Budget Traveling at Thailand : Menunggu Pulang di Bangkok (Part. 10, Selesai)

Besoknya adalah jadwal bis kami ke Bangkok. Jadwal bis agak sore, sehingga siangnya kami sempat berjalan-jalan melihat kota. Yang menarik perhatian disni hanyalah sebuah kuil di atas bukit. Saya pikir kuil ini satu-satunya landmark Krabi Town. Arsitektur kuil ini cukup unik, di bagian atapnya terdapat struktur runcing-runcing seperti api. Terdapat juga tangga yang cukup panjang untuk naik ke kuil ini. Seperti istana keramat di dalam film-film cina.

Setelah puas melihat-lihat, kami menghabiskan waktu dengan pergi ke warnet untuk mengecek email dan sedikit chatting dengan teman-teman hanya untuk dengan noraknya sekedar bilang  “Halo, gua lagi di Thailand nih”. Sekitar pukul 3 sore kami dijemput dari hotel. Kami dibawa ke (lagi-lagi) kantor travel agent untuk menunggu bis. Setengah jam menunggu akhirnya bis kami datang. Bis yang kami naiki tujuannya ke Surathani.

Bis yang kami naiki kali ini adalah angkutan rakyat. Bisnya tidak begitu bagus, tapi untungnya masih ber AC. Jarak antara tempat dudukpun begitu rapat. Kalau biasanya angkutan yang saya naiki isinya bule semua, namun tidak kali ini. Kami menyampur dengan orang-orang lokal. Sekilas saya melihat ibu-ibut Thai mencium sebuah botol kecil untuk mencerah mabok darat. Kadang baunya tercium, tapi baunya aneh sekali, tidak seperti bau caplang. Sesekali juga terdengar lelaki Thai yang berbicara di telepon genggam dengan suara sekeras-kerasnya sambil tertawa terbahak-bahak. Tak sengaja saya mendengar orang bule yang duduk di depannya menggerutu karena terganggu dengan suara bising si lelaki Thai. Bis ini juga memungut dan menurunkan penumpang di jalan. Seperti bis Damri.

Kami jalan menelusuri jalan provinsi di Thailand Selatan. Sepanjang jalan dipenuhi oleh kebun kelapa sawit. Sering terlihat mobil-mobil dual cabin yang body-nya dipenuhi oleh lumpur. Mobil jenis ini sepertinya digunakan sebagai transportasi di areal perkebunan. Tanahnya juga tanah merah. Kalau anda pernah mengunjungi Provinsi Riau, saya kira pemandangannya tidak jauh berbeda dengan daerah-daerah rural di sana. Saya pikir Pesisir Timur Sumatra dan Semenanjung Malaya memiliki karakteristik yang tidak jauh berbeda.

Sekitar pukul 7 malam kami sampai di Surathani. Surathani adalah kota terbesar di Thailand Selatan. Semua transportasi di Thailand selatan pasti transit di daerah ini. Di sini penumpang bis terpecah, ada yang ke Ko Samui dan ada juga yang melanjutkan perjalanan ke Bangkok. Di Surathani kami berganti bis. Kali ini kami naik bis dua tingkat seperti ketika kami datang ke Phuket. Kebetulan yang melanjutkan ke Bangkok hanya 6 orang : kami bertiga dan 3 orang bule lainnya.

Bis praktis kosong. Kami duduk sendiri-sendiri pada satu ruas kursi sehingga kaki kami bisa selonjoran. Suasana semakin sempurna ketika film Jarhead ditayangkan di tv flat di depan kami. Nikmatnya, ketika badan super cape kami malah bisa beristirahat semaleman  dengan nyaman di bis.

Kami tiba di bangkok sekitar pukul 4 subuh. Jalanan masih sepi. Tampak para pedagang baru mulai berjualan.  Kami tidak tahu saat ini kami berada di bagian mana Kota Bangkok.Kami diturunkan di pinggir jalan begitu saja. Ada papan nama jalan memang, tapi tetap saja mencari nama tersebut di selembar peta yang sebesar tiga kali kertas A4 bukan sesuatu yang mudah. Mau tanya, tanya ke siapa? Sulit mencari orang yang bisa berbahasa inggis pagi-pagi begini. Toko-toko belum ada yang buka.

Akhirnya kami tertolong dengan nama sebuah kuil. Tak sulit menemukan nama kuil, karena biasanya kuil punya tanda yang jelas dan besar di peta. Kami akhirnya berjalan ke arah pusat kota. Sebenernya kami ingin naik taksi atau tuk tuk. Tapi pergi kemana juga tidak tahu. Semua toko dan restoran masih tutup. Hotel pun belum waktunya check in. Terpaksa kami berjalan saja terus, itung-itung ngabisin waktu dan menghemat biaya.

Setelah satu setengah jam jalan kaki, akhirnya kami sampai di daerah tempat hotel kami menginap ketika sebelum kami pergi ke Phuket. Kami memang berencana menginap di daerah sana lagi. Selain di pusat kota dan murah, daerah ini juga relatif bersih dari prostitusi. Kami dateng ke hotel sekitar pukul 8. Jelas kami blum bisa masuk kamar. Kami hanya membayar DP dan menitipkan barang bawaan.

Pagi itu kami hanya membuang waktu saja di pinggiran jalan Bangkok, pergi ke 7 Eleven untuk membeli sarapan, kemudian duduk di pinggir jalan melihat penduduk Bangkok sibuk di awal hari. Sekitar jam 12 kami check in di hostel. Hari itu kami tidur seharian.  Sungguh benar-benar terasa nyenyak tidur kami ketika itu. Sepertinya kami memang benar-benar butuh istirahat. Pada malam harinya kami pergi mengunjungi pasar malam. Pasar malam yang kami kunjungi kali ini berbeda dengan yang pertama kami kunjungi dulu.

Menunggu dan Membuang Waktu, Selalu menjadi bagian dari Backpacker

Ketika malam hari, di Bangkok banyak bermunculan pasar malam. Biasanya lokasinya dekat denga stasiun BTS Sky Train. Pasar malam ini adalah pusat keramaian kalau hari sudah larut. Kami hanya window shoping saja. Barang yang dijual tidak jauh berbeda dengan tempat-tempat lainnya. Barang yang paling populer adalah celana boxing. Thailand memang sangat terkenal dengan olahraga Thai Boxingnya. Barang lainnya yang bnayak di jual adalah pernak-pernaik berbau Thailand seperti gantungan kunci, tempelan kulkas, stiker dan sebagaianya.

Masih ada sisa dua hari lagi sebelum jadwal penerbangan kami kembali ke Jakarta. Dua hari itu kami habiskan ngalor-ngidul di kota Bangkok untuk mencari oleh-oleh. Sebenernya kami ingin kembali ke Grand Palace dan masuk ke istana raja, tapi apa daya, tak ada lagi dana tersisa.  Masuk kesana cukup mahal, sekitar 350 Bath.

Keluar masuk stasiun sky train, pasar malam, mall adalah kegiatan yang kami lakukan tiap harinya. Alhasil mau tidak mau kami menjadi sering mengamati kehidupan urban Bangkok. Satu hal yang cukup menarik perhatian saya ketika itu adalah remaja dan orang-orang muda laki-laki Bangkok. Kalau saya perhatikan orang muda laki-laki disini sangat senang berdandan atau kalau bahasa populernya metroseksual.

Berambut panjang dengan potongan ala boyband korea, celana ketat cut brai ala bintang film jadul, kemeja dengan kancingnya terbuka hingga dada, dan aksesori seperti gelang dan kalung adalah gaya standar yang sering saya lihat di mall. Yang anehnya lagi entah kenapa perawakan mereka banyak sekali yang gemulai. Mungkin saking metroseksualnya hingga mereka menjadi ke-cewe-cewe-an. Mungkin dari sini asalnya banci Thailand yang terkenal itu.

 

Mejeng di Siam Paragon Mall

Fountain Show di depan Siam Pargon

 

Depan Siam Paragon lagi, mau imlek

Makan-makan

Kalau saya perhatikan, penetrasi budaya luar, terutama dari Jepang dan Korea, memang sangat gencar disini. Di mall-mall saja, lagu yang ketika itu sangat populer dan selalu diputar diamana-mana adalah lagu dari grup vokal Korea Wonder Girls yang judulnya No Body. Lagu ini kami dengar dimana-mana, dari warnet, speaker mall, hingga tv-tv lebar di tempat umum.  Saking seringnya diputar,  saya kira awlanya mereka adalah penyanyi Thai. Berikut saya lampirkan video clipnya, saya kira ini lagi ini adalah soundtrack kami di Bangkok.

Kalau melihat kehidupan malam di Bangkok, western-isasi ini lebih terasa lagi. Kata orang, Bangkok memang terkenal dengan kehidupan malamnya. Ketika malam tiba, di Bangkok banyak sekali bar-bar atau restoran-restoran yang menjadikan wanita sebagai daya tarik. Dan ini tidak dilakukan disuatu lokalisasi yang khusus, tapi begitu saja di berbagai tempat di tengah kota. Di pasar malam dekat stasiun BTS Sala Daeng adalah salah satunya.

Ketika kita turun dari stasiun BTS, kita sudah ditawari berbagai macam “live show”.  Saya tidak tahu secara persis  ini pertunjukan apa, tapi yang pasti ini pertunjukan yang menghadirkan wanita-wanita berbaju minim. Belom lagi banyak sekali orang-orang yang menawarkan DVD film-film dewasa Thai. Sebagai lulusan sekolah islam tentu saja semua tawaran itu saya acuhkan. Di sekitar pasar malam ini juga banyak sekali terdapat bar-bar yang menghadirkan pertunjukan tari oleh perempuan berbaju minim, ya tidak perlu lah saya bahas lebih lanjut hal ini.

Akhirnya tiba hari dimana jadwal pesawat pulang kami. Dengan semangat kami segera berkemas. Kami check out dari hotel sekitar pukul 3 sore. Kami langsung menuju Suvarnabhumi International Airport dengan menggunakan bis umum. Bis umum disini ternyata nyaman. Bersih dan teratur. Penumpangnya kebanyakan anak sekolah dan orang kantoran yang tinggalnya di daerah sub urban disekitar Bangkok. Waktu itu kebetulan memang jam pulang kantor.

Di airport kami segera check in dan langsung masuk ruang tunggu. Pesawat take off sekitar pukul 9 malam dan tiba di Jakarta pada tengah malam. Di Sukarno Hatta kami dijemput oleh Ibu dan Abangnya Hudan.

Di kamar hostel, menjelang pulang

Bath

Lays

Foto di bandara sebelum pulang

Akhirnya berakhir sudah perjalanan 2 minggu kami menelusuri Thailand. Tidak semua bagian Thailand memang, hanya bagian selatan, itu juga tidak semua bagian selatan. Lain kali kalau ada waktu dan dana tentunya, saya ingin kembali lagi ke Thailand, terutama ke Ko Phi Phi. Saya ingin lebih lama menikmati keindahan lautnya.

“A nice place is a place where we alwasy want to go back there” – Anonim

-Tamat, tulisan ke 10 dari 10 tulisan-

3 thoughts on “Budget Traveling at Thailand : Menunggu Pulang di Bangkok (Part. 10, Selesai)

  1. “Sebagai lulusan sekolah islam tentu saja semua tawaran itu saya acuhkan.”
    Gua suka bagian itu Cap….. Hehehe…

  2. i love it. kemarin sya backpacker’an jg k sana. tersesat di krabi town..tapi suasananya yg tenang nyaman banget. next time bakalan balik k sana..but stay at ao nang kaya’nya.. nice trip u guys..salam kenal sebelumnya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s