Sail Bunaken 2009 : Menado, The Smiling City (part 1)

Setelah sekian lama, akhirnya saya berkesempatan juga untuk menginjakkan kaki di Pulau Sulawesi. Kebetulan kota yang saya kunjungi adalah Menado di Sulawesi Utara. Saya ke Menado lagi-lagi bersama teman-teman saya dari Unit Selam Nautika ITB. Kami ke menado dalam rangka mengikuti salah satu rangkaian acara Sail Bunaken 2009. Unit Selam Nautika ITB, mewakili POSSI Jawa Barat ikut berpartisipasi dalam kegiatan pemecahan rekor penyelaman terbanyak (sekitar 2400-an orang) dan upacara hari kemerdekaan pertama di dalam laut.

Kota  Menado tidak terlalu besar jika dibandingkan Jakarta atau Bandung, baik dari populasi orang atau luas wilayah. Kemacetan di jalan raya jarang terjadi kecuali jika terdapat acara-acara khusus seperti Sail Bunaken ini. Pusat keramaian berada di kawasan Boulevard. Di Kawasan ini terdapat berderet-deret mall, pusat pertokoan, hiburan dan restoran. Selama di Menado rasanya tempat ini yang paling sering saya kunjungi. Kawasan Boulevard ini terletak di pinggir pantai. Kawasan ini merupakan kawasan reklamasi. Bagian belakang kawasan ini langsung berbatasan dengan laut.

Menurut saya, keindahan Kota Menado (selain cewe-cenya tentunya) terletak di kawasan ini. Kota Menado memiliki garis pantai yang sangat panjang. Garis pantai ini membentang mulai dari daerah sebelah timur Boulevard hingga ke Malalayang. Garis pantai ini menghadap ke barat dengan Tonjolan Menado Tua dan Bunaken sebagai foregroundnya. Kalau sunset pemandangan di sini luar biasa.

Mumpung belum terlalu ramai, saya pikir Pemerintah Kota Menado harus berhati-hati dalam menata daerah ini. Kalau tidak diatur dengan terencana dan tegas, daerah ini bisa semberawut. Restoran dan kaki lima akan tumbuh menjamnur dimana-mana. PemerintahKota Menado harus merencanakan dari awal daerah mana yang akan menjadi  restoran, mall, dan ruang terbuka, Bukan apa-apa, setiap ke daerah ini di kepala saya selalu terbesit bayangan bagaimana indahnya daerah ini jika sudah di tata dengan benar. Daerah ini punya potensi dahsyat untuk menjadi ikon Menado, atau setidaknya untuk Menjadi daerah yang selalu orang ingat jika ke Menado.

Yang saya suka di Menado adalah orangnya ramah-ramah dan murah hati. Mereka tak segan-segan untuk membantu. Berkali-kali urusan hajat hidup saya di Pulau ini terselesaikan oleh kebaikan orang Menado. Kemarahan ini bahkan dimiliki oleh supir angkot. Kalau di Bandung, saya cukup bermusuhan dengan supir angkot, maka di Menado lain cerita. Bahkan ada supir angkit yang mau untuk mengantarkan kita sampai ke depan pintu tujuan kita.

Masyarakat Menado sepertinya sadar betul betapa pentingnya para turis. Sektor pariwisata adalah salah satu sektor andalan yang menopang perekonomian masyarakat Menado. Entah bagaimana sejarahnya bisa berkembang sikap seperti ini di masyarakat Menado. Apa memang sudah menjadi watak asli orang Menado atau ini adalah hasil dari usaha pemerintah untuk memberikan pencerdasan kepada masyarakat Menado. Yang jelas, selayaknya seperti inilah Kota Turis. Orang-orang akan selalu merasa welcome jika kesini. Oleh karena ini lah Menado di juluki The smiling city,

Saya jadi teringat sebuah diskusi dengan teman-teman tentang bagaimana sebuah kota / tempat dapat menjadi sebuah destinasi pariwisata yang besar. Salah satu poin yang penting adalah bagaiamana agar masyarakat setempat menjadi ‘ngeh’ dan nyambung baik dengan pasar pariwisata. Hakikat dari ‘ngeh’ dan nyambung disini sebenrnya adalah masyarakat menjadi aware dan memiliki concern yang baik terhadap turis sehingga masyarakat dapat memberikan pelayanan dan kemudahan bagi orang-orang yang datang ke tempat mereka.

Di Menado sendiri saya tidak terlalu banyak mengunjungi daerah wisata. Saya hanya jalan-jalan di Kota Menado, mencoba beberapa kuliner khas Menado dan saya juga sempat ke Danau Tondano. Danau Tondana dapat dicapai sekitar satu jam perjalanan darat dari Menado. Untuk yang beragama muslim, hati-hati dalam berburu kuliner. Masakan Minahasa yang banyak di jual di Menado kebanyakan tidak bisa dimakan oleh orang muslim.

Well, mungkin ini pembahasan yang paling ditunggu-tunggu : tentang cewe Menado. Berita tentnag cewe Menado cantik-cantik memang bukan sekedar mitos belaka. Anda pasti tau Angelina Karamoy. Di Menado anda akan bertemu dengan banyak Karamoy-karamoy lainnya. Bahkan hingga di kota kecil seperti Tondano pun masih banyak terdapat Karamoy-Karamoy lainnya. Cantik yang dalam deskripsi kita biasanya identik dengan kulit mulus, putih, dan badan langsing merupakan karakteristik kebanyakan cewe-cewe minahasa. Kalau saya pemiliki production house, saya akan berkelana keliling Sulawesi Utara untuk mencari Karamoy – Karamoy lain untuk menjadi bintang film.

Hal yang unik disini adalah angkotnya. Angkot disini dinamakan Mikrolet. Kursinya juga tidak hadap-hadpaan seperti angkot yang biasa kita kenal . Kursinya semua menghadap depan sebanyak tiga baris dan hanya muat 8 orang penumpang. Sebuah angkit juga bisa menjalani lebih dari satu trayek. Sebuah mikrolet juga bisa saja sekonyong-konyong mengubah trayeknya (dengan mengganti papan trayek) jika ia tidak mendapat penumpang di trayek tersebut. Alhasil untuk trayek-trayek sepi, terutama di jam-jam sibuk, sangat sedikit mikrolet yang beroperasi. Akibatnya banyak penumpang yang terlantar.

Dari segi jumlah juga sebnarnya jumlah mikrolet  tidak sebanding dengan jumlah penumpang. Waktu jam-jam sibuk banyak penumpang yang tidak terlayani. Mungkin ini karena kapasitas mikrolet lebih sedikit dari angkot. Tapi hal ini terkompensasi dengan kenbyamanan naik mikrolet. Mikrolet jarang yang ngetem. Supir mikroletpun tidak setamak supir-supir di Jakarta dalam hal duit. Jika sekali jalan mikrolet sudah terisi penuh, maka mikrolet ini tidak akan ngetem lagi. Mikrolet hanya ngetem di spot-spot tertentu, setelah itu mereka akan baru ngetem kembali setelah semua penumpang turun. Hal unik lainnya adalah mikrolet disini modal semua. Hampir semnua memiliki sound system. Playernya pun kebanyakan tidak menggunakan CD atau kaset, tapi menggunakan flashdisk. Lagu-lagunya juga bisa dibilang cukup berkelas. Kapan lagi mendengar lagu Jamiruquai, celine dion, atau Mariah carey di angkot?

Seperti biasa, berikut saya lampirkan beberapa fot-foto yang berhasil di dapat

Pantai Malalayang Waktu Sunset

Pantai Malalayang Waktu Sunset

Berfoto di Depan Menado Town Square

Berfoto di Depan Menado Town Square

Sunset di Pantai Menado. Latar Belakang : Pulau Menado Tua dan Bunaken

Sunset di Pantai Menado. Latar Belakang : Pulau Menado Tua dan Bunaken

Cewe2 menado, mantap kali

Cewe2 menado, mantap kali

Berofoto di Pantai Malalayang Ketika Malam Hari

Berofoto di Pantai Malalayang Ketika Malam Hari

Coutersy foto  dari : Py, Arlin, Indra, Bu Tati

5 thoughts on “Sail Bunaken 2009 : Menado, The Smiling City (part 1)

  1. hmmm… interes.
    saya tinggal di manado sudah 25 tahun..
    apa yang di katakan emang benar…
    manado akan mrnjadi tujuan wisata fav turis manca ..
    klw domestik mungkin hanya cuci mata gadis2 manado hehehhehee…
    but must be careful… salah dapat, mampus lah..!!!
    dipelorotin habis2n… coz rata2 cewek manado terimbas kehisupan metro. yang hanya mengejar kesenangan…!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s