Jogja – Solo : Melihat Keajaiban Dunia (part. 1)

Sudah bertahun-tahun saya ingin pergi ke Yogyakarta dan Solo. Sudah dua dekade lebih umur saya, namun saya belum pernah mengunjungi daerah istimewa yang satu ini. Dua tahun yang lalu saya pernah sekali ke Yogyakarta, namun hanya beberapa hari dan tidak sempat ke mana-mana, hanya di sekitar UGM saja. Tidak terasa. Maklum, saya besar di Sumatera, kalau jalan-jalan lebih murah ke negara tetangga daripada ke Pulau Jawa.

Pada liburan Natal dan Tahun baru kali ini Alhamdulillah saya dan keluarga berkesempatan untuk berlibur ke Jogja dan Solo. Kami di berlibur selama tiga hari. Berikut sedikti cerita dan foto dari beberapa tempat yang kami kunjingi :

Borobudur

Saya ingatkan kembali bahwa borobudur pernah menjadi salah satu keajaiban dunia. Memang candi ini megah sekali. Bangunan candi ini juga bukan sembarang tumpukan batu-batu. Dalam pembangunannya, candi ini sudah menggunakan teknologi sederhana. Semua sudut, jumlah stupa, dan bermacam-macam besaran lainnya tidak sembarangan ditetapkan. Semuanya sinergis.

Tak terbayangkan oleh saya bagaimana pada zaman dahulu disaat belum ada alat ukur, belum ada rumus-rumus matematika, belum ada teori-teori konstruksi, tapi candi ini berhasil di bangun. Wajar memang kalau candi ini termasuk keajaiban dunia.

Di belahan dunia lain saya kira tidak ada candi yang sebesar ini. Di negara-negara yang banyak candi seperti Thailand, Kamboja, Laos, Cina ataupun Negara-Negara Indocina lainnyapun tidak ada yang sebesar ini. Saya kira candi yang besarnya bisa menyaingi Borobudur adalah Angkorwat di Kamboja, walaupun sebenarnya candi ini lebih mirip Candi Loro Jongrang.

Mengingatkan kembali pelajaran ketika kita di sekolah dulu, candi ini dibangun oleh Kerajaan Mataram Lama (Budha). Candi ini dibangun pada zaman Dinasti Syailendra dan selesai dibangun pada masa pemerintahan Raja Samaratungga. Sebenarnya banyak filosofi dan ajaran-ajaran yang ada di dalam bangunan candi ini, namun mohon maaf saya tidak akan membahasanya disni.

Setelah 22 tahun lebih menjadi warga negara Indonesia, baru kali ini saya sampai ke Borobudur. Suatu sejarah dalam hidup buat saya. Berikut beberapa foto yang berhasil diambil :

Kami sekeluarga di depan Borobudur

Pojok di Borobudur

Relief

Salah Satu Stupa

Stupa dengan latar belakang stupa utama

Stupa dengan latar belakang stupa utama

Biksu di Borobudur, lagi ziarah kali ya

Pengrajin Perak

Dalam perjalanan kembali ke Jogja, kami menyempatkan diri untuk melihat pembuatan kerajinan perak. Kami berkesempatan untuk mengunjungi workshop dan showroom-nya. Ternyata susah juga membuat kerajinan perak, butuh keterampilan dan kesabran. Kata orang sih kerajianan perak bagus untuk laki-laki, tapi saya tidak tertarik. Berikut beberapa fotonya :

Perak "dipintal" seperti benang

Setelah "dipintal", perak dibentuk dengan teliti, butuh keterampilan tinggi

Setelah dibenduk, perak dipanaskan

Agrowisata Salak Pondoh

Anda tentu pernah makan Salak Pondoh. Jenis salak ini paling populer di Indonesia. Dagingnya putih rasanya pun bukan main manis. Tapi tahukah anda dimana sumber bibit Salak Pondoh? Adalah di Desa Bangunkerto, Kecamatan Turi yang merupakan tempat asal Salak Pondok. Tempat ini terletak sekitar 25 km dari kota Jogja.

Di daerah ini banyak sekali terdapat perkebunan salak. Perkebunan salak ini mengingatkan saya kepada kebun kelapa sawit di Riau sana. Pasalnya pohonnya mirip. Pohon salak pondoh dapat berbuah setelah tiga tahun ditanam. Pohon akan berbuah setelah lima bulan saat penyerbukan. Penyerbukan pohon salak ini pun dilakukan dengan dibantu manusia.

Kami berkesempatan untuk main-main langsung ke kebun salak. Kalau makan Salak Pondoh  itu biasa. Tapi kalau memetik langsung dari pohon, membersihkan durinya sendiri, kemudian makan sesukanya sampai kenyang , itu yang hanya bisa anda dapatkan disini.

Begini ternyata Salak kalau di pohon

Mendengarkan penjelasan tentang salak sambil makan salak

Banyaknya buah salak, sampe eneg

Melihat Merapi

Jika anda pergi terus ke arah utara dari Jalan Kaliurang, maka anda akan sampai pada kaki gunung merapi. Disini banyak terdapat taman spot-spot indah untuk melihat merapi. Namun saying sekali ketika itu cuaca sedang hujan. Merapi pun tertutup kabut. Tak satupun gambar yang berhasil saya tangkap

Bertemu teman-teman

Malamnya saya menyempatkan diri kabur dari hotel dan bertemu teman-teman lama saya yang kuliah di Jogja. Terima kasih buat teman-teman yang telah rela menculik saya pada malam hari dari hotel🙂

Bertemu dengan sepupu yang orang Jogja, Mungkin sudah 15 Tahun tidak bertemu

Bersambung…

One thought on “Jogja – Solo : Melihat Keajaiban Dunia (part. 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s