Iman, Permasalahan Hidup, dan Berserah diri

Iman yang Naik dan Turun

”Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah.” (HR Ibn Hibban)

Kadar keimanan kita dapat naik dan turun. Iman yang tidak dijaga dan diperbaharui dapat terkikis atau bahkan hilang.

Kadar keimanan naik ketika kita berada dalam ketaan. Taat artinya patuh. Taat merupakan kondisi dimana kita mengamalkan seluruh ajaran-ajran islam dengan baik. Yang terpenting, taat tidak hanya sekedar mematuhi perintahnya dan menghindari larangannya saja. Taat harus diiringi dengan pemaknaan bahwa kita adalah makhluk dan kepunyaannya. Tidak ada pilihan lain buat kita selain taat. Bahkan diri kita sendiri tidak memiliki hak terhadap diri kita.

Kadar keimanan turun karena kemaksiatan. Semakin sering kita melakukan kemaksiatan maka semakin terkikislah iman kita. Pada dasarnya kemaksiatan adalah manifesto dari ke-lupa-an kita dengan Allah. Kalau kita selalu ingat bahwa ada Allah yang Maha Tahu, maka niscaya kita tidak akan melakukan hal-hal yang dilarang-Nya. Kemaksiatan yang dimaksud disini dapat berupa kemaksiatan dalam bentuk apapun, bisa pandangan, pendengaran, atau bahkan pikiran.

Pilihan dan Masalah Hidup

Kata orang, hidup adalah soal pilihan. Memang, di dalam hidup kita selalu dihadapi oleh pilihan-pilihan yang harus kita ambil. Sering sekali pilihan sulit menghadang kita. Pikiran kita biasanya tersita oleh pertanyaan apakah benar pilihan yang saya ambil, apakah pilihan tersebut tepat untuk saya, apakah pilihan tersebut memang yang terbaik untuk saya. Tidak jarang dari kita yang bahkan terpaku hanya karena risau dan resah akan hal tersebut. Rasa resah dan khawatir ini lah yang memusingkan banyak orang.

Pertanyaan mengenai hal ini tidak ada habis-habisnya. Tidak jarang juga kerisauan tersebut terbawa bahkan ketika kita sudah memutuskan pilihan. Lebih jauh lagi banyak dari kita yang ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Bahkan tidak jarang kita menyesali pilihan yang telah kita ambil. Akibatnya, kita menjadi setengah-setengah, tidak bersemangat dan pesimistis dalam melaksanakan pilihan kita tersebut. Padahal tidak ada yang tahu apakah pilihan tesebut adalah pilihan yang terbaik atau tidak karena kita tidak tahu ujungnya dari masing-masing pilihan.Contoh hal diatas misalnya adalah dalam memilih jurusan di perguruan tinggi, memilih judul tugas akhir, memilih tempat kerja atau bahkan memilih pasangan hidup

Masih untung jika yang kita hadapi adalah sebuah pilhan. Kadang-kadag kita justru tidak mempunyai pilihan. Ada Hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi tanpa kita punya pilihan. Hal tersebut memang di luar kuasa kita untuk menentukannya. Hal tersebut biasanya berhubungan dengan kegagalan. Dalam kehidupan sehari-hari kita menyebutnya dengan musibah. Hal tersebut akan membuat kita merasa sedih, putus asa, atau bahkan takut menghadapi hidup ini. Contoh hal-hal diatas misalnya, kecelakaan, kehilangan dompet, gagal lulus dalam ujian masuk suatu perguruan tinggi, dan sebagainya.

Iman dan Berserah Diri

Dalam menjalani pilihan hidup, tidak sedikit orang yang ragu-ragu. Terus membahas apakah pilihan tersebut baik atau tidak untuknya. Padahal jelas itu bukan urusan kita karena memang kita tidak akan pernah tahu. Urusan kita adalah bagaimana kita menjalani pilihan tersebut. Tidak sedikit juga orang yang frustasi dalam menghadapi masalah. Kefrustasian ini tidak jarang membuat orang tersebut menuai kegagalan berikutnya yang lebih besar. Dalam kasus yang ekstrim kefrustasian ini dapat saja membuat orang tersebut menderita gangguan mental atau bahkan gila.

Hidup selayaknya dijalani dengan tenang, pikiran jernih, penuh tawakkal, dan keoptimisan. Dengan begitu tentunya kita akan lebih fokus dengan apa yang kita lakukan. Tidak ada beban pikiran yang menyangkut di kepala kita. Menyesali, merisaukan atau meratapi sesuatu hanya akan membuat apa yang kita lakukan tidak maksimal. Hanya merugikan diri sendiri. Tidak ada gunanya kita merisaukan hal yang bukan ranah kita untuk kita pikirkan.

Bagaiman kondisi tersebut tercapai?

Kondisi tersebut hanya bisa dimiliki oleh orang yang kadar imannya tinggi. Kadar iman yang tinggi akan menyebabkan kita sangat dekat dengan Allah. Kedekatan kita yang intens kepada Allah, akan semakin membuat kita paham akan posisi kita terhadap Allah.Karena sifat dasar manusia yang lemah, maka kedekatan dengan Allah ini akan otomatis menyadarkan kita akan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. Orang yang sudah berserah diri kepada Allah akan menyadari bahwa semua adalah milik Allah. Tidak ada pengetahuan bagi dirinya selaain pengetahuan dari Allah.

Oleh karena itu, ketika kita telah sangat dekat dengan Allah, apapun yang terjadi, kita akan merasa iklhlas. Tidak akan ada perasaan sedih atau kecewa yang berlebihan. Hal ini didasari oleh prasangka baik dan keyakinan kita bahwa kita selalu berada dalam jalan terbaik dan selalu dibimbing oleh-Nya. Hal ini dikarenakan kita meyakini bahwa apa yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah. Selanjutnya, Apapun yang terjadi, kita akan selalu bisa mengucapkan kata syukur. Hal ini lah yang akan menghilangkan rasa ragu, resah, was was, khawatir dan kecewa.

Q.S Lukman:22
“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah sedangkan dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah lah kesudahan segala urusan”

Q.S Al-Baqarah:112
“Barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang dia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. “

Jadi, ketika anda tertimpa masalah, maka dekatkan lah diri anda kepada Allah. Dengan begitu apapun yang terjadi atau apapun pilihan anda, anda tidak akan ragu, khawatir apalagi takut. Karena anda berada pada kondisi yang percaya sepenuhnya kepada Allah. Anda akan merasa di-backing oleh Allah. Anda akan percaya bahwa rencana yang telah disiiapkan oleh Allah indah pada akhirnya. Tentunya keadaan percaya ini tidak bisa didapat begitu saja apalagi dibuat2, akan tetapi harus melalui kondisi spiritiualitas yang baik.

Sejatinya, kedekatan kita dengan Allah ini tidak hanya kita coba raih pada saat kita tertimpa masalah, akan tetapi kita peliahara secara terus menerus. Kita jaga kadar keimanan kita agar tetap tinggi. Dengan demikian, kapanpun adan apapun pilihan dalam hidup kita, kita akan selalu siap. Kita tidak akan resah, ragu, khawatir atau takut, karena kita akan selalu (merasa) berada dalam bimbingannya. Bukankah sungguh nikmat menjalani hidup yang demikian? Hidup senang, terlebih lagi di ridhoi oleh Allah SWT.

la tahzan innallaha maana – Jangan sedih, sesungguhnya Allah bersama kita

Q.S Al-Fusshilat : 30
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”

*Dipersembahkan untuk semua teman-teman yang sedang dan akan bingung dalam mengambil sebuah keputusan penting (terutama yang pra dan pasca kelulusan) atau yang sedang tertimpa masalah dalam hidupnya

4 thoughts on “Iman, Permasalahan Hidup, dan Berserah diri

  1. terimakaasih banyak, inilah yang aku cari, untuk membangkitkan semangatku dan menghilangkan rasa gelisahku dan mengganggu pikiranku saat aku sedang mengalami masalah, seperti saat ini. Semoga Allah menjadikan ini sebagai amal baik anda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s