Budget Traveling at Thailand : Ditipu Polisi Gadungan (part. 2)

Malam itu kami nyaris tidak tahu apa-apa tentang Bangkok. Enam tahun yang lalu saya hanya singgah di kota ini selama 24 jam, itupun tidak sempat kemana-mana. Sementara buat kedua teman saya, ini kunjungan pertama meraka. Kami buta total tentang Bangkok, apalagi Thailand.

Info tentang bangkok hanya kami dapat dari internet dan sebuah buku perjalanan yang kami beli di duty free Bandara Sukarno Hatta.  Buku Impor ini berjudul “Thailand”, diterbitkan oleh Lonely Planet. Membeli buku ini secara tidak sengaja adalah salah satu hal yang paling saya syukuri dan tidak saya sesali selama perjalanan. Selanjutnya kami menganggap buku ini sebagai kitab suci perjalanan kami, semua permasalahan dan informasi kami referensikan ke buku ini. Buku ini tidak boleh rusak apalagi hilang. Hilang atau rusak sama saja dengan bunuh diri.

Kitab Suci Kami Selama Dalam Perjalanan

Kitab Suci Kami Selama Dalam Perjalanan

Buku ini berisi informasi-informasi penting yang sangat kami butuhkan selama perjalanan, mulai dari peta, reiview singkat, daftar hotel, iklim dan cuaca, daftar objek pariwisata, bahasa, jadwal kereta, jadwal bus, jadwal kapal hingga testimoni semuanya ada. Kawan, jika anda akan ber-traveling dengan cara seperti ini, apalagi ke tempat yang anda belum pernah kesana, maka saya sangat menyaranakan anda untuk membeli semacam buku panduan ini. Memang akan sangat banyak brosur dan peta yang bisa anda dapatkan dengan gratis, tapi itu saja tidak cukup, anda harus punya informasi lebih detail, apalagi jika anda merencakan perjalanan yang jauh. Percayalah, ini akan sangat memudahkan.

Pagi itu kami langsung pergi dari hostel. Kami benar-benar hanya numpang tidur selama beberapa jam di hostel yang agak mahal tersebut. Check in jam 11 malam dan check out jam 8 pagi. Kami tidak bisa tinggal lebih lama disana, karena selain lokasinya “asing” tarifnyapun tidak bersahabat.

Kami langsung menuju ke Stasiun Bis untuk membeli tiket bis. Sesuai rencana, kami hanya di Bangkok selama 3 hari di awal dan 3 hair di akhir. Selenihnya kami akan menjelajah kesalatan. Tujuan pertama kami yaitu Phuket, sebuah Pulau di Selatan Thailand. Untuk mencegah kehabisan tiket dan akhirnya kami tidak jadi menyusur ke selatan, maka kami memutuskan untuk mem-booking dahulu tiket bis kami ke Phuket di hari pertama kami di Bangkok.

Stasiun

Stasiun

Ada beberapa pilihan transportasi untuk ke Phuket. Pilihan pertama adalah pesawat. Yang ini jelas tidak feasible buat kami. Ya mahal. Alternatif kedua adalah dengan kereta. Sebenernya tidak ada kereta yang langsung menuju Phuket. Kereta akan menuju Surattani (Sebuah kota di bagian Selatan Thailand) dan kemudian di Suratttani kita harus mengganti dengan bis untuk bisa sampai ke Phuket. Pilihan keretanya juga banyak, dari kereta ekonomi dengan kursi kayu, hingga kereta malam yang memberikan fasilitas kamar tidur bagi tiap penumpangnya. Alternatif  terakhir yaitu bis. Bis juga tidak ada yang langsung menuju Phuket. Bis akan menuju ke Surattani dan di sana kita akan mengganti dengan angkutan lain. Setelah dibanding-bandingkan dengan singkat, dengan pertimbangan harga, waktu, tempat tujuan dan berangkat, serta effort yang keluar, akhirnya kami memilih alternatif terakhir : bis.

Saya dan Hamzah

Saya dan Hamzah

Sebenernya saya tidak tahu persis mana pilihan terbaik (dari segi ekonomi dan kenyamanan). Kami hanya membanding-bandingkan secara singkat dna langsung mengambil keputusan. Saat itu stasiun ramai dan kami tidak punya waktu banyak untuk berfirik. Jadi mau tidak mau kami harus cepat membuat keputusan.

Buat saya inilah serunya backpacking. Kita tidak bisa terlalu lama berpikir dalam mengambil sebuah keputusan, harus cepat dan sigap. Bahkan seringkali kita tidak diberi kesempatan untuk berfikir. Terlalu lama menimbang-nimbang hanya akan membuat perjalanan anda menjadi tidak efektif, waktu hanya habis untuk berfikir. Kondisi di lapangan pun kadang berbeda dengan infromasi yang telah kita baca atau kita cari dari internet.

Kadang perasaan takut dan cemas melanda. Setiap akan memasuki tempat baru pasti selalu ada perasaan seperti ini : blank,  tidak tahu harus berbuat apa nanti, bingung harus kemana, risau akan kelancaran dan keselamatan, dan seterusnya. Akan tetapi saya pribadi justru sangat menikmati kondisi ini. Gaya hidup seperti ini akan memunculkan sifar korelis dan sedikit membunuh sifat melankolis yang sepertinya akhir-akhir ini kadarnya terlalu berlebihan di dalam tubuh saya. Inilah yang saya cari

Di dekat Hostel

Di dekat Hostel

Setelah dari stasiun kami langsung menuju ke Rama 1 Road untuk mencari tempat penginapan baru. Kami mendapat informasi dari kitab perjalanan kami bahwa di daerah tersebut banyak terdapat hostel-hostel murah. Kami akhirnya sampai di Soi Kasemsan 1 dan tiba di Penginapan “The Bed and Breakfest”. Untuk tiga hari kedepan, kami memutuskan untuk berteduh di sini. Sepanjang Soi Kasemsan 1 banyak terdapat hostel. Setidaknya ada 4 hostel yang saya ingat. Kami memilih penginapan “The Bed and Breakfest” lagi-lagi karena alasan keuangan. Terlebih lagi, sesuai namanya kami mendapatkan setangkup roti bakar dengan butter dan selai, teh manis hangat, serta buah-buahan setiap paginya.

Lokasi ini merupakan lokasi yang sempurna untuk penginapan bagi turis. Lokasinya berada di pusat kota, dekat dengan National Stadium of Thailand. Tidak jauh dari situ, terdapat salah satu kompleks Mall terbaik di Kota Bangkok. Mall pertama MBK Center yang merupakan pusat elektronik dan handphone. Tempat ini sekilas mirip dengan ITC Roxy Mas atau BEC versi besar.  Kemudian ada juga kompleks pertokoan Siam Square. Di seberang komplek pertokoan Siam Square berjejer tiga buah mall : Siam Discovery, Siam Center dan Siam Paragon. Ketiga mall tersebut kebanyakan berisi restoran dan butik-butik mahal

Untuk urusan perut alias tempat makan, di food court Siam Paragon terdapat sebuah counter yang melayani makanan Halal. Walaupun di food court mall elit, namun harganya tidak begitu mahal. Jika anda bosan, di sekitar sana terdapat banyak restoran-restoran fastfood yang sudah familiar dengan kita seperti Mc D, Burger King atau KFC. Memang restoran-restoran tersebut belum terjamin halal, namun setidaknya lebih baik daripada restoran-restoran lain yang lebih tidak jelas lagi.

Soal akses jangan tanya.Taksi dan tuk tuk banyak mangkal di daerah sini. Mulut Soi Kasemsan 1 juga berada tepat di bawah Stasiun BTS Skytrain. Stasiun National Stadium namanya. Tidak jauh dari mulut Soi Kasemsan 1 juga terdapat halte bis kota. Lingkungannya juga tidak “horor” seperti di lokasi penginapan kami yang pertama. Daerah tersebut adalah daerah perkantoran dan pusat perbelanjaan. Di malam hari pun saya pikir relatif aman. Hingga jam 12 malam terdapat pasar malam kaget di daerah tersebut. Jadi hingga larut malam pun daerah tersebut masih ramai. Kami sering pulang larut malam dan Alhamdulillah aman-aman saja. Jadi jika anda berkunjung ke Bangkok dan ingin penginapan murah, daerah ini benar-benar saya rekomendasikan. Lokasi, akses, akomodasi semua sangat mendukung.

Hudan lagi gila di kamar hostel

Hudan lagi gila di kamar hostel

Di Bangkok terdapat tiga jenis angkutan massal utama. Angkutan yang pertama adalah bis. Ini tidak asing. Yang kedua adalah Mass Rapit Trasport (MRT) atau yang lebih kita kenal dengan kereta subway. MRT ini tidak jauh berbeda dengan yang terdapat di Singapura. Angkutan terakhir adalah BTS Skytrain. BTS Skytrain sama seperti MRT hanya keretanya berada di atas jalan raya. Ya mirip  seperti Monorail lah. Semuanya dibangun di atas termasuk stasiunnya. BTS adalah singkatan dari Bangkok Transit System, nama perusahaan operator skytrain tersebut. Jalur MRT dan BTS Skytrain membentang di kota Bangkok dan berpotongan di beberapa titik. BTS Skytrain lebih di khususkan untuk angkutan di pusat kota karena memang jalurnya berada di pusat kota, sementara jalur MRT melingkari pusat kota bangkok, kira-kira seperti ring road.

Skytrain

Skytrain

Di dalam MRT train

Di dalam MRT train

Agenda kami hari itu adalah menjelajahi daerah di sekitar penginapan. Kami berada di pusat kota Bangkok, jadi kami pikir hari ini cukup hanya berjalan-jalan di sekitar penginapan. Pertama kami berkunjung ke Komplek Pertokoan Siam Square.

Bangkok on Snapshot

Bangkok on Snapshot, tampak jalur BTS skytrain diatas jalan raya

Kawan, di sini kami tertimpa sebuah insiden penipuan. Begini kisahnya. Ketika itu kami sedang jalan melewati jajaran pertokoan di Siam Square. Walaupun muka kami tidak ada bedanya dengan orang lokal, tapi dari dandanan kami terlihat jelas bahwa kami adalah turis. Kami bertiga memakai celana pendek, Hudan dan Hamzah memakai kacamata hitam, semnatara saya dan Hudan membawa tas kecil layaknya orang yang sedang bepergian. Dandanan tersebut kontras dengan dandanan orang-orang lokal yang kebanyakan mengenakan kemeja kantoran atau berkpakaian sekolah sehingga orang-orang dapat dengan mudah mengetahui bahwa kami adalah turis.

Ketika kami sedang jalan, secara tiba-tiba kami di datangi oleh seorang bapak-bapak berpakaian safari dan membawa tas tenteng kulit. Kira-kira seperti bodyguard pejabat-pejabat. Kemudian ia bertanya dari mana kami berasal, akan ke mana kami dan seterusnya. Sebenarnya saya tidak begitu ingat bagaimana kami memulai percakapan, tapi karena si penipu ini sangat ramah, akhirnya kami terbawa begitu saja. Bahkan ia bercerita tentang anaknya yang katanya seumuran dengan kami. Iapun berbicara seolah-olah kami adalah anaknya : hangat dan penuh senyum. Penipu memang jago untuk hal-hal seperti ini. Belakangan kami baru sadar bahwa berpura-pura ramah, termasuk menyama-nyamakan kami dengan anaknya, adalah teknik-teknik klise dalam sebuah penipuan.

Akhirnya kami digiring ke pembicaraan rencana perjalanan kami. Setelah memaparkan akan kemana saja kami, si penipu ini akhirnya menyarankan kami untuk pergi ke sebuah tempat yang tidak jauh dari sini untuk mendapatkan potongan harga yang katanya khusus untuk pelajar. Si penipu ini mengesankan bahwa tempat tersebut semacam kantor resmi Tourism Board Pemerintah Thalaind. Katanya,di tempat tersebut, kami bisa mendapatkan banyak kemudahan.  Demikian informasi yang diberikan oleh si penipu ini.

Kemudian ia langsung memanggil tuk tuk untuk mangantarkan kami kesana. Awalnya kami enggan untuk mengikuti sarannya, namun si penipu ini benar-benar pandai. Ia bersandiwara dengan tukang tuk tuk seolah-olah menawar harga dan akhirnya kami diberikan harga tuk tuk yang super murah, pulang pergi + ditungguin pula. Ia juga mengatakan kalau hari ini adalah hari terakhir untuk mendapatkan potongan harga untuk pelajar.  Untuk meng-counter bahasa tubuh kami yang saat itu terlihat masih tidak nyaman, si penipu ini mengeluarkan dompet dan memperlihatkan secara sekilas  semacam lencana di dompetnya yang bertuliskan “Tourist Police” sambil berkata “It’s my job to protect people like you”. Sungguh manis sekali, bagaimana kami tidak terkesima. Seolah-olah dia akan melindungi dan mengayomi kami.  Bahkan ketika kami pergi, kami malah mengucapkan terima kasih. Memang naif kami ketika itu.

Kami tiba di sebuah kantor. Kami tidak tahu itu kantor apa karena tidak ada tulisan latin disana. Di pojok-pojok ruangan banyak terdapat rak-rak yang berisi brosur tempat wisata, dindingnya penuh dengan foto-foto tempat wisata. Kami disambut oleh seorang Thailand keturunan India. Kami duduk di meja kerjanya, kemudian kami menceritakan semua rencana perjalanan kami menjelajah ke selatan Thailand. Ia membantu kami untuk mem-book semua tiket transportasi yang diperlukan, memilih hotel, dan semua kebutuhan yang kami perlukan selama perjalanan. Akhirnya kami disodori oleh jumlah nominal yang harus kami bayar untuk tiket dan hotel. Bukan main besaranya. Karena memang saat itu kami memang tidak membawa uang, akhirnya kami membayar sekitar 10%-nya (1000 Bath) dan mengatakan akan kembali esok hari untuk membayar sisa uangnya.

Pada saat itu kami masih belum paham dengan siapa kami berurusan. Bayangan kami kantor tersebut adalah kantor tourism board resmi pemerintah Thailand, semacam tourist center. Tapi kami heran karena kami malah “dibantu” untuk mem-book hotel dan diminta membayar sejumlah nominal. Setelah kami pergi, kami baru menyadari bahwa ternyata mereka hanyalah travel agent, sama sekali bukan orang pemerintah seperti yang dikesankan oleh si penipu terseubut. Kami telah dijebak untuk menjadi costumer travel agent tersebut.

Stasiun BTS Skytrain diatas jalan raya

Stasiun BTS Skytrain diatas jalan raya

Bagaimana dengan polisi turis gadungan itu? Itu hanyalah modus mereka untuk mendapatkan costumer : mendatangi turis naif, mengatakan bahwa dirinya tourist police, dan menyarankan untuk pergi ke kantor tersebut. Mereka bukan orang jahat, tapi cara mereka mendapatkan pelanggan yang kurang ajar. Sungguh mengesalkan. Hal yang masih saya tidak mengerti sampai sekarang adalah ketika kami berada di kantor mereka, kami seperti terhipnotis, kami menjadi tidak kritis, kami begitu gampang meng-iyakan dan menuruti kemauan mereka, dan alhasil 1000 Bath lenyap. Sekali lagi, kami memang sangat naif ketika itu.

Sebenarnya tidak masalah jikalau kami membayarkan jumlah nominal yang ditawarkan. Akan tetapi tentunya harganya lebih mahal jika dibandingkan kami mencari sendiri. Terlebih lagi kami tidak bebas dalam memilih hotel dan transportasi, akhirnya perjalanan kami menjadi tidak fleksibel nantinya. Atas pertimbangan tersebut kami memilih untuk tidak kembali ke sana keesokan harinya dan merelakan uang 1000 Bath. Apa boleh buat, nasi telah menjadi bubur. Anggap saja 1000 Bath adalah ongkos kami untuk belajar. Hari kedua kami di Bangkok kami sudah mengalami insiden penipuan. Untuk seterusnya kami tidak pernah lagi sekalipun menghiraukan setiap orang-orang yang datang dan menawarkan sesuatu kepada kami.

Pada hari-hari terakhir kami di Bangkok, kami menyempatkan diri untuk melewati lokasi yang sama di tempat kami di datangi oleh polisi turis gadungan tersebut. Dan kawan, si penipu itu masih di sana, ya di tempat yang sama dengan pakaian dan tas yang sama menunggu mangsa yang berbeda. Ketika itu kami hanya berani memangdangnya dengan tatapan dendam dari jauh seolah-olah mengatakan “kami tidak sebodoh itu”, ya walaupun sedikti agak bodoh. Kami tidak berani berbuat lebih lanjut seperti mendatanginya atau melaporkannya ke polisi. Ini negeri orang, bagaimanapun pasti kami tidak akan berada dalam posisi yang menguntungkan jika mencari gara-gara.

Setelah kami amati,  sepertinya memang seperti ini dunia pariwisata di Thailand. Operator pariwisata seperti pemilik hotel, pemilik perusahaan transportasi, dan sebagainya kebanyakan adalah pihak swasta. Pemasaran mereka dibantu oleh travel agent-travel agent yang menyebar di seluruh Thailand. Travel agent-travel agent ini nantinya dibantu oleh kroco-kroco seperti si polisi gadungan ini untuk mencari costumer. Caranya bisa bermacam-macam. Yang sopan mungkin hanya menawarkan melalui hotel-hotel. Sementara yang kurang ajar seperti si polisi gadungan ini. Modus kurang ajar lain yang kami temui adalah melalui tourist information resmi di stasiun atau terminal. Hati-hati karena orang di tourist information tersebut bisa memberikan informasi yang tidak objektif agar anda memilih angkutan dari perusahaan tertentu. Anda akan seperti diarahkan untuk menggunakan jasa suatu perusahaan tertentu, bahkan anda bisa saja diberikan informasi yang salah. Akan tetapi tidak semua tourist infromation seperti ini.

Agenda kami berikutnya hari itu adalah ke Pantip Plaza. Pantip Plaza adalah pusat belanja elektronik, mirip seperti MBK. Jika harga blackberry lebih murah daripada di Indonesia, rencananya Hudan akan beli blackberry di sana. Tapi sore itu kami hanya survey dan window shopping. Pantip Plaza lokasiyna lumayan jauh dari penginapan kami, sekitar 3 km. Walaupun demikian kami berjalan kaki untuk menuju ke sana, itung-itung menghemat biaya. Kami juga berkunjung ke Kedutaan Besar Republik Indonesia yang letaknya tidak jauh dari Pantip Plaza. Rencanya kami ingin melapor keberadaan kami di Thailand, sehingga jika terjadi sesuatu, akan lebih mudah urusannya. Akan tetapi ternyata ketika itu kedutaan sudah tutup, sudah tidak ada orang lagi. Alhasil kami hanya foto-foto di sana.

Pantip Plaza

Pantip Plaza

Indonesian Embassy

Indonesian Embassy

Bersambung…

———————–

Itinerary  Budget

Harga Buku Lonely Planet : 300 ribu Rupiah, bisa lebih murah jika beli di Gramedia atau di Thailand

Biaya nginep di Hostel :  800 Bath / orang / 3 hari

Alamat hotel :

The Bed and Breakfast

36/42-43 Soi Kasemsan 1 Rama 1 Rd.

Pathumwan, Bangkok 10330 Thailand

Tel : 02 2153004, Fax : 022152493 (Dari Thaliand)

Harga tiket paket dari Bangkok ke Phuket : 950 Bath / orang (Air conditioner, seat 2-2)

BTS skytrain : Bervariasi dari 20 – 60 Bath, tergantung jarak

MRT : Bervariasi dari 10 – 40 Bath, tergantung jarak

6 thoughts on “Budget Traveling at Thailand : Ditipu Polisi Gadungan (part. 2)

  1. wew, santai gan, masih banyak postingan2 berikutnya, hehe

    Gua emang sengaja bikin cerita yang cukup detail, biar lebih informatif, jadi bisa dipake untuk referensi buat yang mau pergi kesana

  2. informasi yg sangat bagussss..berhubung gue sama temen2 jg mau ke bangkok..bertiga jg..sama2 belom pernah kesana..dan lagi cari2 hostel yg deket MBK n siam paragon tapi ga mau yg mahal2..hehehe. btw..kocak jg pas gue lagi baca dengan seru2nya..malah menemukan muka yg gue kenal..salam buat hudan yaa..he3.

  3. hai feizal,
    sy dr jkt indonesia. da ambil tkt jkt-phuket-jkt, tp nak ke chiang mai sebab ade satu festival disana tiap bln april.
    ada bbrp hal yg sy nak tny:

    a)kemana nak beli tkt dari phuket ke bkk (nama tempat beli tiket).
    b). brp jam phu-bkk?
    c). brp jam bkk-chiang mai dgn train or bus?

    Mnt tlg bantu ye.
    Dah pernah ke bangkok tp cm di bangkok town sahaja tak pernah perjalanan mcm ni.

    Mksh byk ye.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s