Jogja – Solo : Ingin Jadi Raja (part. 2)

Di hari yang kedua ini, agenda kami adalah memutari kota Yogyakarta. Ketika itu Yogyakarta ramai bukan main. Plat kendaraan berinisial B ada dimana-mana. Tak beda dengan Bandung di kala week end. Berikut beberapa tempat yang kami kunjungi pada hari ke dua :

Taman Pintar

Mungkin konsep Taman Pintar ini seperti Science Center di Singapore atau Petronas Science Center di KL Twin Tower. Di sini, anda akan disuguhkan dengan berbagai macam pameran mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi. Anda akan melihat teknologi dari zaman purbakala hingga teknologi pada zaman modern sekarang ini. Pamerannya pun interaktif, anda tidak hanya melihat tapi bisa berinteraksi dengan apa yang anda lihat. Yang saya sangat sukai adalah di taman pintar ini terdapat sesi berjudul “Warisan Budaya Leluhur”. Disini ditampilkan kearifan-kearifan lokal Bangas Indonesia terutama yang berasal dari zaman dahulu.

Namun disamping itu, sangat disayangkan di beberapa tempat banyak alat-alat yang sudah rusak seperti tombol tidak berfungsi atau layar tidak menyala. Saya kira masalah ini sangat “Indonesia” dimana permasalahan terletak di manajerial pengelolaan.

Overall, saya sangat senang dengan pembangunan Taman Pintar ini. Sudah saatnya pariwisata kita tidak lagi hanya mengandalkan alam dan peninggalan sejarah saja, tapi kita ciptakan pariwisata tersebut dengan membangun situs-situs yang menarik untuk dikunjungi. Selamat untuk pihak-pihak yang telah turut berkontribusi dalam pembangunan Taman Pintar ini.

Gedung Utama Taman Pintar

Hall Utama di dalam Gedung Utama, tampak Mobil Toyota Inova di pamerkan

Generator Van de Graft, Salah Satu benda pamer

Sesi Zona Warisan Leluhur

Keraton Kesultanan

Tidak lengkap rasanya apabila ke Yogyakarta tanpa mengunjungi keraton. Bagi yang belum tahu, keraton adalah kompleks tempat tinggal raja yang masih asli sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan pecahan dari Kerajaan Mataram Islam yang masih bertahan sampai sekarang. Oleh karena sebab inilah Yogyakarta diberi status sebagai Daerah Istimewa. Raja kerajaan ini hingga sekarang turun temurun menjadi Gubernir Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Saya sangat terkesan dengan komplek Keraton ini, bukan terkesan karena kemewahan bangunan tempat tinggal raja, tapi justru karena kesederhanaannya. Tidak ada kesan mewah dari komplek kerarton ini. Penjagaannya saja tidak ketat selayaknya anda mau masuk rumah pejabat. Sangat berbeda dengan kebanyak rumah gubernur-gubernur di Indonesia yang terkadang jalan masuknya saja sudah 100 meter sendiri.

Saya pikir inilah model pemimpi seharusnya. Pemimpin seharusnya dekat dengan rakyat, bukan malah membatasi diri.  Driver kami juga bercerita bahwa bahkan sultan sering pergi ke kantor dengan bersepeda dari kediamannya di Kerarton hingga ke kantornya di Malioboro. Tidak ada perasaan takut bagi Sultan untuk terjun langsung ke rakyatnya karena memang pemimpin yang dekat dengan rakyat pasti dicintai rakyatnya. Sungguh berbeda dengan banyak pemimpin saat ini dimana untuk melakukan kunjungan di daerahnya sendiri saja perlu pengamanan yang super ketat. Empat jempol untuk Sultan.

Salah satu sudut keraton, langit-langit ruang tunggu tamu keraton

Gerbang Keraton

Di depan Pendopo Ageng

Seorang Abdi Dalem sedang Membaca Koran

Batik Motif Parang Rusak di Museum Kraton

Batik Motif Tambal Seling Gapit di Museum Kraton

Batik Motif Wahyu Tumurun di Museum Kraton

Taman Sari

Taman Sari merupakan tempat pemandian yang dibuat khusus untuk para selir raja. Taman Sari merupakan komplek dengan beberapa kolam yang mirip kolam renang. Pada zaman dahulu sepertinya komplek ini tergolong mewah, terlihat dari arsitekturnya yang tidak biasa.

Ada cerita menarik dari tour guide kami mengenai komplek pemandian ini. Konon pada zaman dahulu para wanita sebanyak 40 orang dikumpulkan dan diminta mandi di kolam tersebut. Raja kemudian “mengintipnya” dari sebuah menara pandang. Satu orang yang terpilih akan diajak raja mandi bareng secara privat.

Tempat ini juga kabarnya tidak diketahui oleh sang permaisuri. Pantas saja pos penjagaannya cukup ramai didepan sana. Pengamanan ketat memnag perlu untuk melindungi tempat rahasia ini. Lucunya, sepulang dari Taman Sari Mamah saya tiba-tiba menjadi galak, mungkin agak kesal mendengar cerita si tour guide. hehe

Anyway enak juga ya jadi raja. Hmm… ada yang berminat jadi raja?

Berfoto dengan latar belakang kolam dan menara 'ngintip' Raja

Komplek Pemandian Taman Sari dengan menara 'intip'

King's view, Kira-kira seperti ini pandangan ketika "mengintip", bayangkan saja ada 40 orang wanita dan anda dapat menunjuk salah satu untuk diajak mandi bareng, haha

Gerbang Depan Taman Sari, penjagaannya cukup ketat, untuk mengantisipasi inspeksi tiba-tiba dari permaisuri, haha

Dagadu

Anda tentu tahu Dagadu, merk dagang yang ketenarannya sudah mencapai taraf nasional (seperti Jogger dari Bali). Jogjakarta adalah asal dari merk dagang ini. Kami menyempatkan diri untuk mengunjugi outlet Dagadu ini.

Pabrik Bakpia

Kalau makan bapkia saja mungkin sudah sangat biasa. Tapi kalau makan bakpia panas-panas yang baru keluar dari panggangan langsung di pabriknya baru luar biasa. Rasanya berbeda kawan. Renyah-renyah kulit bakpia terasa sekali, ditambah dengan hangatnya keju atau coklat isi bakpia. Maknyus sekali.

Di Jogja kami menyempatkan diri untuk berkunjung ke pabrik bakpia. Kata ayah saya untuk menambah wawasan entepreneur. Di sini kita bisa melihat langsung bagaimana bakpia yang sudah sering kita makan dibuat. Pertama adonan isi bakpia (biasnya keju, coklat atau kacang hijau) dimaukkan kedalam adonan tepung kuliat bakpia yang telah sebelumnya di buat. Setelah rapi dibentuk, bakpia kemudia dipanggang dengan menggunakan arang asli. Setelah itu barulah bakpia di bungkus dan didistribusikan ke outlet-outlet.

Pekerja di Pabri Bakpia

Isi Bakpia Dimasukkan ke dalam Adonan kulit Bakpia

Bakpia Dipanggang dengar Arang

Bakpia Dipanggang dengar Arang

Pusat Kerajinan Kulit

Ini situs pariwisata yang cocok untuk orang tua yang ingin belanja. Saya tidak ingat nama daerahnya, namun letaknya ke arah Pantai Parangtritis dari Kota Yogyakarta. Di daerah ini banyak terdapat pusat-pusat kerajinan kulit. Kira-kira seperti Cibaduyut. Kalau kata Mama saya sih, harganya murah-murah. Kalau anda ingin belanja, tempat ini bisa jadi salah satu destinasi liburan anda.

Jaket, Tas dan Sepatu paling banyak dijual

Pantai Parangtritis

Menjelang malam, kami pergi ke arah selatan. Adalah Pantai Parangtritis yang kami cari. Tadinya kami mau melihat matahari terbenam di pantai ini. Namun lagi-lagi karena cuaca hujan deras, matahari tidak tampak sama sekali, terlebih lagi malah petir menyambar dimana-mana. Sayang sekali kami hanya melihat pantai ini dari jauh.

Dari pantai ini kami pergi ke Kampung Nelayan. Dalam perjalanan ke Kampung Nelayan kami melewati gurun pasir (gumuk). Gurun pasir ini mirip dengan yang terdapat di Timur Tengah sana. Katanya sih ini cuma satu-satunya yang ada di Indonesia. Gurun pasir ini juga beberapa kali menjadi lokasi shooting film yang berbau-bau Timur Tengah.Namun lagi-lagi karena hujan dan memang sudah malam kami hanya melihat dari dalam mobil dan tidak sempat mengambil gambar.

Di Kampung Nelayan kami makan ikan bakar. Ikan dipilih sendiri dan kemudian disantap bersama-sama. Maknyus kalau kata Om Bondan.

Pasar Ikan

Ada Ikan Bara Cuda Ternyata

Bertemu Pak Uwo, Bude, dan Kak Nadia

Bersambung…

5 thoughts on “Jogja – Solo : Ingin Jadi Raja (part. 2)

  1. “Mungkin konsep Taman Pintar ini seperti Science Center di Singapore atau Petronas Science Center di KL Twin Tower.” kenapa dibandinginnya sama LN? di jakarta kan juga ada PP IPTEK di taman mini

  2. itu tempat jual kulit yang ke arah pantai parangtritis mungkn daerah Manding. Daerah itu memang menjadi sentra kerajinan kulit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s