Jogja – Solo : Solo, World’s Heritage (part. 3)

Hari ketiga kami pergi ke Surakarta. Surakarta adalah nama lain dari Solo. Menurut mas-mas yang ada di keraton, solo dinobatkan oleh Unesco sebagai world’s heritage. Hal ini adalah satu-satunya di Indonesia. Bali yang sangat “etnik” saja tidak mendapatkan gelar ini. Solo dianggap sebagai tempat kebudayaan tertua di Indonesia yang masih eksis sampai saat ini.

Saya sangat menyukai kota solo ini. Jalannya lebar-lebar, banyak pohon-pohon besarnya. Pedagang kaki limanya pun terlihat cukup teratur. Kami tidak bermalam di sini. Pergi pada pagi hari dan pulang sore hari. Berikut beberapa tempat yang kami kunjungi :

Keraton Mangkunegara dan Pakubono

Di kota Solo terdapat dua keraton. Keraton yang pertama adalah keraton Pakubuono dan yang kedua adalah Keraton Mangkunegara. Keraton Pakubuono ini lebih dikenal dengan nama Kraton Kesunanan. Saya akan sharing cerita yang berhasil saya dapatkan ketika berkunjung kesana.

Semua Keraton tersebut sebenarnya adalah turunan dari Kerajaan Mataram Islam. Dahulu induk kerajaan ini, termasuk yang di Yogyakarta, adalah satu kerajaan. Induk kerajaan ini awalnya terletak di Kartasura. Suatu saat kerajaan yang di Kartasura ini bubar. Beberapa orang-orangnya melarikan diri ke Solo. Kemudian mereka mendirikan Kerajaan baru yang bernama Kesunanan Pakubuono. Disebut Kesunanan karena raja kerajaan tersebut dipannggil dengan sebutan Sunan. Sejak saat itu nama Solo berganti menajadi Surakarta (kebalikan dari Kartasura).

Suatu ketika salah satu putra mahkota dari Kesunanan Pakubuono difitnah. Beliau difitnah karena ada pihak-pihak yang ingin mengambil alih kerajaan. Akhirnya Putra Mahkota ini dibuang. Setelah beberapa lama, beliau kembali dan mendirikan Kerajaan Baru bernama Mangkunegara. Kerajaan Mangkunegara ini lah yang bertahan sampai sekarang. Ibu Tien Suharto merupakan salah satu keturunan dari kerajaan ini.

Dikisahkan bahwa kedua kerajaan ini selalu bersaing. Bahkan wilayah kerajaan pun dibagi dua dengan dibatasi Jalan Selamet Riyadi. Jalan Slamet Riyadi ke utara merupakan wilayah Kerajaan Mangkunegara, sementara Jalan Selamet Riyadi ke selatan merupakan wilayah Kesunanan Pakubuono.

Menurut cerita yang beredar, Kerajaan Kesunanan Pakubuono merupakan kerajaan yang bersikap koperatif dengan Belanda. Banyak petinggi-petinggi kerajaan yang dekat dengan Belanda. Hal ini membuat kerajaan ini kembali pecah. Orang-orang yang tidak setuju dengan hal ini melarikan diri ke Yogyakarta dan mendirikan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Disebut kesultanan karena raja dipanggil denga sebutan Sultan.

Berbeda dengan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Kesunanan Pakubuono dan Kerajaan Mangkunegara saat ini tidak memiliki hak politik apapun. Namun banyak keluarga-keluarga kerajaan yang saat ini berkecimpung di bidang politik. Sementara Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, karena kegigihan mereka melawan Belanda, diberi keistimewaan berupa hak politik untuk terus memimpin Provinsi DIY. Oleh karena itulah Yogyakarta diberi nama Daerah Istimewa.

Dadalam keberjalanannya, Kesultanan Ngayogyakarta pun pecah. Pecahan Kerajaan ini adalah Pakualam. Sampai saat ini Keraton Pakualam ini masih ada di Kota Yogyakarta, namun mungkin tidak sepopuler Keraton Kesultanan. Saat ini Pakualam menjadi Wakil Gubernur sementara Sultan menjadi Gubernurnya.

Di Solo, kami berkesempatan untuk mengunjungi dua keraton tersebut. Keraton ini letaknya tidak berdekatan. Namun karena berhubungan saya satukan saja ceritanya. Secara pribadi saya lebih suka Keraton Mangkunegara, lebih tenang dan nyaman. Keraton Pakubuono lebih ramai, mungkin karena letaknya dekat dengan alun-alun dan Pasar Klewer.

Di depan Pendopo Ageng Keraton Mangkunegara

Langit-langit Pendopo Ageng Mangkunegara

Ruang tunggu Keraton Mangkunegara

Selasar Keraton Kesunanan Pakubuono

Foto Sunan Pakubuono

Gerbang Depan Kesunanan Pakubono, tampak sebuah menara yang diceritakan sebagai tempat bertemunya Sunan dengan Nyai Roro Kidul (Astgfrllh)

Belanja Batik di Pusat Grosir Solo (PGS)

Setelah cape jalan-jalan di keraton, saat nya belanja baju batik. Kalau mau belanja batik ada dua tempat yang cukup besar. Yang pertama di Pasar Klewer, yang kedua di Pusat Grosisr Solo. Kalau di Pasar Klewer anda harus ngotot-ngototan harga dengan pedagang, salah-salah malah mahal jatuhnya. Belum lagi suasana pasar yang padat. Pusat Grosis Solo menawarkan suasana belanja yang lebih nyaman. Tentu dengan kompensasi harga yang lebih mahal. Harga Batik relatif murah, mulai dari 30 ribu.

Suasana di PGS

Motif batik di kaos

Desa Batik di Lawean

Pernah melihat orang membuat batik? Kalau belum tidak ada salahnya anda melihat pembuatan batik di Desa Laweyan. Pembuatan batik disni masih tradisional (skala rumahan). Tidak memakai mesin cetak ataupun cap. Lantas bagaimana proses pembuatan batik?

Pertama kain kosong (bisa putih atau berwarna) dilukis oleh seniman batik sesuai dengan motif yang diinginkan dengan menggunakan pinsil. Setelah itu, goresan pinsil tersebut ditulis kembali oleh malam (lilin). Malam berfungsi untuk menutup kain dasar sehingga kain dasar tidak ikut terwarna ketika diwarnai. Setelah itu barulah kain masuk dalam tahap pewarnaan. Kain diwarnai dengan menggunakan kuas. Setelah seluruh kain terwarwai, kain kemudian dilapasi suatu bahan (menurut mas2nya semcam fiber glass) agar warnanya menempel (tidak pudar). Setelah itu barulah lilin dihilangkan dengan cara kain batik direbus direbus. Warna dasar kain yang tadinya tertutup lilin kembali terlihat.

Kain dasar dilapisi oleh lilin (malam)

Setelah itu kain diwarnai dengan kuas

Setelah diwarnai, kain dilapisi bahan agar warnanya tidak hilang

Jadilah produk yang cantik, batik dengan gaya kontemporer

Bersambung…

4 thoughts on “Jogja – Solo : Solo, World’s Heritage (part. 3)

  1. orang solo pasti tahu akses jalan terbaik kan,kalo mau ke desa tempat pembuatan batik tulis asli solo dari terminal solo naik apa ya?.thx.minta tolong nama desanya juga ya…

  2. kalau pengen tahu sejarah yang validnya, bisa dibaca tentang perjanjian giyanti. Perjanjian ini memecah kerajaan mataram menjadi 2 bagian. Yang pertama di kasunanan surakarta, rajanya Paku buwono 3 (keturunan asli raja mataram). Yang kedua di yogyakarta, yang diangkat jadi raja adalah pangeran mangkubumi (sultan hamengku buwono 1).
    Setelah itu ada juga perjanjian salatiga yang akhirnya memecah kerajaan surakarta menjadi dua, kasunanan surakarta dengan mangkunegaran. cmiiw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s