Budget Traveling at Thailand : Phi Phi Island, Momen yang Terlalu Spesial (Part. 6)

Delapan tahun yang lalu, ketika saya menonton film The Beach yang dibintangi oleh Leonardo Dicaprio,  saya begitu terkagum-kagum dengan lokasi shooting-nya. Saat itu juga saya bertekad dalam diri saya bahwa suatu hari nanti saya harus pergi kesana. Saya benar-benar jatuh cinta ketika itu dengan alamnya. Saya menjadi sangat terobsesi. Dan ketika saya ditawari Hamzah tiket gratis ke Thailand, saya benar-benar girang. Satu tempat yang ada di otak saya : Phi-Phi Island, yang tidak lain adalah lokasi film The Beach. Pagi itu, saya tidak percaya mendapati diri saya akan berangkat menuju pulau yang telah saya impikan selama bertahun-tahun.

Kami bangun sekitar pukul 5 waktu setempat. Kapal menuju Phi Phi Island akan berangkat pada pukul 9 dari dermaga di Phuket Town. Phuket Town berjarak sekitar 1 jam dengan mobil dari Patong Beach. Sekitar pukul setengah tujuh, kami dijemput oleh mobil van yang telah kami pesan sebelumnya. Van tersebut berisi sepuluh orang  : sepasang pasangan yang bermuka latin, lima orang anak muda yang obrolan mereka saya mengetahui bahwa mereka orang Amerika dan kami bertiga. Orang-orag bule ini begitu bau. Dari rambut dan dandanannya sangat terlihat bahwa mereka belum mandi. Memang jam 6 disini relatif masih termasuk pagi. Perjalanan ke pelabuhan memakan waktu sekitar satu jam. Pelabuhan terletak di pesisir timur Phuket, sementara Patong Beach terletak di  pesisir barat Phuket. Pelabuhan letaknya dekat dengan Phuket Town.

Sekitar pukul delapan pagi kami tiba di pelabuhan. Suasana pelabuhan terlihat begitu ramai dipenuhi oleh turis asing yang juga akan pergi ke Ko Phi Phi.  Pagi itu ada delapan kapal yang akan menyeberang ke Ko Phi Phi. Satu kapal kira-kira muat sekitar 500 orang. Jadi pagi itu ada sekitar 4000 orang yang akan menyebrang ke Ko Phi Phi. Belum lagi pada penyebrangan sore. Jadi kalau ditotal-total ada sekitar 8000 orang yang masuk ke Ko Phi Phi setiap harinya. Luar biasa. Padahal Ko Phi-Phi hanya sebuah pulau kecil, tapi wisatawan yang lalu lalang ke pulau ini begitu banyak.

Pelabuhan

Pelabuhan

Kapal untuk menyeberang ke Ko Phi Phi cukup bagus. Panjang kapal ini sekitar 50 meter. Kapal ini terdiri dari tiga tingkat. Tingkat bawah adalah untuk ruangan ber-AC, tingkat tengah adalah daerah open air dan ruangan berAC, dan tingkat atas adalah daerah terbuka tanpa atap. Orang bule biasanya justru rebutan untuk duduk disini. Mereka sengaja duduk disini untuk sunbathing Kami duduk di bagian udara terbuka berkanopi di geladak kapal. Kami sengaja memilih tempat tersebut karena kami memang ingin menikmati pemandangan dan udara pagi. Tidak ada perbedaan harga tiket antar tempat tersebut.

Hudan dek atas kapal, berhubung takut item, dia gak jadi sunbathing

Hudan dek atas kapal, berhubung takut item, dia gak jadi sunbathing

Hamzah dan Hudan

Hamzah dan Hudan

Kami disambut oleh sepotong croissant dan secangkir kopi hangat pagi itu. Croissant yang dihidangkan masih hangat, sepertinya baru saja dikeluarkan dari oven. Begitu empuk dan gurih. Luar biasa nikmat. Croisant adalah salah satu makanan yang sangat saya sukai. Sepotong croissant dan kopi hangat ini gratis dihidangkan untuk setiap penumpang. Jadi anda tidak perlu khawatir tidak sempat sarapan. Di kapal juga terdapat mini bar yang menjual berbagai jenis makanan.

Setelah kurang lebih 2,5 jam berlayar, mulai terlihat pulau-pulau kecil seperti tebing. Pulau ini tidak memiliki pantai pasir yang landai seperti pantai pada umumnya, melainkan tebing curam yang langsung berbatasan dengan laut, seperti ujung bukit yang menyembul keluar permukaan air.  Pulau-pulau seperti ini adalah khas daerah ini. Saya menjadi begitu excited. Jantung saya mulai berdebar kencang. Melihat langsung pemandangan seperti ini sudah merupakan impian saya sejak lama. Saya terus melihat ke depan kapal. Bayang-bayang pulau mulai tampak beberapa jauh di depan.

Ko dalam bahasa Thai artinya pulau. Jadi Ko Phi Phi artinya Pulau Phi Phi atau Kepulauan Phi Phi. Sebenarnya terdapat dua buah Pulau Phi Phi. Pertama adalah Ko Phi Phi Don dan yang kedua adalah Ko Phi Phi Leh. Ko Phi Phi Don letaknya di utara Ko Phi Phi Leh. Kedua pulau ini letaknya berdekatan. Perkiraan saya kedua pulau ini hanya berjarak 3 km. Ko Phi Phi Leh adalah pulau yang tidak berpenghuni. Pulau ini adalah pulau yang paling kecil. Di Pulau inilah terdapat pantai legendaris tempat shooting film The Beach. Selain pantai tersebut, pulau ini tidak memiliki daerah landai lagi. Semuanya berupa tebing-tebing curam yang langsung berbatasan dengan laut. Tebing-tebing ini tentu saja tidak bisa ditinggali.

Peta Ko Phi Phi (Pulau besar : Ko Phi Phi Don, Pulau Kecil : Lo Phi Phi Lay)

Peta Ko Phi Phi (Pulau besar : Ko Phi Phi Don, Pulau Kecil : Lo Phi Phi Lay)

Pulau Bukit

Ko Phi Phi

Ko Phi Phi 2

Ko Phi Phi 2

Pulau yang satu lagi adalah pulau pusat beradaban di Ko Phi Phi. Di Pulau inilah terdapat rumah penduduk, hotel, restoran, café, dermaga, dan segala yang dibutuhkan untuk hidup. Pulau ini sebenarnya juga tidak begitu besar. Besarnya kira-kira hanya empat kali Ko Phi Phi Leh. Topografi pulau ini juga sebenarnya tidak begitu jauh berbeda dengan pulau yang satunya, hanya saja di bagian tengah pulau ini terdapat sedikit daerah landai sehingga berbagai macam gedung bisa dibangun disana.

Kapal kami datang dari arah utara. Akan tetapi, sebelum merapat di dermaga sang nakhoda membawa kami tour singkat untuk mengelilingi Ko Phi Phi. Kami memutar ke arah selatan untuk melihat Ko Phi Phi Leh. Sang nakhoda juga berbicara melalui speaker di kapal untuk memberikan kami beberapa informasi mengenai Ko Phi Phi. Namun sayang sekali karena sang nakhoda berbicara dalam Bahasa Inggris dengan logat Asia yang kental ditambah dengan suasana hiruk pikuk dek kapal, saya tidak berhasil menangkap informasi apa-apa dari sang nakhoda.

Kapal sempat berhenti di laut beberapa saat di depan pantai The Beach. Dari jauh saya melihat pantai tersebut cukup ramai. Banyak turis asing sedang berjemur dan bersantai disana. Beberapa kapal nelayan terlihat merapat di pantai tersebut. Pantai ini memang primadona daerah sini. Di perairan sekitar kami tampak beberapa kapal berukuran sedang bertuliskan “SCUBA Diving” sedang berhenti di tengah laut. Sayapun langsung excited. Sepertinya kapal tersebut sedang menunggu para diver yang sedang menyelam.

Perairan di sekitar Ko Phi Phi Leh sangat ramai jika siang hari. Pada siang hari pusat kegiatan berada di sekitar pulau ini. Mulai dari kapal-kapal nelayan kecil hingga kapal-kapal pesiar hilir mudik di sekitar sini. Mereka semua tentunya mengangkut turis. Pada malam hari pusat kegiatan berpindah ke Ko Phi Phi Don. Party-Party ala Phuket pun ternyata banyak terdapat disini pada malam hari.

Tak berapa lama kami pun merapat di dermaga Ko Phi Phi Don. Walaupun ini hanya pulau kecil, akan tetapi dermaga disini cukup ramai. Banyak kapal yang sedang merapat. Di dermaga kami langsung disambut oleh puluhan orang lokal yang membawa papan nama bertuliskan nama-nama hotel. Dengan Bahasa Inggris berlogat Asia mereka berusaha menarik para wisatawan untuk menginap di hotel mereka. Kami jalan terus tanpa menghiraukan mereka. Kami lebih senang untuk mencari hotel sendiri karena kami harus menyesuaikan kriterianya, terutama masalah biaya.

Ko Phi Phi 3

Ko Phi Phi 3

Ko Phi Phi 4

Ko Phi Phi 4

Dalam mencari penginapan, kami dibantu oleh seorang penduduk lokal. Beliau adalah lelaki yang saya perkirakan umurnya sekitar 30 tahun. Badannya hitam,pendek dan kurus, namun ia memakai kacamata hitam layaknya beach boys. Beliau sangat ramah ketika mengetahui kami berasal dari Indonesia dan beragama Islam. Ternyata beliau adalah penduduk lokal yang beragama Islam. Kami juga sangat senang bertemu beliau. Kami langsung menanyakan beberapa hal penting seperti makanan halal. Beliau juga memberikan banyak penjelasan kepada kami tentang pulau ini. Sungguh baik sekali beliau. Beliau bahkan mengatakan jika kami mendapat kesulitan nantinya, jangan segan-segan datang ke sini untuk bertemu beliau. Beliau dengan senang hati akan membantu. Perjumpaan kami dengan beliau diakhiri dengan mengucapkan salam dan dengan gembira beliau pun menjawab salam kami. Sungguh indah memang persaudaraan antara sesama muslim.

Salah satu cerita beliau yang paling seru adalah kejadian tentang tsunami beberapa tahun silam. Ketika tsunami datang, beliau sedang berada di dermaga. Setelah melihat tsunami datang, beliau dengan segera lari ke pantai sisi pulau yang lain. Jarak dari pantai satu sisi ke pantau di sisi yang lain hanya setengah kilo meter. Ketika beliau sudah sampai di sisi pantai yang lain, ternyata tsunami juga datang dari arah pantai tersebut. Akhirnya beliau balik lagi ke tengah pulau dan berusaha menyelamtkan diri disana. Semua bangunan hancur ketika itu. Semua bangunan yang sekarang terdapat di pulau ini merupakan bangunan yang baru dibangun semenjak tsunami.

Aktivitas di Pulau ini hampir sebahagian besar berhubungan dengan kegiatan pariwisata. Penduduk lokal pulau ini juga sebahagian besar bermata pencaharian di bidang pariwisata. Yang lainnya berprofesi sebagai pegawai pemerintah, nelayan, pedagang di pasar, teknisi generator dan tenaga kasar. Kegiatan ekonomi pulau ini benar-benar hidup karena para turis yang datang ke sini. Hal yang saya senangi dari pulau ini adalah ternyata hampir sebahagian besar penduduk lokal pulau ini beragama islam. Untuk mencari makanan halal pun menjadi tidak begitu sulit. Di Pulau ini juga terdapat beberapa mesjid. Bahkan salah satu mesjidnya berukuran cukup besar.

Bangunan di pulau ini sebagian besar adalah hotel, cafe, toko souvenir, dan dive center. Walaupun pulau ini adalah pulau kecil, anda tidak perlu khawatir masalah akomodasi. Banyak sekali hotel yang terdapat disini, dari hostel murah hingga resort mahal yang sifatnya privat. Untuk makanan juga tidak perlu khawatir. Mulai dari café dan restoran yang harganya tidak koperatif buat kami hingga makanan yang agak murah di local market semuanya ada. Bahkan toserba 7 Eleven juga ada sini. Namun harganya memang agak sedikit lebih mahal dari biasanya. Disini juga terdapat money changger, jadi tidak perlu khawatir untuk kehabisan bath.

Infrastruktur disini juga sudah cukup baik. Di pulau ini tidak terdapat jalan raya. Jalannya adalah jalan-jalan kecil selebar 5 meter yang ditutup paving block. Di pulau ini juga tidak terdapat kendaraan. Kendaraan yang ada hanya sepeda dan gerobak. Air keran juga sangat baik walaupun terasa agak sedikit payau. Listrik untuk seluruh keperluan di pulau ini disuplai oleh sebuah pembangkit listrik diesel.

Salah satu sudut Ko Phi Phi Don

Salah satu sudut Ko Phi Phi Don

Salah satu sudut Ko Phi Phi Don 2

Salah satu sudut Ko Phi Phi Don 2

Kami masuk ke hostel sekitar pukul 12 siang. Cuaca siang itu cukup panas. Badan saya terasa sangat capai sekali ketika itu. Luka-luka kecelakaan di kaki sayapun mulai terasa nyut-nyut. Agenda kami siang itu belum kami tentukan. Untuk mengefektifitaskan waktu, saya mengajak Hamzah dan Hudan untuk langsung mengambil tour singkat + snorkeling ke Ko Phi Phi Leh. Akan tetapi sepertinya mereka kelelahan. Mereka lebih memilih untuk ngadem di dalam kamar sambil nonton tivi. Cuaca siang itu memang panas sekali. Semburan AC dan kasur yang empuk benar-benar menggoda.

Gelagatnya mereka akan tertidur dan baru bangun pada sore hari. Saya pikir sepertinya mereka sedang masuk dalam tahap antiklimaks dalam perjalanan kami. Perjalanan kami memang sangat panjang. Pasti akan ada saat-saat jenuh dalam perjalanan ini. Saat itu adalah saat dimana kami akan tidak semangat untuk melakukan apapun. Saya sendiri sudah mengantisipasi datangnya saat-saat seperti ini dengan mengontrol emosi dan stamina saya dari awal. Ko Phi Phi seharusnya menjadi puncak perjalanan kami. Sungguh sangat disayangkan kalau saat-saat jenuh itu datang ketika kami berada disini. Untungnya saya dapat memninimalisir rasa jenuh saya ini. Akhirnya saya kembali memutuskan untuk pergi sendiri.

Tour akan dimulai satu jam lagi. Dengan sigap saya langsung makan siang dan beberes. Sebenarnya saya pun sangat lelah. Belum lagi luka saya yang nyut-nyutan. Sebelum tour saya menyempatkan diri untuk membersihkan luka saya terlebih dahulu sebelum pergi. Luka saya siram dengan alkohol, kemudian saya kasih betadin, dan terakhir saya tutup denga perban. Luar biasa sakitnya. Walaupun sakit tetap saya paksakan karena saya tidak punya waktu untuk merasa sakit.

Siang itu tiba-tiba dari hidung saya mengocor darah merah segar. Akhirnya tubuh saya menyerah juga. Saya sudah sangat hapal dengan tubuh saya. Mimisan adalah salah satu cara tubuh saya memberitahu jika saya terlalu lelah. Walaupun mimisan saya tetap memaksakan diri untuk pergi. Waktu kami di pulau ini hanya tiga hari dua malam. Sayang jika saya hanya menghabiskan waktu untuk beristirahat di kamar.

Tour dilakukan dengan kapal nelayan kecil. Satu kapal berisi 11 orang. Semuanya orang berkulit putih. Hanya saya dan supir kapal yang orang Asia. Saya duduk bersebalahan dengan pasangan yang dari logat bahasa Inggrisnya saya duga berasala dari Eropa timur. Di belakang saya duduk tiga orang Spanyol. Saya lihat tato bendera spanyol di tangan salah satu diantara mereka. Tepat di depan saya, duduk seorang wanita. Dari mukanya saya langsung bisa menduga kalau wanita ini berasal dari prancis. Muka actor Prancis Jean Reno jelas sekali tergurat di wajah wanita ini.

Bersebelahan dengan wanita ini duduk dua orang lelaki adek kakak yang dari logatnya jelas sekali mereka berasal dari Amerika. Satu orang diantara mereka sifatnya sangat sanguin. Saya bisa langsung bisa me-recognize hal ini dari perilakunya. Belum apa-apa dia sudah mengajak kenalan semua orang di kapal. Entah mengapa saya tidak begitu suka orang sanguine. Dua orang sisanya adalah perempuan yang lagi-lagi dari logatnya saya tahu mereka berasal dari Inggris.

Mendengar cara berbicara / logat orang adalah cara termudah untuk mengetahui dari mana mereka berasal. Logat orang Amerika biasanya yang paling familiar dengan kita. Kita dapat  dengan mudah mengenali mereka. Sementara orang Inggris berbicara lebih formal. Mereka biasanya sering menggunakan tag question. Perempuan Inggris tersebut berkali-kali mengatakan “it’s very beautiful, isn’t it?”. Orang Amerika biasanya jarang mengucapkan ini. Mereka biasanya mengatakan “right?” atau “Ok?” untuk mengganti tag question. Orang Amerika juga biasanya sering menggunakan pola seperti “we ate lucnh already” atau “you didn’t reply it yet”. Orang dari Prancis biasanya Bahasa Inggrisnya tidak jelas. Logat Prancisnya sering terbwa dan sangat kental. Mereka biasanya sulit untuk mengucapkan kata-kata tertentu. Orang dari Negara-negara berbahasa latin lain lagi, Bahasa Inggris mereka seperti pemain-pemain bola Italy kalau sedang diwawancara.

Sekitar pukul tiga akhirnya tour dimulai. Pertama kami snorkeling di laut depan dermaga. Kapal berhenti kira-kira satu kilometer di depan dermaga. Tiidak ada yang istimewa di sini. Ikan-ikan dan terumbu karangnya biasa saja.  Kedalaman laut disini sekitar 3- 5 meter. Visibility sekitar 7 meter.

Apakah anda masih ingat dengan luka-luka kecelakaan yang masih basah di sekujur tubuh saya? Kawan, rasanya luar biasa sakit ketika luka-luka yang masih basah tersebut di rendam dengan air garam. Gatel dan perih teramat sangat. Gatel yang saya maksud disini adalah gatel versi ekstrim. Di dalam air saya sempat meraung-raung beberapa saat. Sebenernya ketika itu saya masih ragu untuk snorkeling. Tapi mengingat entah kapan lagi saya berkesempatan untuk berkunjung kesini, akhirnya saya membulatkan tekat untuk memberanikan dri merendam luka-luka saya tersebut di air garam.

Lagi-lagi sudah menjadi kebiasaan saya untuk memperhatikan dan mengamati orang. Saat snorkeling ini adalah saat dimana terlihat mana yang diver dan mana yang bukan. Ternyata si American Saungin adalah seorang diver. Saya sempat melihat dia meludahi masker-nya sebelum menyelam. Meludahi masker adalah salah satu cara untuk mencegah fogging pada masker jika tidak ada sabun. Selain itu dia juga berkali-kali melakukan duck dive, tentunya dengan gerakan yang benar. Sementara yang lain terlihat asal-asalan. Sungguh beruntung saya menjadi seorang diver.

Setelah snorkeling sekitar satu jam, berikutnya kami berkunjung ke Monkey Beach. Monkey Beach hanya pantai pasir kecil diantara bukit-bukit terjal Ko Phi Phi Leh. Pantai ini pasirnya putih bersih. Lautnya pun luar biasa indah. Berwarna hujau muda dan memiliki gradasi menjadi biru ke arah laut. Baru kali ini saya melihat air yang sehijau ini. Pantai ini disebut Monkey Beach karena memang di pantai ini terdapat banyak monyet-monyet liar. Buat saya dan orang Asia lainnya mungkin monyet adalah sesuatu yang tidak aneh. Tapi bagi turis berkulit putih, monyet adalah sesuatu yang perlu diberi antusiasme dalam melihatnya.

Di pantai ini tiba-tiba kamera saya lobat. Kamera ini memang saya pakai terus dari pagi. Terlebih lagi pada pagi harinya baterai kamera hanya terisi setengah. Kamera Hudan pun tidak saya bawa. Handphone saya juga ternyata lobat. Arghhh…. Minta ampun saya kesalnya. Kenapa kejadian ini harus terjadi disaat-saat seperti ini. Saat-saat dimana saya berada dalam momen yang sudah saya impikan sejak dulu. Mungkin memang momen ini terlalu spesial buat saya. Saya tidak diijinkan untuk mengabadikannya. Saya hanya diijinkan untuk melihatnya di tempat. Mungkin momen ini terlalu saklar. Saya langsung benar-benar memaksimalkan penggunaan mata saya untuk merekam pemandangan sekitar ke otak. Saya tidak akan melihatnya dua kali. Sungguh malang.

Pemandangan selama  tour

Pemandangan selama tour

pemandangan selama tour

pemandangan selama tour

Tempat ketiga yang saya kunjungi adalah laut yang merupakan sebuah cekungan seperti teluk. Awalnya saya bingung kenapa kami berhenti disini. Entah apa yang hebat disini. Saya lihat sekilas ke dasar laut tidak terlihat terumbu karang sama sekali. Hanya terlihat pantulan warna cahaya matahari yang menyilaukan. Warna airnya hijau. Hijaunya mirip dengan warna air laut di Monkey Beach. Sekeliling laut juga hanya ada tebing. Dengan penasaran saya memakai peralatan snorkeling saya. Dari dalam air saya lihat ke dasar laut, tetap tidak terlihat apa-apa. Laut disini agak aneh, dasar lautnya begitu menyilaukan. Cahaya mahari yang masuk ke dalam laut dipantulkan kembali ke atas. Kita dapat dengan jelas melihat garis-haris cahaya matahari yang menembus air laut. Seperti ada harta karun di bawah sana.

Dengan penasaran saya coba untuk duck dive. Saya pikir lautnya pasti tidak terlalu dalam. Kira-kira telah 5 meter saya duck dive tapi ternyata saya belum menyentuh dasarnya . Saya bahkan tidak bisa melihat apa-apa karena silau oleh dasar laut yang memantulkan sinar matahari. Saya makin penasaran. Saya coba kembali duck dive. Pada duck dive saya yang kedua ini, tetap saja saya belum mencapai dasar laut. Lagi-lagi saya tidak dapat melihat apa-apa selain berkas-berkasi garis sinar matahari yang menyilaukaun. Saya mungkin sudah sekitar 8 meter melakukan duck dive. Saya makin penasara. Apa sesungguhnya yang ada di bawah sana.

Saya kembali mencoba untuk yang ketiga kalinya. Kali ini saya paksakan untuk melakukan equalisasi rongga telinga. Walopun kuping sudah agak sakit, saya terus menyelam ke bawah. Saya tidak bisa melihat apapun didepan saya. Permukaan air di atas saya pun tidak terlihat. Setelah saya paksakan untuk terus turun ke bawah, akhirnya saya dapat mennyentuh dasarnya. Ternyata dalamnya sekitar 10 meter. Dasar lautnya ternyata hanya pasir. Akan tetapi pasirnya sangat putih bersih. Saking putihnya, pasir tersebut dapat memantulkan dengan baik sinar matahari. Karena efek tersebut, laut disini terlihat dangkal. Baru kali ini saya melihat yang seperti ini. Tidak seperti di laut. Sungguh ajaib.

Bersambung…..

13 thoughts on “Budget Traveling at Thailand : Phi Phi Island, Momen yang Terlalu Spesial (Part. 6)

  1. heyyyy AUlia!
    aki seneng banget bc blog mu.,
    tadi nya aku lagi nyari2 blog atau site ttg Phi Phi Island, soal nya bln depan ak mau kesana, cuma sampe sekarang, ak masih bingung.

    berapa sih budget utk liburan kesana? kira2 2 malam?

    aku masih blank! apa harus lewat travel agent?

    • terima kasih mbak lina
      rasanya tidak perlu untuk memakai jasa travel agent mengingat disana relatif gampang untuk mendapat transportasi dan informasi. Kalau pakai travel agent nanti malah tidak bebas ^^

      untuk perkiraan biaya, bisa kontak saya via email pribadi saja, teria kasih

  2. hi,
    aku dah booked ticke ke phuket desember ini, rencana nya sie pengen ke phi phi juga,karna ndak pake travel agent jadi aku survey2 sendiri di net, mau nanya dung total budget buat ke phi phi dari phuket berapa sie? kalau ndak nginep di phi phi bisa nda? ( cuma 1 day tour gitu ) ada ndak yah?
    o ya so far tulisan mu bantu aku banget…maacih ya…btw…i really wish ull help me with budget details …aku sendirian soale ney

    many thanks
    kaka

    • tergantung berapa lama disananya dan apa yang akan kita lakukan disana. Kalau penginapan banyak hostel2 dengan biaya bersahabat. Untuk makanan juga banyak makanan2 yang murah.

      Kegiatan yang agak mahal misalnya diving, sonerkeling, jet ski-ing dan olahraga2 air lainnya.

      Setau saya tidak ada one day tour dari phuket untuk ke phi phi. jarak phi phi dan phuket cukup jauh. Sekitar 3-4 jam naik kapal boat.

      Saran saya, lebih baik spend 2-3 malam di phi phi karena phi phi tidak kalah menariknya jika dibangingkan phuket

    • jarak phuket dan phi phi agak jauh, tiga jam naik kapal. jadwal kapalnya juga tertentu, jadi saya kira sulit kalau mau pulang pergi phuket phiphi dalam satu hari

      untuk detail budget saya juga tidak begitu ingat, mungkin bisa kontak via email saja, trims

  3. terimakasih ya utk tulisan kamu mengenai pulau phiphi,boleh tau nggak gimana cara yg lbh murah dan aman utk sampai kesana,soalnya ibu rencananya pergi bareng anak perempuan ibu.atau aulia bisa bantu nggak dimana ibu bisa dpt inf.yg lbh lengkadnks bangeet sebelumnya.

  4. hello, wah ceritanya menarik. Saya hari minggu besok (13 des) akan berangkat ke Phuket, untuk lima hari. Phi Phi Island , Patong Beach adalah main destination, tapi berhubung budget traveler saya berencana hanya sight seeing doang..hehe btw single traveler ke daerah thailand aman tidak, berhubung juga first experience sih…tks ya

    tks

    welly (welly_ipb@yahoo.com)

  5. mau naya, kalo tiket ke phi-phi island dari phuket brapa??
    penginapannya juga sekitar brapaan??
    ada rekomendasi??
    thx yow…

  6. hai Aulia

    dulu booking tur singkat dengan long tail boat + snorkeling ke Phi Phi Ley dimana, phi phi don atau saat di phuket? bisa dibooking di Phi Phi Don kan yah?
    thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s