Membangkitkan Pariwisata Indonesia

Saya cukup prihatin dengan dunia kepariwisataan Indoensia. Bukan apa-apa, saya pikir seharusnya negara kita bisa mendatangkan jauh lebih banyak wisatawan dibandingkan saat ini.  Kalau kita bandingkan dengan negara tetangga saja, jumlah wisatawan asing (saya berbicara tidak dalam konteks domestik) yang datang ke Indonesia jauh lebih sedikit jika dibandingkan Singapura, Malaysia atau Thailand.

Indonesia baru mampu mendatangnya sekitar 4 juta wisatawan pada tahun kemarin. Sementara negara tetangga kita, Singapura, Malaysia dan Thailand sudah bisa mendatangkan wisatawan  diatas 10 juta setiap tahunnya.

Padahal jika kita berkaca, kita punya banyak potensi pariwisata, bahkan jauh lebih banyak dari negara-negara tetangga kita tersebut. Fauna dan flora kita sangat beragam. Kekayaan alam kita melimpah. Kita juga punya banyak peninggalan-peninggalan bersejarah. Semua itu tentu merupakan potensi di bidang kepariwisataan.

Kalau Thailand bisa kasih daftar 5 pantai dan pulau terindah di negaranya, kita bisa kasih 100 daftar. Kalau Malaysia mengklaim dirinya sebagai bangsa multi kebudayaan, maka kita punya lebih dari 33 kebudayaan yang berbeda. Tidak diragukan lagi kita punya potensi itu, potensi yang jauh lebih banyak daripada negara-negara tetangga kita.

Namun kenapa para wisatawan tidak datang ke negara kita? Kenapa mereka lebih memilih datang ke negara tetangga? Tidak bisa ditampik lagi kalau alasannya : salah urus.

Lalu bagaimana agar orang bisa datang ke negara kita? Apa yang salah dengan negeri ini sehingga para wisatawan tidak mau datang? Karena saya hanya seorang konsumen pariwisata, maka saya akan mencoba melihatnya secara praktis dan tentu saja dari kacamata konsumen.

Menurut saya, syaratnya sederhana saja kenapa orang bisa datang ke suatu tempat untuk berwisata : Nyaman, murah dan menarik. Saya berbicara dalam konteks pariwisata secara umum, bukan secara khusus seperti backpacker, camping dan jenis pariwisata yang memiliki keinginginan khusus lainya.


Yang pertama nyaman, Kenapa nyaman?

Nyaman yang saya maksud tidak hanya nyaman itu sendir dalam artian harfiah tapi juga mudah untuk diakses.  Orang cendrung tidak akan  datang ke tempat yang sangat sulit dan butuh pengorbanan besar untuk kesana. Terlebih lagi fasilitas penginapan disana masih minim.

Kita ambil contoh Pulau Sempu. Kata orang yang sudah kesana, Pulau Sempu itu sangat indah. Tapi kenapa orang belum banyak kesana? Bahkan mungkin tau saja tidak tentang Pulau ini. Saya pikir karena memang tempat ini sulit diakses. Belum ada transportasi yang layak, disanapun belum ada penginapan. Bagaimana wisatawan bisa kesana? Tentu ini adalah hal yang mustahil

Ada beberapa faktor yang menentukan permasalahan kenyamanan ini. Hal yang paling utama adalah masalah transportasi dan akomodasi. Dua hal ini adalah dua syarat minimal suatu tempat nyaman untuk dikunjungi. Transportasi yang saya maksud di sini adalah transportasi umum.

Saya pikir pelaku bisnis transportasi dan akomodasi di Indonesia sudah banyak. Namun permasalahannya tidak ada standarisasi. Kembali saya ambil contoh Pulau Sempu. Mungkin sudah ada transportasi umum ke Pulau Sempu dari kota terdekat. Tapi apakah sudah layak untuk kebutuhan pariwisata? Belum lagi restoran. Apakah di tempat-tempat yang jauh disana sudah ada restoran yang layak bagi turis? Bagaimana kalau sehabis makan disana sakit perut?

Saya membayangkan ada soerang bule yang ingin melalukan perjalan backpacking keliling Jawa dari Bandung. Pertama ia ingin ke Semarang. Lalu ia pergi ke Terminal Bis Luwi Panjang. Begitu ia turun dari angkot di terminal, ia langsung diserbu oleh calo-calo tiket dari berbagai perusahaan bis. Karena kendala komunikasi dan nakalnya para calo ini, maka akhirnya ia salah naik bis dan akhirnya ia malah sampai ke Jogja. Apakah itu bisa dibilang nyaman? Jangankan nyaman, bisa saja sesuatu yang lebih buruk terjadi seperti bule tersebut kecopetan di terminal. Lalu bagaiman orang akan mau melakukan perjalan wisata di negara kita?

Kalau kita ambil contoh Pulau Phi Phi di Negara Thailand, walaupun pulau tersebut terpencil (jauh dari kota besar), tapi akses disana sangat baik. Banyak angkutan umum bus ke sana. Kapal untuk penyebrangan juga nyaman. Penginapan disana pun sangat mencukupi. Akibatnya ratusan turis asing setiap harinya datang dan pergi dari pulau ini. Kenapa kita tidak bisa membuat yang seperti ini.  Padahal kita punya puluhan bahkan mungkin ratusan pulau yang lebih indah dari ini. Kita bisa buat puluhan yang seperti itu di negara kita kalau kita mau.

Yang kedua menarik. Kenapa Menarik?

Orang tidak akan datang ke tempat yang tidak menarik. Kita harus pintar-pintar mengemas pariwisata kita. Ciptakan slogan dan merek pariwisata yang bagus. Ini memang soal marketing.  Merek Visit Indoensia 2008 saya pikir sudah baik.

Orang tidak akan tau keindahan Ujung Kulon jika tidak dilihatkan foto-foto pantai Ujung Kulon yang Indah. Orang tidak akan tau ada makhluk bernama Komodo di Pulau Komodo kalau kita tidak publikasikan. Barang-barang bersejarah juga hanya akan menjadi barang rongsokan kalau tidak kita kemas di museum menjadi sesuatu yang bisa dinikmati. Intinya adalah bagaimana kita membuat barang dagangan kita menarik sehingga orang tertarik untuk membelinya. Barang yang bagus jika tidak dikemas dengan baik juga belum tentu orang akan membelinya.

Hal yang paling penting dalam mengemas pariwisata adalah tentang informasi.  Para calon pariwisata harus dapat dengan semudah-mudahnya  dan selengkap-lepngkapnya mendapatkan informasi tentang tempat yang ia kunjungi  tentunya juga dengan menarik. Media termudah saat ini adalah internet. Kebanyakan orang saat ini menggunakan internet untuk mencari informasi. Kita bisa mulai dari sini. Semua informasi tempat pariwisata yang ada harus ada di internet. Termasuk tentang transportasi dan akomodasinya. Tentunya harus disajikan dan dikemas secara menarik agar orang tertarik.

Saya jadi teringat ada seorang teman saya yang ingin pergi ke Karimun Jawa. Saat itu ia sudah berada di Jogjakarta namun batal karena ia tidak mendapat informasi bagaiamana cara kesana. Jika orang Indonesia saja kesulitan mencari informasi, bagaiaman dengan turis asing?

Saya ambil contoh lain yaitu informasi tentang museum Konfrensi Asia Afrika (KAA) di Bandung. KAA adalah peristiwa international yang besar. Pasti banyak orang yang penasaran ingin datang ke museum ini. Tapi bagaimana kenyataannya? Museum ini sama sekali tidak menarik. Museum belumlah menjadi sesuatu yang dikemas sehingga bisa dijual. Bahkan saya yang sudah hampir empat tahun tinggal di Bandung tidak tahu apakah kita bisa mengunjungi museum ini.

Belum lagi kebudayaan. Kebuyaan tidak akan bisa dijual kalau kita tidak mengemasnya. Bahkan balapan sapi di Madura saja adalah sesuatu yang bisa kita jual kalau kita bisa mengemasnya dengan baik.
Coba saja anda googling tempat-tempat pariwisata yang anda ketahui. Apakah sudah tersedia informasi yang menarik? Atau bahkan belum ada informasinya sama sekali?

Terakhir murah. Kenapa Murah?

Pada dasarnya kalau kita punya banyak uang, kita bisa mencapai tempat manapun di dunia ini. Extremnya, kalau uang kita tidak terbatas, kita bahkan bisa mengunjungi semua pulau-pulau indah di Indoensia. Bahkan pulau-pulau yang tidak diketahui sekalipun. Indoensia punya ribuan pulau yang indah. Tinggal sewa kapal pesiar. Kita bisa tinggal di dalam sana.

Namun pada kenyataannya tidak seperti itu. Zaman sekarang justru kebanyakan wisatawan pergi dengan budget terbatas. Tentu biaya menjadi constrain yang penting. Oleh karena  menciptakan suatu kondisi agar orang dapat mengakses suatu tempat dengan murah menjadi penting. Pembangunan sarana prasarana dan infrastruktur menjadi penting.

Jika ketiga kata kunci tersebut bisa kita wujudkan di negara ini, maka saya yakin orang akan datang ke negara kita. Saya lihat daerah yang sudah mendekati hal ini adalah Bali. Hal ini karena Bali sudah memiliki masyarakat yang ‘nyambung’ dengan pasar pariwisatanya. Alhasil keadaan tersebut dengan sendirinya tercipta oleh masyarakatnya sendiri. Kalau ada yang bilang Bali bisa seperti itu karena alamnya indah dan kebudayaannya menarik, saya pikir tidak seperti itu. Kita punya banyak tempat yang lebih indah dari Bali. Kita juga punya puluhan kebudayaan yang juga unik seperti Bali. Tinggal mau atau tidak untuk menjualnya.

Apa yang saya tulis diatas hanyalah paparan secara praktis. Yang jelas saya pikir tiga kata kunci itu yang harus menjadi pedoman pemerintah dalam membangkitkan pariwisata Indonesia. Untuk mewujudkannya memang tidak sesedarhana itu. Diperlukan sinergi dari semua pihak di Indonesia, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta ataupun media massa.  Pemerintah sudah punya program Visit Indonesia 2008 tahun lalu. Namun saya pikir pelaksanaannya belum optimal. Yang banyak dilakukan hanyalah promosi dan pameran, namun sebenernya kita belum berbuat sesuat yang signifikan di negara kita sendiri.

Urusan pariwisata bukanlah suatu hal yang bisa diurus setengah-setengah. Pariwisata pada dasarnya bisa menjadi penyokong ekonomi suatu negara karena pariwisata berkaitan langsung dengan perdangagan. Banyak kota-kota besar di dunia hanya menggantungkan dirinya dari pariwisata.

Jika kita lihat Negara tetangga kita, sektor pariwisata menyumbang pendapatan kedua terbesar setelah manufaktur. Pada krisis 1998 lalu, negara Malaysia bahkan bisa bertahan karena sektro pariwisata. Thailand bahkan mencatat 11% pemasukan negaranya berasal dari sektor pariwisata (sekitar 16 miliar dolar AS).

Lalu kita bagaimana? Dengan semua potensi yang kita miliki tentunya kita bisa lebih dari itu. Bayangkan jika potensi pariwisata kita dikelola dengan baik, berapa devisa negara yang bisa dihasilkan.

Sudah saatnya kita serius mengelola kepariwisataan Indoensia.

NB : Data diperoleh dari berbagai sumber

3 thoughts on “Membangkitkan Pariwisata Indonesia

  1. bagus mas tulisannya

    tapi saya kurang setuju dengan yang murah mas, soalnya biasnaya kalau yang murah pasti tidak terawat

  2. setuju, bngett
    ada banyak tempat pariwisata di negara qt yg gak keurus hanya karena aksesibilitasnya yang kurang baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s