Budget Traveling at Thailand : Flying without Wings (Part. 9)

Malam itu tidur saya nyenyak sekali. Selain karena memang badan saya sudah hancur juga besok pagi kami harus melanjutkan perjalanan ke Krabi. Mau tidak mau malam ini kami harus istirahat dengan baik. Pada pagi harinya kami bangun agak kesiangan, mungkin karena kelahan. Setelah beres-beres kami sarapan di restoran muslim tempat kami biasa makan. Ibu-ibu penjualnya tampak sudah hapal dengan kami. Sampai-sampai ketika kami selesai makan beliau mengatakan “see you tomorrow”. We’re sorry mam, we’re not gonna see you tomorrow, we’re going to cross the sea!

Kami pulang dengan jalur yang berbeda ketika kami datang. Kali ini kami menyeberang ke Krabi. Rencananya kami akan singgah disana beberapa hari dan kemudian kembali ke Bangkok dengan bis. Kantung kami terlalu tipis untuk tiket pesawat.

Krabi merupakan daerah yang merupakan daratan dari Semenanjung Malaya. Dari kepulauan Ko Phi Phi di tengah laut, akhirnya kami kembali ke daratan Benua Asia. Berdasarkan hasil googling kami di internet, di Krabi juga terdapat pantai yang tak kalah indahnya. Banyak sekali tur-tur di Thailand yang menawarkan paket wisata kesini.

Sekitar setengah 10 waktu setempat kami bertiga telah sampai di dermaga. Seperti biasa dari semua penumpang kapal ini hanya kamilah manusia berpigmen sawo matang. Kami memilih tempat di dek atas untuk menikmati matahari pagi. Sebenrnya ini bukan tempat untuk penumpang. Hanya selasar di pinggiran kapal yang dibatasi pagar. Kami duduk ngemper setengan tidur di lantai. Persis seperti TKI-TKI yang hendak pulang kampung.

Setelah sekitar 4 jam perjalanan, kapal kami akhirnya tiba di Krabi Port.  Di sekeliling pelabuhan pemandangannya hanya hutan bakau dan pantai berlumpur. Bayangan saya laut biru dan pantai berpasirlah yang akan menyambut kami.  Keluar dari pintu pelabuhan kami langsung naik bis ke sebuah terminal.

Saya pikir ini bukan terminal, tapi kantor travel agent. Sebenarnya saya tidak begitu mengerti bagaiaman transportasi di Krabi Port ini. Begitu kami keluar pelabuhan, hanya ada dua pilihan, carter mobil atau taxi dan naik bis. Saat itu hampir semua turis langsung rebutan masuk ke dalam bis bertutujuan “Krabi Town”,  “Ao nang” dan “Railay”. Tidak ingin kehilangan momen, kami pun ikut-ikutan berdesak-desakan ke dalam bis.

Di kantor travel agent tersebut kami ditanya destinasi kami. Antara “Krabi Town”,  “Ao nang” dan “Railay”. Sejujurnya kami kurang detail dalam mencari informasi tentang Krabi. Tidak seperti sebelum kami ke Phuket atau Ko Phi Phi dimana bahkan kami sudah mencari informasi lokasi tersedia makanan halal. Karena kami hanya punya satu keyword : “Krabi”, maka akhirnya kami memilih Krabi Town.

Cukup lama kami menunggu angkutan ke Krabi Town. Ketika itu kami sempat bebincang-bincang dengan seorang Swedish. Kami dan dia sama-sama ingin ke Krabi Town. Si Swedish akan menyusul teman-temannya yang sudah terlebih dahulu berada di Krabi Town. Ia sempat bercerita kalau ia pernah ke bali. Ia sangat menyukai Indonesia, tidak seperti negerinya yang pada suatu musim, matahari tidak pernah tenggelam dan berada terus-terusan di horizon. Suhu udara di daerahnya pun cukup ekstrim, -20 derajat di daerah utara dan 5 derajat di daerah selatan. Bersyukurlah kita sebagai orang Indonesia yang dikaruniai alam yang indah dan loh jinawi.

Siang itu luka saya terasa sangat nyut-nyutan. Cairan bening yang entah cairan apa mengocor terus. Perihnya pun bukan main. Luka ini membuat saya tidak bisa lama-lama berdiri. Si swedish kaget bukan main melihat luka saya. Dahinya mengerut, alisnya menajam dan matanya menyipit. Ekspresi jijik terlukis di mukanya. Mungkin dalam pikirannya saya terkena semacam borok atau kusta. Melihat ekspresi yang demikian, kontan saya langsung menjelaskan kalau saya terkenan accident di Phuket. Barulah mimik mukanya kembali seperti biasa.

Hampir satu jam kami berbincang-bincang akhirnya angkutan kami ke Krabi Town datang juga. Kami naik semacam mobil elf. Mobil penuh dengan kami bertiga dan beberapa bule yang ingin ke Krabi Town. Satu jam perjalanan kami tempuh untuk sampai ke Krabi Town.

Mi baso Thailand

Kami terheran-heran begitu sampai di Krabi Town. Ternyata Krabi Town hanya sebuah kota kecil di pinggir pantai. Kota ini sepi sekali. Tak terdapat kerumunan wisatawan atau bahkan penduduk setempat. Jalan yang lebar-lebar membuat suasan semakin terlihat sepi. Bangunan di kota ini juga terlihat sudah tua dan usang.

Sepanjang jalan hanya terdapat ruko-ruko yang kebanyakan adalah sebuah toko. Toko-toko yang ada juga hanya variasi show room motor, toko elektronik, minimart, restoran dan sesekali travel agent. Pantainya juga pantai bakau yang berlumpur seperti di pelabuhan. Kemana pantai-pantai indah yang fotonya  saya lihat di buku dan internet?

Setelah saya baca kembali kitab suci perjalanan kami, ternyata pantai-pantai indah tersebut terdapat di Ao Nang dan Railay. Ao Nang dan Railay lah sebenarnya tujuan kami. Inilah kesalahan terfatal dari traveling. Tidak mencari informasi secara detail tentang daerah tujuan wisata. Mengutip kata Moslih Eddin Sadad dalam buku Traveler’s Tale, “A travller without observation is like a bird without wings”. Bagaimana hendak terbang kalau sayap saja tidak punya?

Ao Nang berjarak 22 km dari Krabi Town, sementara Railay agak lebih jauh sedikit. Sebenarnya bisa saja ke Ao Nang pulang pergi dalam satu hari dari Krabi Town.  Tapi akhirnya kami pasrah saja untuk stay di Krabi Town, karena ternyata fisik kami pun telah lelah, dan yang paling penting kantong kami sudah mau bolong. Kami sudah dapat penginapan murah di sini, terlebih kalau kesana pasti butuh biaya ekstra lagi. Lagian kami merasa petulangan kami kemarin sudah lebih dari cukup. Sekarang kami pengen leyeh-leyeh.

Krabi Town sepertinya hanya tempat persinggahan saja. Kebanyakan turis hanya melepas lelah untuk kemudian melanjutkan perjalanan lagi. Ko Samui di Teluk Thailand adalah daerah yang banyak dituju. Yang menarik di tempat ini hanya sebuah kuil dan port kecil di pinggir delta sungai. Pada sore hari penduduk lokal berkumpul disini untuk menikmati suasana sore. Sedangkan pada malam hari, daerah sekitar port berubah menjadi pasar kaki lima. Pasar kaki lima ini seperti pasar kaki lima di balubur, namun versi yang lebih massive-nya.

Menunggu Sore di dermaga

Berbagai macam makanan dijual disini, mulai dari chinese food, ayam bakar, cendol-cendolan, kolak, goreng-gorengan, sate dan sebagainya. Ternyata disni tak sulit mencari makanan halal. Sepanjang kami berkeliling, tak terhitung tulisan halal yang kami lihat. Bahkan banyak ibu-ibu si penjual yang berkerudung. Kami memilih salah satu kaki lima yang ada tulisan halal-nya. Lucunya ternyata ada pelayan yang keturunan Jawa. Mereka menyebutnya dengan kata “Jawi”. Dan tentu saja dia bisa berbahasa melayu walaupun tidak begitu lancar.

Pasar malam kaki lima

Bersambung…

Duduk di pinggir kapal,di gang,ngobrol,kayak tki ilegal,bercanda,hamjah sama huda nyambunng,termal sock,sudu apalah,mereka nyambung,fakultas yg sama,candaan anak itb

7 thoughts on “Budget Traveling at Thailand : Flying without Wings (Part. 9)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s