanti saya sendiri bercita-cita untuk punya sebuah kapal pribadi. Ya kalo tidak sanggup membeli yacht, kapal kayu nelayan begini saja juga cukup. Yang penting saya bisa pergi diving ke laut kapan saja saya mau. Bahkan sebenarnya saya juga bercita-cita menjadi juragan nelayan seperti Pak Matang.

Pak Matang membawa mesin pendingin kapal yang baru. Sambil kapal kami diperbaiki, akhirnya kapal kami di derek oleh kapal yang baru saja datang. Akhirnya setelah sekitar setengah jam mesin kapal dapat bekerja secara normal. Tali kapal yang tadinya digunakan untuk menderek kapal kamipun dilepaskan dan akhirnya kapal kami dapat berjalan seperti sebelumnya. Di perjalanan, tampak si cantik Kratatau menyembul di garis cakrawala. Indah sekali. Tak terbayangkan oleh saya bagaimana dulu gunung ini pernah meletus yang tsunami-nya sampai ke India dan asapnya terlihat dari Cina.

raw00207.jpg

raw00210.jpg

Akhirnya kami tiba di Sumur. Kami tiba sekitar pukul 13.00. Di Sumur kami kembali singgah di rumah Pak Matang. Disana kami solat zuhur dan ashar. Setelah semua solat akhirnya kami berpamitan dengan Pak Matang dan Istrinya untuk kembali melanjutkan perjalanan. Perjalanan kami berikutnya adalah naik Elf menuju Serang. Sekitar 3 jam perjalanan akhirnya kami tiba di terminal Serang. Tempat pertama yang kami tuju adalah rumah makan. Sudah sekitar lima hari kami hanya makan telur ceplok dan ikan tongkol goring yang dibumbui hanya dengan garam. Apalagi ketika itu kami belum makan siang. Makin kesetananlah nafsu makan kami (baca : saya). Akhirnya kami mampir di rumah makan padang. Lauk yang saya ambil tentu jauh dari dua hal : Ikan dan Telur. Saya pun memilih makan dengan rendang dan gulai usus.

Di terminal Banten kami pun berpisah. Yang ingin langsung menuju Bandung langsung naik bis Arimbi tujuan Bandung. Bagi yang ingin ke Jakarta, naik bus menuju terminal kali deres. Adalah saya, Ratum, Asri, Hari dan Soni yang memutuskan untuk langsung pergi ke Bandung. Kami sampai di Bandung sekitar pukul 23.00. Sangat melelahkan rasanya ketika itu. Kami di perjalanan lebih dari 12 jam, dari jam 07.00 pagi hingga jam 12 malam. Sekitar 17 jam berarti.

Walaupun melelahkan saya sangat senang dengan perjalanan ini. Saya adalah orang yang sangat suka jalan-jalan. Menurut saya, jalan-jalan bukan hanya soal rekreasi dan senang-senang. Banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari sebuah perjalanan. Alkisah ada sebuah keluarga di Eropa yang mempunyai anak lelaki yang baru lulus SMA. Ketika itu ibunya tidak langsung menyuruh sang anak untuk langsung melanjutkan pendidikan ke bangku sekolah. Sang ibu malah memberi uang kepada sang anak secukupnya dan menyuruh sang anak untuk backpackers keliling eropa. Alasan ibunya adalah agar anaknya belajar banyak hal selama perjalanan.

Begitu penting arti sebuah perjalanan. Kadang perjalanan kita mengajari hal-hal yang tidak kita dapat di bangku sekolah. Perjalanan mengajarkan kita ilmu kehidupan. Tentunya semua tergantung dari anda, apakah anda mau untuk mengambil banyak hikmah dan pelajaran dari perjalanan anda atau tidak. Andalah yang menetukan karena anda yang menjadi subjek dari sebuah pembelajaran. Di perjalanan ini sendiri saya mempelajari banyak hal. Preman di terminal Kali Deres (yang pura-pura mabok) mengajarkan saya arti empati. Keindahan alam mengajarkan saya untuk bersyukur. Pak Tumina (penjaga taman nasional Pulau Peucang) mengajarkan arti pengabdian. Ubur-ubur yang menyengat mengajarkan arti pentingnya sebuah persiapan. Para nelayan mengajarkan saya arti bekerja keras dan perjuangan. Teman-teman saya mengajarkan arti saling mengisi dan berbagi. Pak Cecep mengajarkan saya arti ikhlas. Mesin kapal yang rusak mengajarkan saya tentang kesabaran. Dan perjalanan ini sendiri mengajarkan saya tentang pentingya sebuah perjalanan. Semua pelajaran tersebut adalah pelajaran kehidupan yang bahkan lebih berharga dari pelajaran yang anda dapat dari bangku kuliah sekalipun.

Anyway… I like being a traveler..!!

img_4234.jpg

-tamat-

6 thoughts on “Ujung Kulon : Perjalanan yang penuh hikmah (part 3, selesai)

  1. Pingback:   Daerah Kunjungan Wisata di Banten : Sebuah Cerita Perjalanan — www.serpong.org

  2. hmm..gw tgg cap crita ttg “mendekati seseorang dgn mengajaknya jalan2”..huehehehehehe

    eniwei, gw stuju bgt.. perjalanan/trip sgt bisa merubah pendapat kita terhadap tmn2 kita/org disekeliling kita..

    trus kpn plantikan anak2 baru ke laut?..biyar ospeknya gitu aja..yakan?..😀
    jd iri gw gbs ikut gara2 atit..😦

  3. @deep
    waduh, topik itu mah diluar pengetahuan gua nin, kayaknya elu deh yang lebih berpengalam, yang udah jalan2 kemana2 bareng2, ahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s