Budget Traveling at Thailand : Phi Phi Island, Terima Kasih Francois (Part. 7)

Tempat berikutnya masih laut di sekitar Ko Phi Phi Leh. Kapal kami kembali berhenti untuk snorkeling. Laut yang ini ikannya luar biasa banyak. Jika anda membawa roti ke dalam laut, maka ikan-ikan tersebut akan dengan segera menyerbu roti anda. Jenis ikannya sangat beraneka ragam. Saya juga menemui ubur-ubur dengan diameter sekitar 1 meter. Lautnya juga sangat jernih. Visibility sekitar 15 meter. Sebenernya sangat banyak foto indah underwater yang dapat saya ambil disini. Akan tetapi dikarenakan kamera saya yang sudah kehabisan batere sejak tadi, saya kembali hanya bias mengabadikan gambarnya di otak saya. Sekali lagi, mungkin momen ini terlalu spesial buat saya. Saya tidak diijinkan untuk mengabadikannnya.

Anda masih ingat adegan Leonardo Dicaprio yang lompat dari atas tebung di film The Beach? Anda bisa melakukannya disini. Anda dapat naik ke salah satu tebing yang jalannya sudah di tandai, dan anda dapat lompat dari sana. Tinggi tebing ini sekitar 10 meter. Sangat cocok untuk menguji nyali. Sensasi lompatannya sungguh luar biasa. Anda dapat teriak sekencang-kencangnya hingga badan anda menghantam laut di bawah. Sungguh fantastis. Coba saja cari di youtube videonya dengan kata kunci “jump from the clift Ko Phi Phi”.

Tempat berikutnya yang kami kunjungi adalah Maya Beach. Maya Beach ini adalah pantai tempat shooting film The Beach yang terkenal itu. Pantai ini adalah primadona daerah sini. Semenjak film The Beach tersebut, Ko Phi Phi khususnya Maya Beach banyak di kunjungi oleh turs dari luar negeri. Sungguh beruntung Thailand, gara-gara sebuah film Holywood negaranya kini menjadi destinasi wisata kelas internasional yang terkenal.

Pantai ini merupakan satu-satunya pantai pasir yang agak besar di Ko Phi Phi Leh. Di sekitar pantai ini hanya ada sedikit daratan pasir karah dalam pulau. Selebihnya kembali hanya bukit-bukit terjal yang tidak bias di tempati. Di sini tidak ada ladang ganja sebagaimana yang dikisahkan oleh film The Beach. Pada siang hari, Pantai ini padat dikunjungi oleh turis dari Ko Phi Phi Don. Ada yang berjemur, bermain sepak bola pantai, atau hanya sekedar bermain-main air. Pada sore hari para turis-turis tersebut akan kembali ke pusat kebidupan di Ko Phi Phi Don. Jika anda berminat untuk camping, ada paket yang menawarkan untuk camping di pulau ini.

Maya Beach

Maya Beach

Bersantai di Maya Beach

Bersantai di Maya Beach

Pantai ini luar biasa indah. Pasirnya begitu lembut dan putih. Warna lautnya juga jernih biru kehijau-hijauan. Pemandangannya pun cukup berbeda dengan pantai-pantai pada umumnya. Bukit-bukit yang mengelilingi pantai menjadi keunikan pantai ini. Konon katanya sebelum pantai ini banyak dikunjungi orang, pantai ini jauh lebih indah dari sekarang.

Di pantai ini kami berhenti cukup lama. Pantai ini memang tujuan utama dari tour kami. Si dua orang lelaki Amerika dan dua orang perempuan Inggris tampak berafiliasi untuk nongkrong bersama-sama. Saya merasa mereka agak sedikti sombong karena mereka tidak mau “bermain” dengan yang lain. Cih, dari mulai kepala negara hingga kroco-kroco seperti mereka, Amerika dan Inggris sama saja. Angkuh, arogan dan mereka bersahabat. Sepasang kekasih spanyol terlihat berpacaran sambil berfoto-foto. Wanita Prancis terlihat membentangkan handuknya di pantai dan duduk menikmati suasana sendirian. Sementara gerombolan dari Eropa Timur tidak jelas kemana. Saya tidak melihat mereka.

Saya? Seharusnya saya sibuk mengambil gambar semua sudut pantai ini. Pantai ini adalah obsesi saya sejak lama. Tapi lagi-lagi saya hanya bisa bengong meratapi kebodohan saya yang tidak well organized mengatur pemakaian kamera. Benar-benar kesal saya. Ingin saya rasanya berenang kembali ke Ko Phi Phi Don,ke kamar hotel, mengambil kamera, dan kembali berenang ke Maya Beach. Setiap kali menatap indahnya pantai ini saya kembali kesal dengan diri saya.

Karena depresi saya lalu duduk di pantai. Saya hanya bisa melihat sekitar saya dengan seksama. Saya kembali berpikiran positif. Mungkin momen ini memang terlalu spesial buat saya. Saya hanya diijinkan untuk melihatnya sekali. Karena frustasi saya kemudian membaringkan badan saya di pasir dan tak lama saya tertidur. Entah berapa lama saya tertidur. Tiba-tiba saya terbangun dan blink..!! Entah darimana muncul ide untuk meminjam kamera dari turis lain. Saya tidak peduli, bagaimanapun harus ada cara untuk mengabadikan momen ini.

Akhirnya saya beranikan diri untuk menghampiri si wanita Prancis yang juga sedang duduk sendiri tidak jauh dari saya. Saya katakana kepanya bahwa saya ingin meminjam kameranya dengan memakai memory card saya. Awalnya si wanita Prancis ini masih belum menangkap maksud saya. Setelah saya jelaskan berulang-ulang bahwa batere kamera saya habis, akhirnya ia mengerti juga. Dan untungnya dengan senang hati ia mau meminjamkan kameranya kepada saya. Yeeeaaaaah…. Akhirnya saya bisa juga mengambil gambar. Big Thanks to The God.

Pemandangan

Maya Beach 2

Maya Beach 2

Maya Beach 2

Maya Beach 4

Maya Beach 3

Karena cuma sendiri, terpaksa foto narsis ala anak sma :p

Karena cuma sendiri, terpaksa foto narsis ala anak sma :p

Dengan sigap saya langsung mengabadikan seluruh sudut dari pantai ini. Walaupun hasilnya tidak terlalu bagus, tapi lumayan lah. Saya mengambil gambar memang agak terburu-buru, tidak enak jika kelamaan dengan si wanita Prancis ini. Mungkin saja ia ingin memakai kameranya juga.

Setelah beberapa lama mengambil foto, sayapun kembali menghampiri si wanita Prancis ini. Saya mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya. Sebenarnya pada awalnya saya hanya menebak ia berasal dari Prancis. Akan tetapi setelah berbicara dengannya, saya bisa pastikan ia benar-benar berasal dari Prancis. Bahasa Inggrisnya sangat kental dengan logat bahasa Prancis. Ia bahkan mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Inggris dengan pengejaan yang sangat Prancis.

Akhirnya kamipun menjadi mengobrol. Francois namanya. Benar-benar tipikal nama Prancis. Ia berasal dari Touluse. Umurnya saya perkirakan hampir mencapai 30 tahun.  Ia seorang wanita karir yang sedang berlibur ke Thailand seorang diri. Orang barat memang hidupnya lebih soliter di bandingkan kita. Bepergian sendiri seperti ini bukanlah merupakan suatu hal yang aneh, bahkan untuk seorang wanita seperti Francois sekalipun.

Ketika saya beratanya mengapa bepergian seorang diri, ia mengatakan sulit untuk mencari jadwal yang sama dengan teman-temannya. Alhasil karena ia jenuh dengan pekerjaannya, akhirnya ia memutuskan untuk pergi sendiri. Saya pikir hebat juga seorang wanita seperti dia bisa pergi sendirian ke tempat antah berantah sepertri ini. Ia juga belum menikah. Dan ternyata ia tidak terlalu cemas dan perduli dengan pernikahan walaupun usianya sudah tidak muda lagi. Jika di Indonesia, seorang gadis yang umurnya sudah menginjak 20an tahun biasanya sudah cemas akan pendamping hidup.

Francois sangat excited ketika mengetahui bahwa saya berasal dari Indoensia. Ia bertanya banyak hal tentang Indoensia. Dengan bangga saya juga menjelaskan banyak hal. Bahkan saya mengatakan kepadanya di Indoensia, ia akan menemui banyak tempat yang tidak kalah indah dengan ini. Ternyata ia juga sangat menyukai laut.

Kami berbicara banyak hal. Francois sangat ramah dan selalu antusias dalam percakapan. Walaupum dalam percakapan sering kami saling tidak mengerti satu sama lain, kami tetap ketawa-ketawa berlagak mengerti. Kadang saya bercerita hal yang sama dua kali, namun reaksinya seperti baru pertama kali mendengarnya. Artinya ia tidak menangkap maksud saya ketika cerita pertama kali. Begitu juga dengan dia. Kadang dia mengulang cerita yang sama berkali-kali. Lucu juga berbicara dengan orang asing seperti ini. Pada akhir pembicaraan saya sempat mengambil fotonya. Inilah dia Miss Francois :

Ms. Francois

Ms. Francois

Sekitar pukul stengah 5 akhirnya kamipun pulang. Sebelum pulang kami berhenti sejenak di tengah laut untuk menikmati sunset. Waw, baru kali ini saya menikmati sunset dari tengah laut, sungguh indah. Ketika itu Francois malah yang menawarkan saya kameranya untuk mengambil gambar. Baik sekali si Francois ini.

Sunset dari tengah laut

Sunset dari tengah laut

Sekitar pukul setengah 6 akhirnya kami merapat di dermaga Ko Phi Phi Don. Saya benar-benar lelah. Saya pun kembali ke hotel dan beberes badan. Setelah makan malam, saya langsung mencari paket untuk diving keesokan harisnya. Saya benar-benar ingin waktu saya di Ko Phi Phi efektif. Olehkarena itu dengan segera saya langsung men-DP untuk paket diving kesokan harinya. Berhubung hanya saya yang berniat diving, lagi-lagi saya pergi seorang diri tanpa Hudan dan Hamjah.

Pada pagi hari sekali keesokan harinya, di saat orang-orang masih di kamar hostel saya telah bangkit dari tempat tidur. Kemudian saya mempersiapkan segala macam peralatan untuk dibawa diving . Setelah membeli setungkup sandwich tuna di 7 Eleven untuk sarapan, saya langsung menuju dive center. Sesuai janji, jam 7 waktu setempat, peserta diving sudah harus stand by di dive center.

Banyak sekali dive center yang terdapat di Ko Phi Phi. Kebanyakan dive center ini berafiliasi dengan PADI (Professional Association of Diving Instructors). Hampir semua dive center ini milik orang asing. Dive master dan instrukturnya juga hampir semua merupakan orang barat. Untuk course diving bahkan dapat dilakukan dengan berbagai macam bahasa seperti Prancis, Jerma, Spanyol, dan Itali. Saya memilih dive center yang saya kira paling besar dan paling bagus. Dive center yang saya pilih sendiri dimiliki oleh orang Prancis.

Pagi itu suasana di dive center cukup ramai. Ada sekitar 15 orang yang akan melakukan penyalaman. Kami dibagi menjadi 4 kelompok kecil. Masing-masing kelompok dipandu oleh seorang dive master. Saya perhatikan satu kelompok adalah mereka yang baru akan mengambil sertifikat diving. Pagi itu tampak mereka di-briefing dengan serius.

Kami hanya bertiga satu kelompok ditambah satu orang dive master. Saya, John yang berasal dari Inggris, Joana orang Portugal dan terakhir dive master kami yang bernama Dee. John memegang lisensi Advance diver dari PADI. Ia telah mengembara selama 6 bulan seorang diri. Negara yang telah ia kunjungi adah Vietnam, Laos, Kamboja, dan Thailand adalah Negara terakhir yang ia kunjungi sebelum ia balik ke Inggris. Luar biasa. Setelah pria di Bangkok, Francois dan kini saya bertemu John sebagai orang yang bepergian jauh seorang diri. Mungkin memang bepergian seorang diri hal yang sangat lumrah di barat sana.

Anggota kelompok yang lain adalah Joana. Ia adalah mahasiwa marine bilology. Ia memegang lisensi open water diver juga dari PADI. Tampak ia sangat antusis dalam mengikuti penyekaman ini. Underwater camera telah siap di kalungkan ditangannya. Terakhir adalah dive master kami : Dee. Ia adalah seorang perempuan berkebangsaan inggris. Ia telah tinggal selama 6 bulan di Ko Phi Phi. Ko Phi Phi sudah seperti rumah untuknya. Setiap hari kegiatannnya hanya menjadi dive master pada pagi hari, sore hari membaca buku atau bersantai-santai dan pada istirahat pada malam harinya. Sungguh nikmat hidupnya. Bahkan ia juga telah memilik pacar orang lokal. Ketika saya tanya kapan ia kemabali ke Inggris, ia tidak tahu. Ia sangat senang tinggal disini, seperti surga katanya.

Setelah minum kopi hangat, kami langsung menuju dermaga. Dari dive center kami hanya membawa weight belt dan wet suit. Perlengkapan sisanya sudah ada di kapal. Pagi itu ada sekitar 6 kapal dari banyak dive center yang berangkat membawa rombongan diving. Kapalnya berukuran sedang, panjangnya sekitar 15 meter.

Dive site pertama letaknya laut sebelah barat Ko Phi Phi lay. Setelah kapal berhenti, semua peserta mulai mempersiapkan diri. Memakai dive suit, memasang weight belt, mengoleskan antifog, dan mengecek BCD dan regulator. Setelah semua terpasang, satu persatu kami turun.

Depan Dive Ship

Depan Dive Ship

Dek atas dive ship

Dek atas dive ship

Dive Equipment

Dive Equipment

Bersiap-siap menyelam

Bersiap-siap menyelam

Pada dive site yang pertama ini karagnya terlihat biasa saja.Visibility sekitar 15-20 meter. Warna airnya biru gelap. Saya kira memang jika sola karang, tidak ada yang mengalahkan negeri kita tercinta. Yang menarik perhatian saya disini adalah ikannya. Ikannya bermacam-macam dan bentuknya juga aneh-aneh. Ada yang bulat gembung, panjang, kotak dan sebagainya. Ikan-ikan kuning kecil berbaris sepanjang puluhan meter membentuk jalur. Ikan-ikan disini memang sangat banyak, mereka berbaur di dalam air seperti bintang-bintang yang bertebaran di langit. Beberapa jenis ikan yang saya temui adaah box fish, Lion Fish dan Clown fish. Kami juga sempat melihat manta ray. Hanya itu ikan yang saya tau namanya.

Kami terus turun ke bawah hingga kedalam 15 meter. Daerah ini adalah daerah dimana mulai banyak ikan-ikan besar disini. Tiba-tiba entah kenapa banyak ikan yang berenang ke arah kami. Kami terus pergi ke arah berlawan dari ikan-ikan tersebut. Tiba-tiba di kejauhan samar-samar saya melihat ada ikan berwarna putih yang lebih gede mendekati kami. Agak lama saya baru menyadari bahwa ternyata ikan yang di depan kami adalah ikan hiu. Ikan hiu ini adalah jenis blacktip reef shark. Kira-kira tiga meter pangjangnya. Ikan hiu tersebut terus berenang ke arah kami. Jantung saya berdegup kencang. Saya menjadi agak gugup. Setelah sekitar 10 meter di depan kami barulah ikan hiu tersebut berbelok, berputar-putar dan kemudian pergi menghilang ditelan birunya laut. Sepertinya ikan hiu tersebut terganggu dengan kehadiran kami disana.

Beberapa lama kami juga bertemu dengan hiu yang kedua. Hiu yang kedua ini adalah jenis Leopard Shark. Leopard shark relatif lebih tidak agresif dibandingkan dengan black tip shark. Hiu ini justru biasanya hanya diam di suatu tempat dan baru pergi jika merasa terganggu.

Saya cukup eforia dengan peristiwa kemunculan hiu ini. Buat saya melihat hiu dengan mata kepala sendiri adalah salah satu achievement hidup. Ini adaah salah satu cita-cita saya sejak dulu dan Alhamdullilah hari ini saya telah mencapainya. Sayangnya saya tidak merekam / memfoto ikan hiu tersebut. Saya tidak memiliki underwater camera. Lagi-lagi saya cukup kesal, kenapa disaat seperti ini justru tidak ada underwater camera? Padahal selama saya menyelam pasti selalu ada yang membawa underwater camera. Sekali lagi, mungkin ini saat yang terlalu special buat saya. Saat-saat sakral seperti ini tidak boleh dikotori oleh pengabadian dengan kamera.

blacktip reef shark (google)

blacktip reef shark (google)

Leopard shark (google)

Leopard shark (google)

Dive Ship

Dive Ship

Habis Menyelam

Habis Menyelam

Setelah sekitar satu jam setengah menyelam akhirnya kami kembali ke kapal. Satu persatu peserta diving naik. Kami naik untuk beristirahat makan siang. Tuna Sandwich saya lahap habis siang itu. Setelah makan kami bersantai-santai sejenak di atas kapal. Kami membicarakan tentang penyelaman yang baru saja dilakukan. Setelah sekitar dua jam beristirahat, kami menuju dive site kedua. Dive site kedua ini leraknya di depan Maya Beach.

Penyelaman yang kedua ini adalah penyelaman menyusuri tebing. Dive site-nya memang terletak di dekat pantai tebing Ko Phi Phi Lay. Kami menyelam terus menyusuri tebing. Topografi dive site yang kedua ini sangat indah. Tebing-tebing curam mengelilingi kami. Kami seperti berada dalam labirin-labirin. Lautnya juga aneh. Di suatu tempat airnya kadang berwarna hijau tapi tidak jauh dari situ airnya berwarna biru. Tak lama kami menyelam, kami bertemu penyu. Ternyata disini masih dapat dengan mudah kita menjumpai penyu. Selama menyelam kami berkali-kali bertemu dengan penyu.

Air disini sangat dingin, seperti air dispenser. Kaki dan tangan saya bahkan sempat mati rasa. Kulit kaki dan tangan saya juga menjadi mengkerut. Luka-luka saya yang awalnya terasa sakit pun menjadi mati rasa. Ketika itu saya bahkan takut mengalami hipotermia. Saya tidak berlebihan, airnya memang begitu dingin.

Entah kenapa air disini begitu dingin, Mungkin karena jarang terkena sinar matahari. Sinar matahari tertutup oleh bukit-bukit Ko Phi Phi Lay. Atau mungkin penjelasan lainnya adalah karena di sepanjang tebing tersebut banyak terdapat gua dimana air dingin tersebut keluar dari gua. Entahlah saya juga tidak tahu. Tapi saya sangat beruntung. Ketika itu air lautnya begitu flat, gelombang dan arus sangat kecil.

Kondisi tubuh saya sebenarnya sudah babak belur ketika itu. Sudah kecapean ditambah dengan kondisi penyelaman yang cukup ekstrim membuat tubuh saya benar-benar hancur. Beberapa kali saya tidak bisa popping. Beberapa kali juga saya menderita keram pinggang dan kaki. Untungnya saya bisa mengatasi semuanya. Selesai dive kedua muka saya ternyata pucat. Dee menyuruh saya untuk berjemur diatas dek kapal. Bibir saya membiru dan mengerut. Wuiiih… Maaf kan saya tubuhku… Saya telah memperkosa kamu…

Secara umum saya puas dengan penyelaman saya di sini. Saya banyak menemukan makhluk-makhluk yang saya belum pernah lihat langsung sebelumnya seperti Penyu dan Ikan Hiu. Bahkan saya berkali-kali bertemu penyu. Memang jika dilihat dari keanekaraman dan keindahan terumbu karang, perairan Ko Phi Phi masih kalah dengana negeri kita tercinta. Tapi untuk makhluk laut seperti ikan, tempat ini lumayan oke. Jenis ikannya banyak dan sangat indah. Saya sempat terpikir, apakah ada hubungan antara jenis terumbu karang dengan keanekaragaman ikan? Apakah terumbu karang yang bagus akan menjamin terdapat ikan yang banyak dan bagus pula atua sebaliknya. Apakah sudah ada penetilitian yang mebahas hal ini?

Sekedar intermezzo, melihat ikan yang begitu banyak hidup berdampingan membuat saya berpikir. harusnya kita belajar dari alam. Walaupun berbeda jenis, ikan-ikan itu hidup bersama begitu rukun. Mereka bersama-sama membentuk suatu keindahan dan keseimbangan alam. Tak satupun dari mereka yang tidak tunduk pada takdir alam. Semua melaksanakan peran dan tugasnya dengan baik. Tidak ada yang serakah, tidak ada yang iri, dan tidak ada yang sombong. Alam sudah mencontohkan, seharusnya manusia malu dengan alam. Entah apakah manusia bisa hidup seperti ikan-ikan tersebut.

Kami kembali ke dermaha sekitar pukul 3 sore. Setelah mengurus administrasi dan mengisi loog book saya langsung balik ke kamar, mandi dan langsung istirahat. Badan saya benar-benar babak-belur. Seperti remuk rasanya. Saya tidur sampai magrib.

Pada malam hari kami bertiga menhabiskan waktu dengan berjalan-jalan mengelilingi pulau. Malam hari memang adalah waktu party-party diadakan. Bahkan di salah satu pantai diadakan pary ala pantai. Party ini dimeriahkan oleh pertunjukan bola-bola api. Persis seperti yang terdapat di dalam film The Beach. Kami hanya nongkron di pinggir pantai sambil menyantap mi istant yang kami beli di 7 eleven.

Night Beach Party

Night Beach Party

Setelah puas duduk-duduk akhirnya kami kembali ke hostel untuk beristirahat. Besok pagi kami akan naik kapal untuk pergi ke Krabi.

Bersambung….

10 thoughts on “Budget Traveling at Thailand : Phi Phi Island, Terima Kasih Francois (Part. 7)

  1. waw capp…
    ini yg kutunggu!

    masih disayang Allah tuh cap, lo sedikit lg hiportemia… kondisi luka, dan badan yg kurus, dan tubuh yg lelah.. gila! untung masih idup.. haha..
    napa gak make wetsuit yg panjang sih..dudul..

    “Saya sempat terpikir, apakah ada hubungan antara jenis terumbu karang dengan keanekaragaman ikan? Apakah terumbu karang yang bagus akan menjamin terdapat ikan yang banyak dan bagus pula atua sebaliknya. Apakah sudah ada penetilitian yang mebahas hal ini?”
    keknya udah ada cap, tp lbh ke hipotesa, terumbu yg sehat dan lingkungan yg sehat, akan mengundang berbagai jenis ikan2 karang baik yg besar maupun yg kecil..

    “Walaupun berbeda jenis, ikan-ikan itu hidup bersama begitu rukun.”
    ahahahahahha..kan semboyan indonesia udah sama cap, berbeda-beda tetapi tetap satu jua :))

    seeep laahhh.. hiu blak tip cap, agresif loh.. apalagi liat lubang besar di kaki lo :))
    hiu leopard?? nice… pengalaman yg jarang tuhhh…

    • kagak ada wet suit yang panjang nin, buat ukuran gua cuma ada yang itu, haha

      Menarik juga tuh nin penelitiannya, habisa gua heran, ikannya bagus kok terumbu karangnya biasa aja

      Klo leopard shark diem doank nin kayak ikan sapu-sapu, klo diganggu baru ngacir..

  2. waw capp…
    ini yg kutunggu!

    masih disayang Allah tuh cap, dikit lg hiportemia beneran tuu… kondisi luka, dan badan yg kurus, dan tubuh yg lelah.. gila! untung masih idup.. haha..
    napa gak make wetsuit yg panjang sih..dudul..

    “Saya sempat terpikir, apakah ada hubungan antara jenis terumbu karang dengan keanekaragaman ikan? Apakah terumbu karang yang bagus akan menjamin terdapat ikan yang banyak dan bagus pula atua sebaliknya. Apakah sudah ada penetilitian yang mebahas hal ini?”
    keknya udah ada cap, tp lbh ke hipotesa, terumbu yg sehat dan lingkungan yg sehat, akan mengundang berbagai jenis ikan2 karang baik yg besar maupun yg kecil..

    “Walaupun berbeda jenis, ikan-ikan itu hidup bersama begitu rukun.”
    ahahahahahha..kan semboyan indonesia udah sama cap, berbeda-beda tetapi tetap satu jua :))

    seeep laahhh.. hiu black tip, agresif loh.. apalagi liat lubang besar di kaki lo :))
    hiu leopard?? nice… pengalaman yg jarang tuhhh…

  3. Dear Aulia hamdani,
    saya akan ke phuket sept ini, dan juga ingin tour ke maya beach
    bisa tolong info travel yg anda gunakan ketika disana ?
    karena saya merencanakan book travel dr jakarta
    terima kasih yach

    • saya hanya menggunakan jasa travel untuk pemesanan tiket di sana, kalau mau info lebih detail, kontak saya lewat japri saja,tks

  4. Pingback: Vacation in Maya Bay, Thailand | Beautiful Tourism

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s