Budget Traveling at Thailand : Live Show?? (Part 1)

Kisah ini bermula dari sebuah telepon yang masuk ke handphone saya. Ketika itu hari Sabtu, seperti biasa, pagi hari saya latihan selam di Kolam Renang Sabuga. Sekitar pukul 12 siang, latihan selesai, setelah latihan saya berniat ke himpunan untuk sekedar berkunjung. Dalam perjalanan ke kampus HP saya berbunyi, di layar saya baca : ” Calling from Hamzah, Muhammad”. Saya angkat.

Saya : Oy jah, nape?

Hamzah : Cap lu mau jalan-jalan gak? Gua ada tiket gratis nih

Saya : Wah mau, ayolah (dalam hati berpikir mungkin tiket kereta  gratis ke Jogja atau Surabaya), kemana?

Hamzah : Ke Bangkok

Saya : hah?

Yah begitulah kawan,  entah mimpi apa saya tadi malam, hari itu saya dapat tawaran tiket gratis ke Bangkok. Ya ke Bangkok kawan, bukan ke Bogor. Tanpa pikir panjang langsung sajalah saya iyakan tawaran teman saya itu, tentunya setelah itu saya meminta izin ke orang tua.

Rencana awal, kami pergi berempat. Saya, Hamzah (Material 05), Hudan (Mesin 05) dan  Ujang (Mesin 05).  Hamzah dan Hudan  adalah teman saya dari SMA, sementara Ujang adalah temennya Hudan di Teknin Mesin. Tapi sangat disayangkan, menjelang hari H keberangkatan, karena satu dan lain hal, saudara Ujang tidak jadi ikut. Akhirnya kami pergi hanya bertiga. Ini lah foto kami bertiga :

Hudan, Saya, Hamzah

Tiket sudah ada, paspor juga sudah, orang tua juga sudah mengizinkan,  terkahir, tinggal rencana perjalanan. Menyusun rencana perjalanan ini emang agak sedikit sulit, pasalnya,  kami bukan peserta tour dari sebuah biro perjalanan yang tinggal bilang saja mau ke A, B, C dan seterusnya. Kami yang harus mengusahakan sendiri perjalanan tersebut. Kita harus memikirkan transportasinya apa, nginep dimana, waktunya  dan seterusnya. Terlebih lagi kami semua sepakat bahwa kami akan melakukan perjalanan dengan biaya seminim mungkin. Maklum, kepergian kami memang tidak direncanakan, tiketnya saja gratis. Bayangan kami adalah kami akan pergi dengan gaya backpackers seperti yang sekarang sedang trend.

Dengan bermodalkan laptop dan koneksi 802.11 IEEE kami berkumpul untuk membahas ini. Tidak main-main kawan, kami sampai rapat  di Ngopi Doloe di malam hari, bahkan rapat lengkap dengan notulensi dan timeline.  Segala sesuatunya kami serahkan kepada mbah google. Objek wisata, penginapan, jadwal bus dan kereta, ya segalanya. Ini bukan perkara main-main, pasalanya rencana perjalanan akan berhubungan dengan anggaran yang harus kita sediakan, dan berbicara masalah anggaran adalah berbicara sesuatu yang sensitif. Salah anggaran bisa-bisa kita terlantar disana.

Awalnya kami menyusun perjalanan untuk menjelajahi bagian selatan Thailand (Patayya, Phuket, Ko Samui, Phi Phi, Krabi) hingga ke Pulau Penang (Malaysia) dan bagian Utara Thailand (Chiang Mai, Chiang Rai, Ayuttaya, Udhon thani) Hingga ke Vietnam. Tapi ternyata waktu dua minggu tidak lah cukup. Akhirnya rencana kami cut menjadi hanya menjelajahi bagian selatan Thailand saja hingga ke Pulau Penang.  Di Pulau Penang rencanannya kami akan bertemu Ranti,  teman saya yang kebetulan sedang berkuliah disana. Setelah dipikir ulang lagi, ternnyata rencana tersebut masih belum cocok dengan waktu dan budget yang kami sediakan. Thailand bukanlah negara kecil yang bisa dikelilingi hanya dalam waktu dua minggu. Jarak dari Bangkok ke Phuket saja seperti jarak dari Jakarta ke Bali. Akhirnya rencana final kami adalah Bangkok – Surattani – Phuket – Ko Phi Phi – Krabi Town – Bangkok.  Maaf buat Ranti, karena kita tidak jadi ke Pinang. Yah itu sudah paling optimal dalam hal waktu dan biaya. Berikut gambarnya :

Peta Perjalanan (garis biru), Kotak Oranye pata diperbesar pada gambar berikutnya

Peta Perjalanan (garis biru), Kotak Oranye pada peta diperbesar pada gambar berikutnya

Perbesar dari Kotak Oranye pada gambar sebelumnya, garis biru merupakan track perjalanan kami

Perbesar dari Kotak Oranye pada gambar sebelumnya, garis biru merupakan track perjalanan kami

Time goes by, akhirnya tiba hari H.

Pagi itu cuaca cerah. Bumi mungkin tahu kalau hari itu adalah hari yang saya nanti-nantikan. Pagi itu saya bangun agak siang. Kemaren adalah hari yang cukup hectic buat saya. Saya harus mengurus  perwalian, mengikuti ujian EF, menukar Rupiah menjadi Bath, dan mengurus motor saya ke bengkel. Bahkan saya masih harus mengikuti speaking test di EF pada malam harinya. Saya akan pergi selama dua minggu, itu artinya semua aktivitas akan saya tinggalkan selama dua minggu ,termasuk kuliah. Jadi saya harus benar-benar well prepared.

Di HP saya lihat hari telah menapak ke pukul 08.00. Kepala pusing, kamar berantakan dengan barang-barang yang harus di bawa besok. Rasanya ingin kembali membenamkan diri ke kasur. Saya paksakan untuk bangkit dan mandi.  Saya benar-benar tidak suka air di Bandung, sudah siang saja masih terasa dingin.

Setelah mandi saya bereskan dan masukkan semua barang-barang yang akan dibawa ke dalam tas carrier Alpin Lowe kuning yang saya pinjam dari abang saya. Baju, celana, pakaian dalam, peralatan mandi, semua campur aduk. Untuk barang-barang penting seperti dompet, passport, loog book selam, HP dan Kamera, saya masukkan ke dalam Eiger kecil selempangan saya. Untuk duit, saya bagi tiga:  ada yang di dompet, di amplop dalam tas Eiger dan dalam amplop di Backpack. Hal ini untuk mencegah kemiskinan jika dipalak.  Pemalak pasti akan langsung mencari dompet.  Passport pun saya foto kopi berkali-kali dan saya simpan di beberapa tempat yang terpisah. Foto kopi passport ini penting kawan, untuk menjaga-jaga passport anda hilang.

Jam 9.00 saya diantar oleh adek saya ke X-trans cipaganti. Sekitar 30 menit menunggu akhirnya travel berangkat juga. Di dalam mobil hanya ada 6 orang penumpang, Saya, satu orang bapak-bapak, dua orang ibu-ibu, dan dua orang cewe-cewe bandung yang gaul dan dangkal. Baju mereka kebarat-baratan, Hotpants dan baju you can see, seperti pakaian orang bule di waktu summer. Padahal suhu rata-rata di bandung 22-24 derajat Celcius. Jika malam bahkan bisa mencapai 21 derajat celcius. Cih, dasar korban mode. Agar terlihat modern dan up to date nilai-nilai di korbankan. Obrolan mereka selama di perjalanan tak lebih seputar percintaan. “Gua tuh sayang banget sama dia, tapi entah kenapa gua gak bisa ngeyakinin hati gua blablabla” , saya hanya senyum-senyum mendengar obrolan mereka, seperti tidak ada lagi yang lebih penting dari maslaah percintaan. Dari obrolan mereka saya menyimpulkan bahwa mereka akan pergi ke Bali untuk berlibur. Yah, di otak saya sudah terbayang apa saja yang akan mereka lakukan disana.

Sekitar pukul setengah satu siang saya tiba di Bandara. Pesawat take off pukul  16. 00 . Masih ada waktu sejam setengah lagi sebelum check in pada pukul 14.00.  Hudan dan Hamzah belum terlihat. SMS terakhir mereka masih berada di rumah. Kita bertiga memang janjian akan bertemu di Bandara. Akhirnya saya putuskan untuk makan siang + ngaso di Hoka-Hoka Bento Bandara. Yeah, akhirnya Hoka-Hoka Bento dapat sertifikat halal.

Dua jam menunggu akhirnya Hudan dan Hamzah datang juga. Hudan mengenakan kaos oblong, jaket kain coklat berkantong banyak, tas carrier eiger merah, dan tas pinggang gaul (yang menurut saya terlalu nyentrik) seperti zaman-zaman SMP. Sementara Hamzah terlihat lebih kalem dengan sweater krem garis-garis horizontal, tas carrier ukuran kecil dan sebuah tas punggung kuliah. Saya sendiri memakai baju polo shirt merah maroon kesayangan, tas carrier dan tas kecil selempangan. Kami benar-benar telah dress up seperti backpackers-backpakers di tivi-tivi atau pun dalam novel-novel. Luar biasa.

Stelah check in dan mengurus bebas fiskal akhirnya kami sampai pada ruang tunggu. Waktu terasa berjalan sangat lama. Waktu menunggu 30 menit terasa seperti berjam-jam. Saat itu saya benar-benar antusias. Ini adalah pertama kalinya saya keluar negeri tanpa orang tua. Ini juga adalah pertama kalinya saya jalan-jalan dengan style backpackers. Petualangan yang hebat terus terbayang-bayang dipikiran saya. Saya membayangkan bahwa kami akan tidur di jalan seperti yang dilakukan Andrea Hirata ketika bertualang di Eropa dalam novelnya Sang Pemimpi atau kami akan mengacungkan jempol di pinggir jalan untuk mendapatkan angkutan seperti yang dilakukan Jusuf di Afrika dalam Novel Traveler’s Tale. Beberapa hari menjelang keberangkatan saya sengaja menyempatkan diri untuk membaca beberapa novel yang berbau-bau backpackers. Efeknya lumayan, saya menjadi seperti orang yang sedang jatuh cinta, terus menerut membayangkan perjalanan yang akan saya lakukan. Terlalu berlebihan memang, karena pada kenyataannya perjalanan saya tidak se-ekstrem itu. Tapi lumayan lah untuk mempersiapkan mental.

Akhirnya pada pukul  16.20 terdengar panggilan untuk penumpang pesawat Air Asia tujuan Bangkok. Itulah pesawat kami. Kami masuk pesawat dan tak lama pesawat Boeing 737 seri 400 dengan nomor penerbangan QZ 7716 lepas landas dari dari Cengkareng. Yeah, Finally we are flying..!!

Penerbangan ke Bangkok memakan waktu 3 jam 20 menit. Tidak lama memang, tapi terasa sangat melelahkan dalam sebuah pesawat low fare airlines. Pesawatnya kecil, sama dengan pesawat-pesawat yang biasa digunakan dalam penerbangan-penerbangan domestik di dalam negeri.  Padahal jarak tempuh Jakarta – Bangkok dua kali jarak rata-rata penerbangan domestik. Alhasil jarak antara kursi ke kursi pun mepet. Terlebih lagi tidak ada hiburan apa-apa seperti tv ataupun musik. Makanan juga harus beli. Untung pramugarinya masih perempuan tulen.

Waktu tiga jam di pesawat saya bunuh dengan mendengarkan MP3 player, membaca buku dan beristirahat. Waktu itu saya jadi teringat pesan beberapa teman saya terkait dengan perjalanan ini.  Entah kenapa banyak pesan yang bernada mengancam yang saya terima sebelum keberangkatan saya.

Teman saya Marchie dulu pernah berkata

“Jangan lupa bawa sajadah sama peci cap, buat jaga-jaga iman”,

trus Meilani juga bilang

“Disana tu banyak preman gitu, kayak di Blok M, jadi hati-hati”,

Mamah saya juga tidak mau kalah, dalam pembicaraan di telfon beliau mengingatkan

“De, hati-hati ya di sana, di sana tu banyak orang jahat, banyak pengedar narkoba, sarang AIDS, bener tuh kalian aman di sana?”,

Ayah saya juga mengingatkan dalam sebuah pesan singkat, tapi dengan lebih kalem,

“Jauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik”

Ayahnya Hamzah juga ikutan berpesan kepada anakanya

“Di sana ada Live Show, Jangan nonton ya”

Kalau tidak salah demikian yang diceritakan Hamzah.  Saya cukup geli mendengar pesan dari Ayahnya Hamzah, seperti melarang anak kecil yang tidak boleh makan permen karena sakit gigi dengan mengatakan untuk tidak mengambil permen yang ada di lemari. Pesan tersebut mungkin terdengar di kepala Hamzah menjadi : “Di Thailand ada yang namanya Live Show loh, kayaknya menarik tuh”. Mungkin ayahnya hamzah menganggap kita sudah dewasa dan bukan anak kecil seperti perumpamaan saya. Saya jadi heran, apa memang sebahaya itu kondisi di sana. Saya pikir Indonesia adalah negeri yang paling bahaya sedunia. Kata orang, kalau sudah bisa hidup di Indonesia, kita bakal bisa hidup dimana-mana. Entahlah, nanti akan terjawab.

Sekitar pukul 6 sore terlihat matahari terbenam dari jendela sebelah kiri pesawat. Sinar matahari berwarna oranye menyala menyelimuti seluruh horizon langit sebelah barat. Sinar matahari terlihat sangat jelas dan jernih, tidak terhalang oleh apapun. Saking terangnya bahkan lampu kabin pesawat kalah terang oleh sinar sang surya, sehingga dari dalam kabin pesawat yang terang pun pengelihatan kita ke luar tidak terganggu. Sungguh pemandangan yang luar biasa indah. Di atas awan memang merupakan tempat yang paling tepat untuk menikmati sunset.

Setelah tiga jam perjalanan akhirnya pesawat landing juga di Bandara Udara Internasional Suvarnabhumi, Bangkok. Saya sangat senang melihat bandara di malam hari, sangat meriah. Cahaya lampu bertabur dimana-mana. Bandara juga tampak belum mati, masih banyak pesawat lalu lalang yang hendak take off ataupun baru landing. Pesawat kami disambut oleh garbarata yang langsung terhubung ke salah satu concourse international arrival.

Seorang wanita dari maskapai penerbangan menyambut kedatangan kami dengan ucapan “sa waa dii kha” di ujung garbarata. “sa waa dii kha” dalam bahasa Thai artinya halo. Kata ini biasa diucapkan dalam kehidupan sehari-hari ketika dua orang pertama kali bertemu dalam kehidupan formal. Jika orang yang saling bertemu sudah saling mengenal dan sering bertemu sehari-harinya, kata ini jarang digunakan. “Sa waa dii kha” diucapkan oleh perempuan dan “sa waa dii khap” diucapkan oleh laki-laki. Inilah uniknya bahsa Thai. Bahasa Thai adalah bahasa yang pemilihan katanya ditentukan oleh subjeknya, ditentukan oleh siapa yang berbicara. Hal ini berbeda dengan kebanyakan bahasa di dunia dimana pemilihan kata tergantung dari objeknya. (Contohnya kata ganti He/She dalam bahasa inggris)

Ini adalah kunjungan saya yang kedua ke Bangkok. Saya pertama kali ke bangkok sekitar 6 tahun yang lalu. Ketika itu saya sekeluarga beserta rombongan akan pergi ke Yordania  (dan kemudian terus ke Mekkah dan Madinah) dalam rangka Umroh. Bangkok adalah tempat transit pesawat kami.  Ketika itu kami hanya transit sekitar 4 jam sewaktu perjalanan pergi dan satu hari sewaktu perjalanan pulang. Ketika transit perjalanan pulang kami hanya sempat dibawa ke pabrik dan show room gems and jewelry oleh pihak biro perjalanan.

Enam tahun yang lalu, saya mendarat di Bandar Udara Don Mueng. Ketika itu saya menyepelekan Thailand yang Bandar udara utamanya cukup kuno jika dibandingkan dengan Sukarno – Hatta. Enam tahun berlalu dan kini saya mendarat di bandara baru mereka. Sekarang Suvarnabhumi membuat saya terpesona. Suvarnabhumi sudah seperti bandara di negara-negara maju. Desainnya bergaya modern minimalis : dipenuhi dengan tiang-tiang besi berwarna abu-abu, dindingnya sebagian besar merupakan gabungan dari jendela-jendela kaca yang dibuat melengkung,  transparan, ditambah dengan sentuhan lampu ungu gelap yang menghiasi langit-langit gedung yang tinggi. Atapnya seperti gabungan dari beberapa atap Gedung Keong Emas di taman mini namun berwarna abu-abu.

Saya dan Hamzah di ujung garbarata

Saya dan Hamzah di ujung garbarata

Hamzah dan saya di Bandara

Hamzah dan saya di Bandara

Aktivitas di Bandara ini juga terlihat sangat sibuk. Banyak pesawat-pesawat dari maskapai kelas dunia mendarat disni.  Sebut saja, Cathay Pacific, KLM, JAL, Singapore Airlines, China Airlines, Emirates, Royal Jordan, Malaysian Airlines, maskapai israel, maskapai uzbekiztan, dan masih banyak lagi maskpai yang tidak saya kenal. Pesawat internasional yang berlabuh pun rata-rata berbadan besar seperti Boeing 747, Boeing 767, Aribus Antonov 340, 330 dan sebagainya.

Kami berjalan melewati bagian tengah gedung. Kami melewati beberapa ruang tungu keberangkatan yang saat itu dipenuhi orang-orang yang sedang menunggu panggilan.  Kami melewati beberapa eskalator datar. Setelah itu kami melewati gerbang imigrasi. Saya paling tidak suka melewati gerbang imigrasi. Entah kenapa saya tidak pernah menemui petugas di gerbang imigrasi yang ramah. Semua bermuka masam. Mungkin memang ada perjanjian di seluruh dunia yang menyepakati bahwa gerbang imigrasi harus bernuansa horor dan mengintimidasi warga negara lain yang akan masuk. Lebih parah lagi beberapa petugas bandara imigrasi tidak bisa berbahasa inggris.

Hudan dan Saya, sebelum naik Bis

Hudan dan Saya, sebelum naik Bis

Tempat Check in

Tempat Check in

Selama di airport kebetulan kami berbincang-bincang dengan seorang wanita berkebangsaan Amerika. Dari keriput di mukanya saya duga iya berumur 60 tahunan. Kami tidak sengaja terlibat percakapan karena sama-sama tertinggal oleh rombongan penumpang satu pesawat karena asik berfoto-foto. Sebenarnya kami tidak tahu namanya, tapi hasil pengintaian Hamzah terhadap passportnya adalah ia memiliki familily name Dorris. Akhirnya selama perjalanan kami mengingatnya dengan nama Nenek Doris.

Nenek Doris traveling seorang diri. Ia baru saja pulang dari Bali. Ia di Bali selama seminggu. Saya menjadi sangat nyambung berbicara dengannya, karena ia juga ternyata penggemar dunia bawah laut. Lebih lagi ia sempat melakukan skin dive di Tulamben. Ia beberapa kali memuji keindahan bawah laut Tulamben.  Setelah ini nenek doris akan menuju Ayuthaya, sebuah kota di utara Bangkok, untuk beberapa lama menetap disana. Hebatnya ia hanya seorang diri. Ia bercerita bahwa anaknya di Amerika menyarankan untuk pergi ke Bangkok karena ia kehabisan uang. Mungkin memang budaya disana seperti itu, tidak ada beban tangung jawab seorang anak terhadap orang tuanya yang sudah tua. Kalau hal ini terjadi di Indonesia, mungkin sudah jadi cerita Maling Kundang episode 2.

Nenek Doris juga bertanya kemana kami akan pergi. Kami menyampaiakan bahwa kami akan menyusur ke Selatan, ke Patayya (ketika itu masih berencana ke sana), Phuket, Ko Phi Phi, dan Krabi. Lagi-Lagi kami mendapat warning terkait perjalanan kami. Kali ini Nenek Doris mengingatkan dengan nada yang lebih keras. Berkali-kali ia mengucapkan “so many bad people, mafia, drugs, prostitution, Gambling” . Atau kata-katanya yang lain : “you, you, you (pointing to us), don’t be a bad guy, no prostitution, no drugs, no gambling”. Haha, siap lah nek..!!

Beliau bahkan meminta kami untuk mengeluarkan secarik kertas dan mencatat nama-nama tempat yang lebih tenang daripada tujuan-tujuan kami. Beliau lebih menyarankan kami untuk pergi ke arah utara karena disana lingkungannya relatif lebih aman. Beliau juga menunjukkan kami tempat-tempat penting seperti Stasiun Bus.  Nenek Doris tampaknya memang sudah sering bolak-balik ke Thailand.

Beliau sangat khawatir dengan kami. Ketika sudah di terminal bus bandara saja Nenek Doris masih mencari kami. Saya masih ingat katan-katanya ketika itu ” I was wondering Where you are”. Mungkin muka kami terlalu naif  untuk orang yang ingin melakukan perjalanan semacam ini. Lagi-lagi kami mendapatkan warning. Ah entahlah. Saya jadi teringat Film Bangkok Dangerous yang dibintangi oleh Nicolas Cage.

Dari Bandara kami menuju kota dengan menggunakan Bus. Dari Bandara ke kota  tersedia shuttle bus yang berangkat setiap 30 menit. Sebenarnya nenek Doris mengajak untuk berbagi taksi, namun tidak jadi karena ternyata harganya masih kemahalan. Akhirnya kami berpisah di bandara. Nenek Doris menggunakan bis yang berbeda dengan kami, bye Grandma Dorris.

Bandara baru terletak di pinggiran kota. Di sekeliling Bandara tidak ada apa-apa, hanya padang rumput dan beberapa rumah yang letaknya agak berjauhan. Jalan ke Bandarapun lurus dan lebar. Sepertinya memang ini daerah pengembangan baru kota Bangkok. Dari Bandara ke Kota ditempun selama sekitar 30 menit.

Tempat yang kami tuju saat itu adalah Sukumvit Road. Kami mendapat info hostel murah yang ada di sana dari internet. Dari gambar-gambarnya hostelnya sepertinya lumayan bagus. Jadi kami putuskan untuk pergi kesana.

Kami tiba di Sukumvit Road sekitar pukul 10 malam. dari Sukumvit Road kami masuk ke Soi 11. Soi dalam bahasa Thai artinya semacam gang. Kata soi biasanya digunakan untuk menamai jalan-jalan kecil yang bermuara sepanjang jalan protokol. Nama Soi biasanaya terdiri dari nomor-nomor. Contohnya Sukumvit Road Soi 11, artinya gang no. 11 di jalan Sukumvit.  Jalan Soi 11 tidak besar, lebarnya mungkin hanya sekitar 5 meter.

Suasana di Soi 11 masih saja ramai padahal saat itu sudah larut. Kami berjalan ke arah dalam menyusur Soi 11. Dari awal kami datang kesana kami merasa seperti ada yang aneh dengan daerah ini. Sepanjang jalan ini penuh dengan cafe-cafe, minimart, hotel, dan tuk-tuk yang sedang mangkal. Semakin ke dalam kami berjalan kami baru menyadari kalau ternyata ini adalah daerah yang banyak WTS-nya. Orang bule lalu lalang menggandeng wanita lokal. Di pinggir jalan berjejer wanita-wanita lokal memakai pakaian super minim. Ada yang sedang makan di pingir jalan, ada yang sedang ngobrol dengan sesama rekan WTS, atau ada juga yang hanya berdiri sambil merokok menunggu pelanggan.

Kami berkali-kali ditawari sebuar kertas oleh orang-orang di pinggir jalan, semacam tiket atau brosur mungkin. Mereka menawari sambil berkata sebuah kata yang tidak jelas, “Leisow” ,begitu yang  kami dengar. Berhubung karena saat itu takut karena merasa asing dengan daerah ini, jadi tak satupun kami hiraukan tawaran mereka. Kami terus menerus ditawari “Leisow”. Entah apalah itu. Saya tidak mau tahu.

Sungguh nasib belum mujur, saat itu hostel yang kami tuju sudah full booked. Akhirnya atas rekomendasi orang di hostel tersebut, kami menuju Soi 5. Jarak Soi 5 ke Soi 11 cukup jauh, terlebih hari sudah larut malam, akhirnya kami sepakat untuk naik tuk tuk. Buat saya, tuk tuk ini kendaraan fenomenal. Jangan samakan tuk tuk dengan Bajai. Kendaraan ini gesitnya bukan main. Tarikannya juga luar biasa. Percaya tidak percaya, kendaraan ini bahkan bisa jumping. Luar biasa. Entah mesin apa yang dipakai. Pantas saja jika dahulu film James Bond menggunakan kendaraan ini dalam filnya.

Setelah bermanuver di jalan raya, akhirnya kami sampai pada hostel yang dituju. Setelah membayar harga yang telah disepakati, tiba- tiba si tukang tuk tuk dengan muka serius kembali menawarkan kami kata-kata “leisow”. Mukanya sangat serius, seperti ada yang salah dengan kami, entah duitnya kurang atau bahkan ia ingin memperingati kami bahwa hostel yang kami tuju berbahaya. Dengan sopan berkali-kali kami mengatakan “sory”, “excuse me” dan “pardon” sebagai tanda kami tidak menangkap maksud si tukang tuk tuk. Karena si tukang tuk tuk merasa  kami tidak kungjung mengerti apa yang ia maksud, akhirnya ia mengeluarkan sebuah tiket, dan mukanya tiba-tiba berubah menjadi tidak berkonsep, gabungan malu-malu, merasa bersalah ,menghasut, tapi dengan senyuman, mirip seperti anak SD yang sedang diledek karena ketahuan suka dengan teman sekelesnya. Si tukang tuk tuk menyodorkan tiket tersebut kepada kami, sekilas kami melihat gambar wanita dengan pakaian minim di tiket tersebut dan setelah di ihat lebih jelas tiket tersebut berjudul “LIVE SHOW”

Yah hari pertama kami di bangkok sudah ditawari “Leisow”, ditawari oleh tukang tuk tuk pula. Pesan Ayah Hamzah langsung kami aplikasikan malam itu. Ternyata ayahnya Hamzah tidak salah berpesan demikian, kami mungkin tidak akan ngeh dengan kata “Live Show” jika tidak di beritahu sebelumnya. Berhubung kami semua lulusan IC tentunya saat itu serentak kami langsung mengatakan “NOOOO…” kepada si tukang tuk tuk.

Anyway, wellcome to Bangkok, the city of live show.

Di hostel, siap untuk menjelajahi Thailand

Di hostel, siap untuk menjelajahi Thailand

Bersambung…

———————————————-

Itinerary Budget :

Bus dari Suvarnabhumi – Kota : 150 Bath / orang

Tuk – Tuk : 100 bath / 3 orang,harusnya bisa murah, namun berhubung kita baru nyampe dan belum tahu  apa-apa, jadi aja ketipu

Hostel di Sukumvit Road Soi 5 : 1800 bath / 3 orang, ini termasuk losmen mahal, karena waktu itu sudah larut malam, jadi satu malam kami paksakan untuk menginap disana. Harga ini sudah include Breakfast, ada menu vegetariannya.

cat : Harga yang tertera adalah yang kami bayar, harga bisa saja berubah.

25 thoughts on “Budget Traveling at Thailand : Live Show?? (Part 1)

  1. panjang abis cap!
    untung aj lu EF…hahahahaha

    “Berhubung kami semua lulusan IC tentunya saat itu serentak kami langsung mengatakan “NOOOO…” kepada si tukang tuk tuk.”

    sebuah pertanyaan..
    why not??

  2. @deep
    Dasar cewe, susah ngertinya masalah beginian,hihi

    @anggita
    Ini lagi sama aja, gak ngerti
    wah ini baru part. 1 adek nim, masih panjang, jangan pegel dulu bacanya

    @Iqbal
    nah klo ini kan langsung konek, wakakak
    wah masih panjang ini terusannya bal,wakaka
    iya bal, untung aja les EF jadi gak takut-takut buat negor bule
    Waduh, Astagfirullah bal, hahaha, mana berani nyoba bal, baru nyampe daerah gitu2 aja itu deg2an, maklum orang baek bal

  3. “baru nyampe daerah gitu2 aja itu deg2an”

    berarti klo udah g deg2an (besokny gitu atau klo dah kenal ma tukang tuk tuk ny) gw bisa mengharapkan pada episode selanjutny ada pict live show??

  4. Bandara adalah “kesan pertama”(first impression)
    KITA harus segera membenahi Soekarno-Hatta yang sekarang kaya “belantara” extravaganza dengan yang ‘gak karu2an, bagaimana mau menjaring wisatawan kalau kondisinya seperti itu.
    selamat jalan2 n selamat jadi turis tas punggung, mudah2an tahan godaan dari “ayam2” bangkok
    Von vayage

  5. @ Adi
    ditunggu saja, sekarang sudah kuliah, saya usahkan secepatnya, makasih apresiasinya, hehe

    @iqbal
    tunggu aja bal episode selanjutnya =p

    @Zulfan Abidan M.kh
    bener pak, masa kita kalah sama Thailand, hehe

    @Herry
    selow cup, ini masih part 1, malam masih panjang

    @Wahidyan KF
    Hahah, siaul lu yok

    @mjah
    sippo, Please give me correction if I made any mistake

    @Igan
    Tau tu gan, si Hamjah memang bandel dia

    @Ray
    Wah sama ray, sebenernya saia juga mau tahu, tapi berhubungan saya orangnya berIman, gak jadi deh, hahah

  6. jahat .
    hihihihih ..
    kutunggu dengan resto ku disini tau ..
    kami menanti tamu jauh disini , tak kunjung datang juaaa ,

    makan ditanggung pdhl .
    hahkhahkha ..

  7. Kalo mau backpacker-an, makanya, lebih nyaman di negeri2 yg law & social ordernya bagus. Tidak mesti di Amrik atau Eropa tapi bisa juga di Asia seperti Korea dan Malaysia. Utk benua Amerika mengkin Kanada; Eropa mungkin negara2 Scandinavia atau German, Swiss, dan sekitarnya tp Belanda khususnya Amsterdam tidak direkom krn banyak hal2 seperti lesow itu plus bandit narkoba yang cari gara2.
    Hal lain yg perlu diketahui: pada usia se kalian, Fadel Muhammad dan temannya Erlanngga Ibrahim melakukan hal sama tapi semacam ekspedisi yg lebih serius dan well prepared di berbagai daerah dan mancanegara. Tulisan mereka berdua juga ditunggu para pembaca Kompas (ga heran kan kalau Fadel jadi Gub Gorontalo?).
    Khusus tentang menulis, sekitar 30 tahun lalu banyak sekali penulis dari jalan Ganesha yang muncul di Kompas seperti Fadel, Rizal Ramli, Alhilal, Nadir Abbas Kamil, dan beberapa lagi. Muncul di Kompas artinya sudah menasional. Blog atau semacam FB ok2 aja tapi perlu juga secara kolektif bisa memperbanyak karya2 unggulan sejak usia muda. Mdh2an.

  8. @wahidyan kf
    lu kebanyakan dengerin cerita2 mesum deh kayaknya yok, haha

    @chiquiprecious
    Ranti,, Maafkan kami karena sudah tidak menepati janji tidak kesana, kita bener2 kehabisan uang ran, apalagi buat ongkos kesana, maaf ya Ran….

    @Uba
    Supaya bisa jadi seperti Fadel Muhammad, berarti ongkosin lah ya ntar klo mau jalan2 lagi, hehe

  9. huahahaha…. seruu juga bacanya,
    aku baru mau ke thailand hari kamis minggu ini sama temen-temen.. hohoho, padahal penasaran sama cerita part II nya..hmmm…:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s