Ketika Pembangunan dan Lingkungan Berdampingan

Ketika Pembangunan dan Lingkungan Berdampingan*

Oleh : Aulia Hamdani Feizal

Mahasiswa S1 Institut Teknologi Bandung

Memasuki abad ke-21 ini, persaingan global semakin terasa. Persaingan global menuntut semua bangsa untuk mempersiapkan diri. Bangsa yang tidak siap untuk menghadapi persaingan global akan dengan sendirinya tersingkir dan pada akhirnya akan tenggelam dimakan zaman. Persaingan global terutama banyak terjadi dalam lingkup perekonomian atau yang kita kenal dengan kapitalisme. Untuk melawan serangan kapitalisme ini, negara-negara di dunia berlomba-lomba untuk membangun peradaban negerinya. Dengan dalih membangun peradaban, banyak negara di dunia mengeruk kekayaan alamnya secara besar-besaran. Hal ini merupakan suatu keniscayaan mengingat sumber daya alam merupakan salah satu faktor utama pembangunan. Seiring dengan semakin derasnya persaingan global, pengerukan alam yang dilakukan manusiapun menjadi berlebihan. Pengerukan alam secara berlebihan pada akhirnya akan menyebabkan rusaknya lingkungan itu sendiri. Saat ini kerusakan lingkungan sebagai dampak dari pembangunan telah banyak terjadi.

Pemanasan global merupakan salah satu bentuk kerusakan lingkungan akibat pembangunan. Pada 14 tahun terakhir, dunia mengalami sepuluh tahun terpanas sepanjang sejarah umat manusia. Pada beberapa tahun terakhir, lapisan salju di beberapa daerah di dunia mulai mencair. Hal ini mengakibatkan naiknya permukaan air laut secara keselurahan. Kenaikan permukaan air laut ini mengakibatkan tercancamnya beberapa negara kepulauan di Pasifik tenggelam. Masih pada beberapa tahun terakhir, dilaporkan arus panas di Eropa telah menyebabkan puluhan orang meninggal. Tahun 2005 juga merupakan tahun dimana badai terbanyak terjadi sepanjang sejarah umat manusia.

Kerusakan lingkungan akibat dampak dari pembangunan terjadi tidak terkecuali di Indonesia. Indonesia merupakan salah satu negara dengan kerusakan alam terbesar di dunia. Pada tahun ini, world bank mencatat setengah dari hutan Indonesia kondisinya tergolong buruk. Kerusakan hutan tersebut paling banyak disebabkan oleh alih fungsi hutan ataupun penggundulan hutan. Selama tahun 2005 sampai dengan tahun 2007, menurut Departemen Kelautan dan Perikanan, Indonesia telah kehilangan 24 pulau kecil di seluruh nusantara akibat naiknya permukaan air laut dunia. Pada tahun 2005 sampai dengan 2007 terjadi 1.429 kejadian bencana alam terkait perubahan iklim. Beberapa hari yang lalu, di salah satu media cetak Jawa Barat diberitakan bahwa diperkiran di daerah Bandung akan terjadi angin topan yang pertama yang diberi nama Topan Rossi.

Dari uraian diatas, dapat kita lihat bahwa sampai saat ini, banyak sekali terjadi kerusakan-kerusakan lingkungan di bumi ini. Adalah suatu hal yang mustahil jika sesuatu terjadi tanpa sebabnya. Kerusakan lingkungan yang banyak terjadi sampai saat ini pada dasarnya adalah akibat ulah tangan manusia itu sendiri. Dalam meng-eksplore kekayaan alam, manusia sering kali mengambil lebih dari yang dibutuhkan. Keserekahan manusia inilah yang menjadi akar permasalahan kerusakan lingkungan yang terjadi selama ini.

Salah satu dampak dari perubahan iklim adalah pengaruh terhadap produktivitas tanaman. Selain itu, peningkatan permukaan laut juga akan berpengaruh terhadap luas daerah bercocok tanam dan perubahan salinitas tanah di sekitar pesisir. Pada akhirnya, semua hal diatas dapat mengakibatkan gagalnya panen. Data dari Departemen Pertanian menunjukkan bahwa gagal panen di Indonesia hingga tahun 2007 meningkat sangat signifikan dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dapat mengakibatkan terjadinya krisis pangan.

Perubahan iklim juga akan memberikan dampak pada ketersediaan air. Pada musim kemarau akan terjadi kekeringan yang luar biasa, sedangkan pada musim hujan akan terjadi banjir. Kondisi sepereti ini tentu tidak diinginkan. Selain itu kondisi cuaca yang tidak baik, seperti adanya topan, akan menggangu sarana transportasi. Sarana transportasi yang terganggu dapat menyebabkan terganggunya pasokan batu bara ke pembangkit listrik. Terganggunya pasokan batu bara ini pada akhirnya akan menyebabkan ketersediaan pasokan listrik terganggu. Dengan kondisi seperti ini, krisis energi adalah hal yang mungkin saja terjadi. Naiknya permukaan air laut juga akan menyebabkan semakin sempitnya wilayah di dunia. Banyak kota-kota di pesisir, atau bahkan beberapa negara kepulauan, akan tenggelam. Berkurangnya wilayah dunia ini akan menyebabkan perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah lain secara besar-besaran.

Berbagai macam krisis yang disebabkan oleh kerusakan lingkungan pada akhirnya akan menyebabkan tingkat kemiskinan yang meningkat, angka pengangguran yang juga meningkat, dan pertumbuhan ekonomi akan menjadi lamban. Seorang ekonom dari Amerika Serikat penah mengutarakan, melalui perhitungan yang telah ia lakukan, peningkatan suhu dunia sebesar 2o s.d. 3o akan menyebabkan penurunan Gross Domestic Product (GDP) rata-rata negara-negara di dunia sebesar 5%. Sedangkan peningkatan suhu dunia sebesar 4o s.d. 6o akan menyebabkan GDP rata-rata turun sebesar 20 %. Penurunan GDP sebesar 20 % ini bahkan lebih besar dari penurunan GDP yang terjadi ketika perang dunia II baru saja selesai. Kondisi seperti ini tentu akan berdampak buruk pada kesejahteraan umat manusia. Pada akhirnya kondisi seperti ini akan menimbulkan krisis sosial. Angka kriminalitas meningkat dan gangguan keamaan adalah beberapa kemunkinan yang dapat terjadi. Bukan suatu hal yang mustahil kondisi seperti ini akan mengancam perdamaian dunia.

Selama ini lingkungan sering kali dipandang sebagai suatu faktor yang menghambat pembangunan. Melalui uraian diatas dapatlah kita ketahui bahwa pandangan seperti ini tidak benar. Pembangunan yang tidak memperhatikan lingkungan justru akan menimbulkan kerugian yang jauh lebih besar. Lingkungan bukan merupakan suatu trade off dalam melakukan pembangunan melainkan suatu aspek yang justru harus diperhitungkan. Oleh karena itu, dalam melakukan pembangunan hendaknya kita melakukan pembangunan dengan memperhatikan aspek-aspek berkelanjutan atau yang kita kenal dengan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development)

Pembangunan berkelanjutan adalah sebuah proses pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan generasi masa depan. Isu yang harus dihadapi adalah bagaimana memenuhi kebutuhan ekonomi tanpa mengorbankan lingkungan. Pembangunan harus diarahkan agar tidak mengabaikan faktor-faktor lingkungan. Ada beberapa point yang harus diperhatikan dalam rangka menata pembangunan berkelanjutan : mengubah pola konsumsi energi, penyelamatan hutan, pelaksanaan 3 R (Reuse, Recycle, dan Reduce), dan adanya sinergi antara masyarakat, industri dan pemerintah.

Salah satu akar permasalahan dari kerusakan lingkungan dan perubahan iklim adalah pemanasan global (global warming). Global warming didefinisikan sebagai kenaikan suhu rata-rata global di atas permukaan bumi akibat adanya gas rumah kaca. Gas rumah kaca yang memberikan kontribusi terbesar bagi pemanasan global adalah gas karbon dioksida (CO2). Penghasil gas karbon dioksida terbesar adalah pembakaran bahan bakar fosil. contoh adalah asap kendaraan bermotor. Asap kendaraan bermotor mengandung karbon dioksida sebanyak sekitar 15%. Selain itu, pembangkit listrik dengan basis bahan bakar fosil juga menghasilkan gas CO2.

Jika kita mengurangi pembakaran energi fosil tentu jumlah gas karbon dioksida yang dilepaskan ke udara akan dapat ditekan. Namun disatu sisi, saat ini kita sudah sangat tergantung pada bahan bakar fosil sebagai sumber energi, mulai dari kendaraan bermotor hingga pembangkit listrik. Solusi dari permasalahan ini adalah dengan mengubah pola konsumsi energi. Bahan bakar fosil yang selama ini dipakai sebagai sumber energi utama dapat kita ganti menjadi sumber energi alternatif. Pada dasarnya sumber energi alternatif banyak terdapat di sekitar kita, sebagai contoh angin, cahaya matahari, gelombang laut, atau biodiesel. Akan tetapi sampai saat ini biaya investasi untuk menghasilkan energi dari sumber alternatif tersebut jauh lebih mahal daripada dari energi bahan bakar fosil. Hal inilah yang menghambat proses revolusi energi. Dalam hal ini, peran pemerintah sangatlah sentral. Pemerintah diharapkan dapat melakukan usaha-usaha dalam rangka mendukung penggunaan energi alternatif. Usaha tersebut dapat berupa penghapusan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) atau pemberian subsidi / intensif kepada pengguna energi alternatif.

Sebenarnya, gas karbon dioksida dapat diubah menjadi gas oksigen oleh tanaman. Proses ini adalah proses yang kita kenal sebagai proses fotosintesis. Pelepasan karbon dioksida ke udara harusnya dikompensasi dengan adanya pohon. Akan tetapi, kenyataan yang terjadi adalah hutan justru banyak yang dirusak. Banyak alasan manusia untuk merusaka hutan. Salah satu alasannya adalah untuk mengalih fungsikan hutan. Banyak wilayah hutan di dunia dialih fungsikan untuk perkebunan, pelabuhan, pemukiman ataupun pabrik. Pengalihan fungsi hutan secara besar-besaran ini tentu akan mengurangi jumlah hutan yang ada. Akan tetapi perusakan hutan terbesar disebabkan oleh penebangan liar (illegal logging). Hutan banyak ditebang untuk dimanfaatkan kayunya sebagai bahan bangunan ataupun bahan membuat kertas. Penebangan liar ini tentu akan mengurangi luas hutan. Jika luas hutan semakin berkurang, maka tentu saja jumlah karbon dioksida semakin tidak dapat ditekan yang pada akhirnya akan berujung pada kerusakan lingkungan.

Hal lain yang bisa kita lakukan untuk meminimalisir kerusakan lingkungan akibat pembangunan adalah dengan mengimplementasikan 3R (reduce, reuse dan recycle). Reduce adalah meminimalisasi penggunaan bahan-bahan dari bumi untuk memenuhi kebutuhan. Reuse adalah penggunaan kembali bahan-bahan dari bumi yang telah kita pakai. Recycle adalah pendaur ulangan kembali bahan-bahan dari bumi yang telah kita pakai. Sebagai contoh, kita dapat meminimalisir penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari. Sampah plastik yang telah kita pakai juga hendaknya tidak langsung dibuang. Plastik tersebut dapat kita simpan dan kita gunakan untuk keperluan yang lainnya. Jika plastik tersebut telah rusak, maka sampah plastik tersebut dapat kita daur ulang kembali menjadi plastik yang baru. Dengan mengimplementasikan 3R tersebut, diharapkan manusia akan semakin meminimalisasi pengerukan alam.

Usaha-usaha di atas tidak akan membuahkan hasil yang maksimal jika tidak didukung oleh tiga komponen utama pelaku pembangunan : masyarakat / Non Government Organization (NGO), industri dan pemerintah. Masyarakat sebagai konsumen harus cerdas dalam mengkonsumsi produk. Komitmen dalam pemakaian produk yang memiliki eco label sangat diperlukan disini. NGO sebagai organisasi massa memiliki tanggung jawab untuk memberikan pencerdasan kepada masyarakat mengenai pemakaian produk yang ramah lingkungan. Indsutri sebagai pihak badan usaha harus memilki nilai-nilai yang dijunjung dalam melakukan kegiatan ekonominya. Industri tidak boleh hanya berorientasi pada keuntungan semata tanpa melihat dampak kepada lingkungan dari kegiatan ekonomi yang dilakukannya. Tanggung jawab pihak industri ini dapat diimplementasikan dalam program CSR (Corporate Social Responsibility). CSR pada dasarnya tidak hanya sebatas bakti masyarakat, pemberian beasiswa ataupun pembagian bahan makanan seperti yang selama ini marak terjadi. Lebih jauh lagi, CSR dapat berupa komitmen perusahaan untuk tidak menggunakan bahan yang tidak memeiliki eco label sebagai bahan baku, ataupun pengolahan limbah industri menjadi sesuatu yang tidak berbahaya. Pemerintah sebagai regulator juga memiliki peran yang sangat sentral. Pemerintah harus tegas dalam menegakkan regulasi yang berhubungan dengan kerusakan lingkungan. Pemerintah juga seharusnya memiliki sebuah badan independen yang berfungsi untuk mengawasi jalannya rencana pembangunan berkelanjutan. Badan ini mungkin dapat berbentuk komite nasional yang langsung bertanggung jawab kepada presiden atau Menteri Lingkungan Hidup.

Dengan mengubah pola konsumsi energi, penyelamatan hutan, mengimplementasikan 3R dan adanya sinergi antara masyarakat industri dan pemerintah, diharapkan dapat tercipta pembangunan berkelanjutan sehingga lingkungan tidak lagi menjadi momok bagi pembangunan, melainkan menjadi suatu yang justru mendukung pembangunan.

*Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba karya tulis LAPAN

3 thoughts on “Ketika Pembangunan dan Lingkungan Berdampingan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s