Laskar Pelangi : Potret Ironi Pendidikan Indonesia

Pada postingan kali ini saya ingin berkomentar tentang film Laskar Pelangi. Film ini merupakan film yang diadaptasi dari novel karangan Andrea Hirata dengan judul yang sama. Film ini diproduksi oleh Miles Production House dan disutradarai oleh Riri Riza (CMIIW). Konon katanya film ini merupakan film yang paling ditunggu-tunggu selama tahun 2008. Novel Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata merupakan novel best seller, oleh karena itu wajar saja jika film ini telah dinantikan oleh minimal ribuan pembaca novel ini.

Sama seperti novelnya, film ini menceritakan tentang sekelompok orang yang menamai diri mereka sebagai laskar perlangi yang berjuang untuk mendapatkan pendidikan walaupun hanya di sebuah SD reot yang hampir rubuh dan hanya memiliki dua orang guru dan sepuluh orang murid. Novel ini berlatar di Pulau Belitung (Provinsi Bangka Belitung sekarang) pada tahun 1970-an ketika Perusahaan Negara Timah (PN Timah) sedang jaya-jayanya. Sepanjang film, film ini hanya menggambarkan bagaimana suka-duka Laskar Pelangi dalam menempuh pendidikan mereka walaupaun dalam keadaan prihatin. Pada akhir film ini diceritakan bahwa akhirnya si ikal (tokoh utama) berhasil mendapatkan pendidikan hingga ke Paris sesuai dengan mimpinya sejak awal. Film ini banyak diperankan oleh artis lokal (bahkan oleh “pemeran asli” novel laskar pelangi) yang merupakan orang asli Belitung. Selain itu ada juga Cut Mini, Lukman Sardi dan Tora Sudiro.

Di tulisan saya ini saya tidak akan membanding-bandingkan antara novel dan filmnya, karena tentu saja jika kita membandingkan antara novel dan filmnya, pasti film yang bedurasi sekitar dua jam tidak akan representatif dalam menceritakan seluruh isi novel yang memilki tebal ratusan halaman tersebut. Pengalaman membuktikan bahwa banyak pembaca novel kecewa ketika melihat film yang diangkat dari novel kegemaran mereka.

Film yang berasal dari novel harus dapat menggambarkan maksud / inti dari keseluruhan novel tersebut. Dalam Film Laskar Pelangi ini, saya merasa bahwa substansi novel ( marjinalitas masyarakat miskin dan ironisme pendidikan di Indonesia) justru tidak begitu terangkat. Yang menjadi pusat perhatian malahan hal-hal menarik yang ada di novel seperti adegan Lintang yang dicegat oleh buaya yang terjadi beberapa kali atau kisah cinta Ikal dan Aling yang menurut saya terlalu bertele-tele. Saya pikir adegan-adegan tersebut terlalu banyak. Mungkin memang ini pertimbangan komersial. Adegan-adegan tersebut adalah adegan yang akan membuat daya jual film ini dipasaran menjadi tinggi. Yah itung-itung mem-pop kan film ini agar lebih menarik penonton Indonesia.

Menurut saya juga banyak cerita yang diangkat hadir dengan konteks yang tidak utuh. Seperti adegan Laska Pelangi yang datang ke tempat Tuk Bayan Tula. Menurut saya adegan ini tidak jelas latar belakang dan maknanya. Hal ini pada akhirnya menyebabkan film ini sulit dihayati oleh orang yang belum membaca novelnya. Apalagi saya merasa semuanya hadir serba tanggung, seperti karakter tokohnya yang kurang di eksplore atau jalan ceritanya yang juga kurang terarah. Klimaks dari film ini adalah ketika seorang Lintang, anak sebenarnya sangat cerdas akan tetapi hidup dalam keterbatasan, akhirnya terpaksa tidak melanjutkan pendidikannya karena harus menggantikan posisi ayahnya untuk mencari nafkah karena ayahnya telah meninggal.  Adegan ini sangat menyentuh. Ini adalah salah satu potret dari ironi pendidikan yang terjadi di Indonesia.

Secara umum saya cukup menikmati film ini. Mungkin karena saya telah membaca novelnya dan saya memang telah menanti-nanti film ini (saya menontonnya di hari kedua pemutaran film ini). Apalagi film ini hadir dengan nuansa melayu yang sangat kental. Hal ini membuat saya merasa homy. Banyak kosakata-kosakata yang familiar di telinga saya. (FYI saya orang melayu loh :p). Film ini juga hadir dengan keindahan alam pantai dan lansekap Pulau Belitung yang begitu indah. Hal ini cukup memanjakan mata saya.

Jika menonton film ini, saya jadi teringat film Denias. Seharusnya film ini bisa seperti film Denias, bisa lebih menyentuh. Walaupun kedua film ini mengangkat tema yang sama, tapi ada dua perbedaan mencolok diantara dua film ini. Film Laskar Pelangi bisa dikatakan film yang sangat laku, akan tetapi dari segi kontent film menurut saya biasa saja. Film Denias kebalikannya, film ini relatif tidak memiliki promosi yang begitu gencar, penjualan tiketnya pun biasa saja. Akan tetapi pada kenyataannya film ini dapat menyentuh banyak orang, bahkan film ini banyak memenangkan penghargaan di luar negeri.

Walaupun mungkin secara keseluruhan saya menilai film ini biasa saja, tapi untuk anda pembaca novel Laskar Pelangi, saya rekomendasikan anda untuk menonton film ini. Film ini akan membuat pikiran kita kembali melayang-layang ke dalam novel Laskar Pelangi.

——————————-

Info tambahan, saya menonton film ini bersama teman-teman satu angkatan saya di Elektro 2005. Kita nonton di Ciwalk ber20-an. Yang uniknya satu bioskop ternyata anak ITB semua, mana banyak yang pake jaket himpunan lagi. Udah kayak kampus dipindahin. Untung gak salam ganesha sekalian. Ckckckkc

Nih sedikit ada fotonya, Courtesy : Hercup

Pamer Tiket

Foto-foto bareng di dalem bioskop

Foto Bareng Habis nonton

NB : Thx buat yang udah jadi EO nya, ditunggu sesi nonton berikutnya!

4 thoughts on “Laskar Pelangi : Potret Ironi Pendidikan Indonesia

  1. btw jumlah kita pas nonton kmrn 29 kepala, jadi lebih tepat kalo disebut “hampir 30 orang”, hehe.

    iya tuh, tulisan lo mirip bgt sm review yg gw baca di kompas sekitar seminggu kmrn, yg harusnya lbh mengangkat marjinalitas sosial dan ironisme pendidikan spt yg dialami lintang, eh malah diisi dgn adegan ke pulau tuk bayantula yg sebenernya kalo dibuang sm skali gak berpengaruh pd keseluruhan jalan cerita.. hehe, sok2an profesional gini gw pdhl cmn nyontek..

    sip2, lain kali bakal diadain lg nonton brg, paling enak tuh kalo masa2 hbs ujian, ato menjelang liburan ya, hehe..

  2. @ fella
    memang banyak minjem istilah dari situ, hehe

    @ bintang
    waduh gak tau tuh tang, gua diajakin, bukan awak EO nya

    @riza
    notn aja ndiri, hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s